Pendidikan Multiliterasi sebagai Kebutuhan di Era Perubahan
![]() |
| Pendidikan multiliterasi |
Oleh: Siti Khumayro*
Literasi pada zaman sekarang tidak lagi cukup dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Perkembangan teknologi, internet, media sosial, dan perubahan cara berkomunikasi membuat manusia perlu memiliki kemampuan yang lebih luas, yaitu memahami, memilih, menilai, dan menggunakan informasi secara tepat.
Hal ini menjadi semakin penting karena informasi dapat diperoleh dan disebarkan dengan sangat cepat.
Pemahaman tersebut saya peroleh setelah membaca buku Pendidikan Multiliterasi karya Dr. Sudirman, S.E., M.Pd. dan Mahfuzi Irwan, S.Pd., M.Pd. Buku ini menjelaskan bahwa literasi berkaitan dengan interaksi manusia terhadap pengetahuan dan informasi serta mencakup berbagai bentuk, seperti literasi manusia, teknologi, digital, media, budaya, kesehatan, dan lingkungan.
Pembahasan ini menunjukkan bahwa
literasi sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari membaca berita,
mencari materi kuliah, menggunakan aplikasi, hingga memahami informasi
kesehatan dan aturan di masyarakat.
Dalam kehidupan mahasiswa, kebutuhan tersebut semakin terlihat. Aktivitas perkuliahan, komunikasi, organisasi, dan pencarian sumber belajar banyak menggunakan teknologi digital. Namun, banyaknya akses informasi tidak otomatis menunjukkan kemampuan literasi yang baik. Seseorang dapat aktif menggunakan media sosial tetapi tetap mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya.
Karena itu, literasi juga membutuhkan
kemampuan berpikir kritis, seperti memeriksa sumber, membandingkan informasi,
memahami isi, dan mempertimbangkan dampak penggunaannya.
Buku Pendidikan Multiliterasi juga menegaskan bahwa literasi teknologi bukan sekadar kemampuan mengoperasikan handphone, laptop, atau aplikasi. Kemampuan tersebut perlu disertai dengan kemampuan bertanya, menarik kesimpulan, menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya, serta menafsirkan dan mengevaluasi informasi.
Hal ini relevan dengan kondisi saat ini, terutama ketika keamanan data
pribadi dan penyebaran informasi yang tidak benar menjadi bagian dari kehidupan
digital.
Saya juga membandingkannya dengan buku Pendidikan Berbasis Multiliterasi: Menyiapkan Generasi Baru yang ditulis oleh Desca Angelianawati dan kawan-kawan. Buku tersebut lebih menekankan hubungan multiliterasi dengan pendidikan, khususnya pembelajaran abad ke-21, strategi pengajaran, teknologi, inklusivitas, evaluasi, dan implementasi multiliterasi. Kedua buku tersebut saling melengkapi.
Buku pertama memberikan
gambaran luas mengenai bentuk dan penerapan literasi dalam kehidupan, sedangkan
buku kedua memperlihatkan bagaimana konsep multiliterasi dapat diterapkan dalam
dunia pendidikan.
Multiliterasi menurut saya tidak hanya dibutuhkan oleh guru dan peserta didik, tetapi juga oleh mahasiswa dan masyarakat secara umum. Masyarakat saat ini berhadapan dengan berbagai bentuk informasi, seperti teks, video, gambar, infografis, dan media sosial. Tantangannya adalah tidak semua orang memiliki kemampuan dan kebutuhan literasi yang sama.
Dalam konteks Pendidikan Masyarakat, program literasi perlu
disesuaikan dengan kondisi sasaran. Ada masyarakat yang membutuhkan literasi
digital, kesehatan, lingkungan, budaya, maupun literasi yang mendukung kegiatan
ekonomi dan kehidupan sosial.
Perkembangan teknologi juga memberikan
peluang besar bagi pendidikan karena sumber belajar menjadi lebih beragam
melalui buku digital, jurnal, video pembelajaran, dan berbagai platform
pendidikan. Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi kemampuan memilih sumber
yang dapat dipercaya. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperluas
pembelajaran, bukan membuat seseorang menerima semua informasi tanpa melakukan
pemeriksaan.
Menurut saya, pendidikan berbasis multiliterasi juga perlu membangun kebiasaan berpikir kritis. Peserta didik tidak cukup hanya menghafal informasi, tetapi perlu belajar mencari, memahami, membandingkan, dan menggunakan informasi.
Pembelajaran dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana, misalnya membandingkan dua sumber berita, menarik kesimpulan dari grafik, membuat poster, atau menyampaikan pendapat berdasarkan informasi yang telah dipelajari.
Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya
berpusat pada teks, tetapi juga melatih kemampuan memahami berbagai bentuk
informasi.
Pada akhirnya, setelah membaca dan membandingkan kedua buku tersebut, saya memahami bahwa multiliterasi merupakan kemampuan yang semakin dibutuhkan dalam kehidupan saat ini.
Literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi mencakup kemampuan memahami informasi, menggunakan teknologi, berkomunikasi, berpikir kritis, memahami budaya, menjaga lingkungan, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan.
Bagi
saya, keberhasilan pendidikan berbasis multiliterasi bukan terletak pada
seberapa banyak istilah literasi yang dapat dihafal, melainkan pada seberapa
jauh kemampuan tersebut digunakan secara nyata. Jika diterapkan sesuai
kebutuhan masyarakat, literasi dapat menjadi bekal penting untuk menghadapi
perubahan dan menjalani kehidupan secara lebih bijak.(s/lk)
