KtHx54QkBr383xDR2xK8jWF4FPsDN0wkvFCwXh9V
Bookmark

Peran Mahasiswa Biologi dalam Mengatasi Pencemaran Sungai Akibat Sampah Plastik

Petugas membersihkan sampah di Sungai (Antara)
Oleh: Nadia Nur Safitri*

Sungai-sungai di Indonesia, tak terkecuali di Yogyakarta, kini tengah menghadapi krisis yang mengancam urat nadi kehidupan ekosistem perairan: tirani sampah plastik. Membuang sampah ke sungai seolah masih menjadi kebiasaan usang yang dinormalisasi oleh sebagian masyarakat. 

Padahal, ketika plastik terbawa arus dan menumpuk, persoalannya tidak berhenti pada pemandangan yang kumuh atau banjir luapan semata. Ancaman terbesarnya justru tidak kasatmata.

Berbagai riset telah membuktikan hal ini. Salah satunya adalah penelitian dari mahasiswa UGM yang menemukan paparan mikroplastik pada air dan endapan sedimen di aliran Sungai Opak–Oyo, Yogyakarta. 

Temuan ini adalah alarm bahaya. Plastik yang terdegradasi menjadi partikel mikroplastik akan tertelan oleh ikan dan organisme air lainnya, masuk ke dalam rantai makanan, dan pada akhirnya berakhir di tubuh manusia. 

Realitas ini menegaskan bahwa persoalan sampah bukan lagi sekadar masalah kebersihan tata kota, melainkan krisis kelestarian lingkungan dan ujian atas tanggung jawab kita sebagai warga negara.

Bagi mahasiswa Biologi, sungai yang tercemar bukanlah sekadar objek keprihatinan, melainkan panggilan tugas. Ilmu hayat yang kita pelajari di ruang kuliah dan laboratorium harus mampu diejawantahkan menjadi solusi konkret di masyarakat. Setidaknya, ada tiga peran strategis yang bisa dan harus diambil oleh mahasiswa Biologi.

Pertama, menjadi agen advokasi berbasis sains. Mahasiswa Biologi dibekali kemampuan untuk melakukan biomonitoring. Kita dapat turun langsung melakukan pengamatan kualitas air, mengidentifikasi organisme yang menjadi indikator pencemaran, memetakan titik-titik krusial, hingga mengambil sampel mikroorganisme. 

Data-data ilmiah dan pemetaan ini sangat penting untuk disajikan kepada publik dan pemerintah daerah sebagai bukti valid mengenai seberapa parah kerusakan ekosistem yang sedang terjadi.

Kedua, menggerakkan aksi kolektif dan kolaborasi. Teori ekologi mengajarkan tentang simbiosis, dan di kehidupan sosial, kita mengenalnya sebagai gotong royong. Mahasiswa Biologi harus mampu menggandeng masyarakat, pemerintah, sekolah, dan komunitas peduli lingkungan. 

Sebuah preseden baik telah tercipta pada Juli 2026 lalu, di mana lebih dari 600 mahasiswa berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat dan Polri untuk membersihkan Sungai Code. Aksi masif tersebut sukses mengangkat berton-ton limbah plastik, styrofoam, popok bayi, hingga kemasan makanan. Ini membuktikan bahwa saat mahasiswa turun gunung, energi perubahan itu benar-benar ada.

Ketiga, menjadi ujung tombak edukasi pencegahan. Harus kita sadari, mengandalkan kegiatan "bersih-bersih sungai" saja ibarat mengepel lantai yang basah tanpa menutup keran air yang bocor. Solusi jangka panjangnya ada pada pencegahan dari sumbernya.

Mahasiswa Biologi memikul tanggung jawab untuk mengedukasi masyarakat mengenai dampak fatal plastik bagi ekosistem perairan. Kampanye pengurangan plastik sekali pakai, edukasi pemilahan sampah dari rumah, hingga mendorong perubahan kebiasaan konsumtif masyarakat harus terus digaungkan.

Pada akhirnya, menyelesaikan masalah pencemaran sungai membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan pemerintah; ia menuntut perubahan paradigma peradaban. Mahasiswa Biologi memiliki posisi yang unik karena kita mampu menggabungkan rasionalitas ilmu pengetahuan, kepedulian lingkungan yang tulus, dan semangat gotong royong. 

Mengaplikasikan ilmu Biologi untuk menjaga denyut nadi sungai tetap bersih bukan hanya bentuk pengabdian akademik, melainkan manifestasi paling luhur dari tanggung jawab kita sebagai warga negara yang mencintai Tanah Airnya.

Referensi: 

  • Polri Jogja. (2026). Ratusan Mahasiswa Bersihkan Sungai Code, Polri Tekankan Pentingnya Kepedulian Bersama. Tribrata News Yogyakarta.
  • Antara News. (2026). Saatnya Kampus Membawa Perubahan dalam Persoalan Sampah.
Penulis adalah Mahasiswa Prodi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar