Pentingnya Literasi Keuangan bagi Mahasiswa di Era Digital
Oleh: Muhamad Fahrezi Albhana*
Literasi keuangan mahasiswa (jurnalistiwa)
Di era digital seperti sekarang, gaya hidup konsumtif dan kemudahan dalam melakukan transaksi semakin berkembang. Oleh karena itu, kemampuan mengelola keuangan menjadi hal yang penting bagi mahasiswa.
Dengan mengatur keuangan dengan baik, mahasiswa dapat belajar menabung, menghindari pengeluaran yang tidak perlu, serta mempersiapkan kebutuhan di masa depan.
Tantangan Gaya Hidup dan Jerat Kemudahan Transaksi
Salah satu alasan mahasiswa mudah menjadi konsumtif adalah keinginan untuk mengikuti tren yang sedang berkembang. Selain itu, faktor pergaulan juga dapat memengaruhi gaya hidup mahasiswa. Ada mahasiswa yang merasa perlu mengikuti gaya hidup kelompoknya agar dapat diterima dalam lingkungan pergaulan.
Hal tersebut dapat terlihat dari cara berpakaian, barang yang digunakan, maupun kebiasaan dalam menghabiskan uang.
Kemudahan transaksi digital juga dapat membuat mahasiswa lebih mudah mengeluarkan uang. Saat ini, membeli barang atau melakukan pembayaran dapat dilakukan hanya melalui smartphone.
Kondisi tersebut memang memberikan kemudahan, tetapi jika tidak disertai dengan pengelolaan keuangan yang baik, mahasiswa dapat melakukan pengeluaran secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang lebih penting.
Di samping itu, hadirnya berbagai layanan kredit instan seperti PayLater dan pinjaman online (pinjol) semakin memperbesar godaan bagi mahasiswa. Kemudahan mengakses dana tambahan hanya dengan hitungan menit sering kali membuat generasi muda terjebak dalam ilusi daya beli yang tinggi.
Tanpa literasi keuangan yang memadai, mahasiswa rentan terlilit utang di usia muda hanya demi memenuhi gaya hidup atau sekadar Fear of Missing Out (FOMO), yang pada akhirnya dapat mengancam kelancaran studi dan kesehatan mental mereka.
Langkah Praktis Membangun Kebiasaan Finansial
yang Sehat
Menurut saya, mahasiswa dapat mengurangi perilaku konsumtif dengan mengatur keuangan secara jelas dan sesuai dengan kebutuhan. Mahasiswa juga sebaiknya tidak membandingkan kondisi keuangannya dengan orang lain karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda.
Selain itu, tidak semua tren harus diikuti, terutama jika hanya untuk memenuhi keinginan. Mahasiswa juga perlu meningkatkan literasi digital agar dapat menggunakan teknologi dan berbagai layanan digital dengan lebih bijak.
Mengatur keuangan tidak harus dimulai dari hal yang besar. Mahasiswa dapat memulainya dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran sehari-hari, menentukan kebutuhan yang harus diprioritaskan, serta menyisihkan sebagian uang untuk ditabung.
Dengan cara tersebut, mahasiswa dapat mengetahui ke mana uang digunakan dan lebih mudah mengendalikan pengeluaran.
Selain sekadar menabung, literasi keuangan yang baik juga mendorong mahasiswa untuk mulai mengenal konsep dana darurat dan pengelolaan aset sejak dini. Menyisihkan uang untuk dana darurat akan sangat berguna saat menghadapi situasi tak terduga, seperti biaya kesehatan mendadak, tugas akhir, atau kerusakan laptop yang vital untuk perkuliahan.
Mengembangkan kebiasaan ini membuat mahasiswa lebih tangguh secara finansial dan tidak panik ketika dihadapkan pada kebutuhan mendesak yang tidak tercover oleh uang bulanan rutin.
Kemampuan mengatur keuangan sejak masa kuliah juga dapat membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi berbagai kebutuhan di masa depan. Pengeluaran menjadi lebih terarah sehingga uang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang telah direncanakan.
Kebiasaan tersebut dapat membantu mahasiswa mengambil keputusan keuangan dengan lebih bijak.
Pada akhirnya, literasi keuangan merupakan kemampuan yang penting bagi mahasiswa di era digital. Kemudahan teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk membantu mengelola keuangan, bukan justru membuat seseorang semakin konsumtif.
Dengan membiasakan diri mengatur keuangan sejak kuliah, mahasiswa dapat menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan dan lebih siap menghadapi kebutuhan di masa depan.(r/lk)