KtHx54QkBr383xDR2xK8jWF4FPsDN0wkvFCwXh9V
Bookmark

Partisipasi Politik Mahasiswa di Era Digital: Antara Kesadaran Kritis dan Sekadar Ikut-Ikutan

Partisipasi politik mahasiswa (Jurnalistiwa)

Oleh: Ilham Ayudi Hidayat*

Setiap kali sebuah isu politik muncul, linimasa media sosial hampir selalu ramai dalam hitungan jam. Mahasiswa membagikan unggahan, menulis komentar, dan memasang tagar, seolah-olah seluruh kampus sedang bergerak bersama. 

Pemandangan ini tampak menggembirakan, karena anak muda terlihat peduli pada persoalan bangsa. Namun, di balik keramaian itu muncul pertanyaan mendasar: apakah semua itu lahir dari kesadaran kritis, atau sekadar ikut-ikutan arus yang sedang ramai? 

Menurut saya, teknologi digital memang membuka ruang partisipasi seluas-luasnya, tetapi kualitas partisipasi tetap bergantung pada literasi politik dan kemampuan berpikir kritis, bukan pada banyaknya aktivitas di dunia maya.

Peluang Era Digital dan Jebakan Bias Informasi

Tidak dapat dimungkiri bahwa era digital memberi banyak peluang bagi mahasiswa. Informasi tentang kebijakan publik kini bisa diakses hanya dengan beberapa sentuhan di layar ponsel. Mahasiswa dapat menyuarakan pendapat tanpa harus menunggu undangan forum resmi, berdiskusi lintas daerah, dan menggalang perhatian pada isu yang mereka anggap penting. 

Akses yang dahulu terbatas kini terbuka bagi siapa saja. Dalam pengertian ini, media digital telah menurunkan hambatan untuk berpartisipasi dan memperluas jumlah orang yang ikut membicarakan urusan bersama.

Meski demikian, kemudahan itu membawa persoalan tersendiri. Arus informasi yang deras tidak selalu diiringi kemampuan memilah mana yang benar dan mana yang menyesatkan. Kabar yang belum jelas kebenarannya dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasinya. 

Algoritma media sosial juga cenderung menampilkan konten yang sejalan dengan pandangan kita, sehingga terbentuk ruang gema yang membuat seseorang merasa pendapatnya paling benar dan jarang bertemu sudut pandang berbeda. 

Di sisi lain, muncul kebiasaan yang kerap disebut "slacktivism", yaitu merasa sudah berpartisipasi hanya dengan menekan tombol suka atau membagikan unggahan, padahal tidak ada pemahaman mendalam maupun tindakan nyata sesudahnya.

Faktor psikologis turut berperan. Banyak mahasiswa merasa harus bersuara agar tidak dianggap ketinggalan zaman atau acuh tak acuh, sehingga sikap diambil lebih karena rasa takut tertinggal daripada keyakinan pribadi. 

Dalam situasi seperti ini, pendapat orang lain mudah dijadikan patokan, dan pertanyaan penting seperti apa dasar argumennya atau apa dampaknya bagi masyarakat sering terlewat. Akibatnya, diskusi menjadi dangkal dan lebih sibuk pada siapa yang paling lantang daripada siapa yang paling beralasan.

Membedakan Kesadaran Kritis dan Sekadar Tren

Di titik inilah perbedaan antara kesadaran kritis dan ikut-ikutan menjadi penting. Mahasiswa yang berpartisipasi dengan kesadaran kritis akan memeriksa sumber informasi sebelum menyebarkannya, memahami duduk perkara suatu isu, dan menyampaikan pendapat dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. 

Ia berani berbeda pandangan, tetapi tetap menghargai pihak lain dan terbuka pada data baru. 

Sebaliknya, partisipasi yang sekadar ikut-ikutan bergerak karena tren, tekanan pergaulan, atau takut dianggap tidak peduli. Pelakunya mungkin tampak aktif, tetapi sulit menjelaskan apa yang diperjuangkan dan mengapa. 

Partisipasi semacam ini mudah dibelokkan dan mudah pula ditinggalkan ketika arus perhatian beralih ke isu lain.

Melangkah dari Dunia Maya Menuju Aksi Nyata

Partisipasi yang bermakna juga tidak berhenti di layar. Dunia digital seharusnya menjadi pintu masuk, bukan tujuan akhir. Mahasiswa yang kritis akan menindaklanjuti kepeduliannya lewat tindakan yang nyata dan damai, seperti mengikuti diskusi di kampus, menulis opini, menyampaikan aspirasi melalui jalur yang tersedia, atau terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan. 

Dengan cara ini, kepedulian tidak menguap bersama berakhirnya sebuah tren, melainkan berubah menjadi kontribusi yang manfaatnya bisa dirasakan banyak orang.

Organisasi kemahasiswaan dan ruang kelas juga dapat menjadi tempat berlatih. Diskusi terbuka, debat yang sehat, dan kajian kebijakan publik mengajarkan mahasiswa untuk menyusun argumen, mendengarkan lawan bicara, dan menerima kritik. 

Kebiasaan ini membentuk kedewasaan berpolitik, yakni kemampuan berbeda pendapat tanpa saling merendahkan. Kemampuan semacam itu tidak lahir dari sekadar menggulir layar, tetapi dari pengalaman berdialog secara langsung dan berkelanjutan.

Karena itu, tanggung jawab utama ada pada diri mahasiswa sendiri untuk membiasakan sikap tabayyun, yakni memeriksa kebenaran kabar sebelum menyikapinya. Satu langkah sederhana seperti membaca isi berita secara utuh, membandingkannya dengan sumber lain, dan bertanya apakah suatu klaim didukung data dapat mencegah kita menjadi penyebar kekeliruan. 

Kampus pun memiliki peran penting dengan menyediakan ruang diskusi yang sehat, kegiatan kajian, dan pembelajaran yang melatih daya nalar, sehingga mahasiswa terbiasa menimbang persoalan dari berbagai sisi. Pendidikan yang baik tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga warga negara yang melek politik dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, ukuran partisipasi politik mahasiswa bukanlah seberapa sering ia muncul di linimasa, melainkan seberapa dalam ia memahami dan seberapa bertanggung jawab ia bersikap. Era digital adalah alat yang netral: ia bisa memperkuat demokrasi bila digunakan dengan nalar, dan bisa melemahkannya bila digunakan tanpa pertimbangan. 

Mahasiswa memiliki kesempatan besar untuk menjadi penggerak yang kritis, asalkan mau terus belajar, memeriksa, dan berpikir sebelum bertindak. Dengan begitu, partisipasi yang lahir bukan sekadar ramai, melainkan bermakna bagi kehidupan berbangsa.(r/lk)

Penulis adalah mahasiswa Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar