KtHx54QkBr383xDR2xK8jWF4FPsDN0wkvFCwXh9V
Bookmark

Pendidikan Multiliterasi sebagai Upaya Membentuk Generasi Adaptif di Era Digital

Pendidikan Multiliterasi (Jurnalistiwa)
Pendidikan merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia karena melalui pendidikan, seseorang dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kemampuan berpikirnya. 

Oleh: Amanda Granesia br Ginting*

Seiring dengan perkembangan zaman, pendidikan tidak lagi cukup jika hanya berfokus pada kemampuan membaca dan menulis secara konvensional. Peserta didik juga perlu memiliki kemampuan untuk memahami, mengolah, dan menggunakan berbagai jenis informasi yang diperoleh dari media cetak maupun digital. 

Dalam hal ini, penerapan konsep pendidikan multiliterasi menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran.

Urgensi dan Konsep Pendidikan Multiliterasi di Era Digital 

Berdasarkan pemikiran Sudirman dan Irwan (2023) serta Angelianawati et al. (2025), dapat dipahami bahwa multiliterasi merupakan pendekatan pendidikan yang bertujuan menyesuaikan proses pembelajaran dengan perubahan kebutuhan masyarakat. 

Pendidikan tidak hanya berfokus pada kemampuan peserta didik dalam memahami teks, tetapi juga diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, menggunakan teknologi, dan memahami berbagai bentuk informasi yang ada di lingkungan sekitar.

Pendidikan multiliterasi merupakan salah satu solusi yang relevan untuk menghadapi tantangan pendidikan pada masa sekarang. Perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia memperoleh informasi dan berkomunikasi. 

Saat ini, peserta didik dapat mengakses informasi melalui buku, internet, video, media sosial, gambar, dan berbagai platform digital lainnya. Namun, kemudahan dalam memperoleh informasi tidak selalu diikuti dengan kemampuan untuk memahami dan menilai keakuratan informasi tersebut.

Dalam hal ini, pendidikan multiliterasi memiliki peran penting dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya mampu menerima informasi, tetapi juga mampu menganalisis dan menggunakannya secara bijak. 

Peserta didik perlu diajarkan cara membedakan informasi yang benar dan salah, memahami tujuan suatu informasi, serta tidak langsung mempercayai berita yang belum terbukti kebenarannya. Kemampuan ini sangat diperlukan karena banyaknya informasi yang beredar di media digital dapat memberikan dampak positif maupun negatif.

Dari buku Pendidikan Multiliterasi, saya memahami bahwa literasi dalam pendidikan memiliki cakupan yang luas. Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap berbagai simbol, bahasa, media, teknologi, dan situasi sosial.

Pandangan ini sangat relevan dengan kondisi pendidikan saat ini karena proses pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Sementara itu, buku Pendidikan Berbasis Multiliterasi: Menyiapkan Generasi Baru menjelaskan pentingnya pendidikan multiliterasi dalam mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman. 

Generasi masa kini membutuhkan berbagai keterampilan, seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan pemanfaatan teknologi. Oleh karena itu, pembelajaran seharusnya tidak hanya berfokus pada hasil ujian, tetapi juga pada kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan di kehidupan nyata.

Transformasi Metode Pembelajaran dan Tantangan Implementasi

Menurut saya, penerapan pendidikan multiliterasi harus disertai dengan perubahan metode mengajar yang digunakan oleh pendidik. Pendidik tidak seharusnya hanya menjadi sumber utama informasi, tetapi juga berperan sebagai fasilitator yang membimbing peserta didik dalam mencari, mengolah, dan menyampaikan informasi.

Sebagai contoh, dalam proses pembelajaran, peserta didik dapat diberikan tugas untuk mencari informasi dari beberapa sumber, membandingkan informasi tersebut, kemudian menyampaikan hasilnya melalui presentasi, poster, video, atau karya tulis. 

Kegiatan seperti ini dapat membuat proses pembelajaran menjadi lebih aktif dan menarik. Peserta didik juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreativitasnya. 

Selain itu, kegiatan pembelajaran berbasis multiliterasi dapat mendorong peserta didik untuk bekerja sama dengan teman-temannya sehingga kemampuan sosial dan komunikasi mereka juga dapat berkembang.

Namun, menurut pendapat saya, penerapan pendidikan multiliterasi masih menghadapi beberapa tantangan. Tidak semua sekolah atau lembaga pendidikan memiliki fasilitas teknologi yang memadai. 

Masih terdapat pendidik yang belum terbiasa menggunakan media digital dalam proses pembelajaran. Peserta didik juga memiliki tingkat akses teknologi yang berbeda-beda, terutama antara mereka yang tinggal di daerah perkotaan dan mereka yang tinggal di daerah dengan keterbatasan jaringan internet.

Sehingga pendidikan multiliterasi perlu diterapkan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan pendidikan. Pendidikan multiliterasi tidak selalu membutuhkan teknologi yang canggih.

Kegiatan seperti mengamati lingkungan, berdiskusi, membuat proyek, memahami budaya lokal, dan memecahkan masalah sosial juga dapat menjadi bagian dari pembelajaran multiliterasi. 

Hal yang paling penting adalah bagaimana peserta didik dapat memahami informasi dari berbagai sumber dan menggunakannya untuk menghadapi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

Perluasan Multiliterasi dalam Pendidikan Masyarakat dan Persiapan Generasi Masa Depan

Dalam konteks Pendidikan Masyarakat, pendidikan multiliterasi juga memberikan manfaat yang besar. Masyarakat membutuhkan kemampuan literasi untuk meningkatkan kualitas hidup, mengembangkan keterampilan kerja, memahami informasi kesehatan, menggunakan teknologi, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial. 

Oleh karena itu, pendekatan multiliterasi dapat diterapkan dalam kegiatan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), program pelatihan masyarakat, kegiatan pemberdayaan, dan pendidikan orang dewasa.

Berdasarkan pembahasan dari kedua buku tersebut, saya menyimpulkan bahwa pendidikan multiliterasi merupakan pendekatan pendidikan yang penting untuk diterapkan dalam menghadapi perkembangan zaman. 

Literasi tidak lagi hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, menggunakan teknologi, berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, dan memecahkan masalah.

Menurut pendapat saya, pendidikan multiliterasi dapat berkontribusi dalam membentuk generasi yang lebih mandiri, kreatif, kritis, dan mampu beradaptasi terhadap perubahan. Namun, keberhasilannya membutuhkan dukungan dari pendidik, lembaga pendidikan, pemerintah, keluarga, dan masyarakat. 

Dengan penerapan yang tepat, pendidikan multiliterasi tidak hanya dapat meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga mempersiapkan individu untuk menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan nyata.(r/lk)

Referensi

  • Angelianawati, Desca, Tatik Mariyatut Tasnimah, Arini Hidayah, Febriyanti Dwiratna Lestari, Mashuri, Ika Oktaria Cahyaningrum, Sulis Tia Ningrum, Nurhidayati, Rukmana Fachrul Islam, dan Dimas Adika. (2025). Pendidikan Berbasis Multiliterasi: Menyiapkan Generasi Baru. PT Akselerasi Karya Mandiri.
  • Sudirman, & Irwan, M. (2023). Pendidikan Multiliterasi. Kencana.

Penulis adalah Mahasiswa Prodi Pendidikan Masyarakat, Kelas Penmas Bilingual, Universitas Negeri Medan.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar