KtHx54QkBr383xDR2xK8jWF4FPsDN0wkvFCwXh9V
Bookmark
banner

Bukan Tidak Tahu, tetapi Tidak Mau Memeriksa: Mengapa Hoaks Masih Mudah Dipercaya?

Fakta dan Hoaks (jurnalistiwa)

Di era digital di mana kebenaran sebenarnya hanya berjarak satu klik saja, musuh terbesar kita bukanlah ketidaktahuan, melainkan keengganan untuk berhenti sejenak dan memeriksa fakta sebelum menekan tombol "bagikan".

Oleh: Tandia Maya Lutfiya*

Di era ketika informasi dapat tersebar hanya dalam hitungan detik, kemampuan untuk membedakan antara fakta dan hoaks menjadi semakin penting. Sayangnya, kecepatan menerima informasi sering kali tidak diikuti dengan kemauan untuk memeriksa informasi tersebut. 

Satu informasi dapat muncul di media sosial, masuk ke grup percakapan, kemudian dibagikan ke banyak orang. Masalahnya, tidak semua informasi yang beredar merupakan informasi yang valid.

Pertanyaannya, mengapa informasi hoaks mudah dipercaya ketika akses untuk memeriksa kebenaran informasi sebenarnya sudah semakin mudah?

Kebiasaan dan Celah Kritis di Era Digital

Salah satu alasannya adalah kebiasaan masyarakat dalam menerima informasi. Banyak orang terbiasa membaca judul atau melihat potongan video tanpa mencari tahu sumber dan konteksnya. 

Informasi yang terlihat menarik, mengejutkan, atau sesuai dengan apa yang sudah dipercayai seseorang juga lebih mudah diterima begitu saja.

Hasil Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 yang diterbitkan Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan bahwa 30,3 persen responden belum mampu memastikan kredibilitas sumber informasi di media digital. Selain itu, 28,8 persen responden belum mampu memverifikasi kebenaran informasi yang diperoleh secara online. 

Data tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi belum selalu diikuti dengan kemampuan untuk menilai informasi secara kritis.

Manipulasi Teknologi dan Peran Emosi

Masalahnya semakin kompleks karena perkembangan teknologi membuat hoaks tidak lagi sekedar berupa tulisan atau gambar sederhana. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat digunakan untuk menghasilkan gambar, suara, maupun video yang terlihat seperti asli. 

Komdigi menyebutkan bahwa perkembangan generative AI membuat disinformasi dapat diproduksi dengan lebih cepat, dalam jumlah besar, dan semakin sulit dibedakan dari informasi asli.

Beberapa kasus pada 2026 menunjukkan hal tersebut. Pada Juli 2026, Komdigi menemukan video yang seolah-olah menampilkan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik sedang menawarkan bantuan modal usaha dan pembayaran utang. Setelah diperiksa, suara dalam video tersebut terindikasi dibuat menggunakan AI. 

Pada September 2026, ditemukan pula video yang memanipulasi pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa sehingga seolah-olah ia menyampaikan pernyataan yang tidak pernah disampaikan. 

Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa persoalan hoaks bukan hanya tentang apakah masyarakat mengetahui atau tidak mengetahui mengenai literasi digital. Persoalannya juga terletak pada kemauan untuk memeriksa informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.

Sering kali seseorang sebenarnya memiliki kesempatan untuk melakukan pemeriksaan terhadap informasi yang beredar. Ia dapat mencari berita dari media lain, melihat sumber asli, memeriksa tanggal publikasi, atau mencari informasi melalui situs resmi. 

Namun, semua itu membutuhkan sedikit waktu dan kemauan. Ketika seseorang langsung menekan tombol “bagikan” tanpa melakukan pemeriksaan, informasi yang belum tentu benar dapat menyebar semakin luas. 

Isi informasi juga berpengaruh. Informasi yang dapat membuat seseorang merasa marah, takut, senang, atau merasa sesuai dengan pendapatnya cenderung lebih menarik perhatian. Akibatnya, seseorang dapat lebih fokus pada perasaan setelah membaca informasi daripada mempertanyakan apakah informasi tersebut benar.

Budayakan Berhenti Sejenak Sebelum Berbagi 

Karena itu, melawan hoaks tidak cukup hanya dengan meminta masyarakat untuk lebih pintar dalam menggunakan internet. Yang dibutuhkan adalah kebiasaan sederhana untuk berhenti sejenak dan melakukan pemeriksaan sebelum mempercayai serta membagikan informasi.

Masyarakat dapat memulainya dengan memeriksa siapa sumber informasi, kapan informasi tersebut dibuat, serta apakah media atau lembaga terpercaya juga memberitakan hal yang sama. Foto dan video juga tidak seharusnya langsung dianggap sebagai bukti karena teknologi memungkinkan sebuah konten yang dimanipulasi. 

Jika informasi terasa terlalu mengejutkan atau terlalu sesuai dengan apa yang ingin dipercaya, justru informasi tersebut perlu diperiksa lebih hati-hati.

Pemerintah dan platform digital juga memiliki tanggung jawab dalam hal ini. Literasi digital tidak cukup hanya dibicarakan ketika hoaks sedang ramai. Masyarakat perlu terus dibiasakan untuk mengenali sumber yang kredibel, memeriksa informasi, dan berpikir kritis sebelum mempercayainya. 

Platform digital juga perlu memperkuat sistem untuk mengenali dan memberi tanda pada konten yang telah dimanipulasi. Komdigi menyebut penguatan literasi digital, pelabelan konten sintetis, dan pengembangan teknologi untuk membantu mendeteksi konten AI sebagai bagian dari upaya menjaga integritas informasi. 

Pada akhirnya, derasnya informasi bukan alasan untuk menerima semuanya tanpa pemeriksaan. Semakin cepat informasi menyebar, semakin penting bagi masyarakat untuk memiliki kebiasaan berpikir sebelum membagikannya.

Hoaks mungkin tidak akan hilang sepenuhnya. Namun, penyebarannya dapat dikurangi jika masyarakat tidak hanya bertanya, “Apakah informasi ini menarik?”, tetapi juga bertanya, “Dari mana informasi ini berasal dan apakah sudah terbukti benar?”

Pada akhirnya, melawan hoaks tidak selalu membutuhkan langkah yang rumit. Kadang, yang dibutuhkan hanya satu hal sederhana: jangan langsung percaya dan jangan langsung membagikan. Berhenti sebentar, cek sumbernya, lalu tentukan apakah informasi itu memang layak dipercaya atau tidak.

Referensi

  • Kementerian Komunikasi dan Digital. (2025). Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025. Sumber resmi IMDI 2025
  • Kementerian Komunikasi dan Digital. (2026, 9 April). Komdigi Siapkan Strategi AI Nasional untuk Lawan Disinformasi dan Jaga Kepercayaan Publik. Sumber resmi Komdigi
  • Kementerian Komunikasi dan Digital. (2026, 13 Juli). [HOAKS] Dirjen Bimas Katolik Tawarkan Bantuan Modal Usaha dan Bayar Utang. Sumber resmi Komdigi
  • Kementerian Komunikasi dan Digital. (2026, 23 September). [HOAKS] Purbaya Dipecat karena Bongkar Kerugian BUMN. Sumber resmi Komdigi.
Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar