KtHx54QkBr383xDR2xK8jWF4FPsDN0wkvFCwXh9V
Bookmark

Konstruksi Sosial Makna Transenden Masyarakat Modern Tanpa Agama


Oleh: Novi Sumyardi*

Di tengah kehidupan modern yang semakin rasional, ilmiah, dan digital, kebutuhan manusia akan makna tidak serta-merta menghilang ketika keterikatan terhadap institusi agama melemah. Sebagian orang yang tidak lagi berafiliasi dengan agama tetap mencari tujuan hidup, pedoman moral, rasa keterhubungan, dan harapan ketika menghadapi penderitaan, ketidakpastian, atau kematian. 

Dalam konteks ini, makna transenden dapat dipahami sebagai pengalaman yang melampaui kepentingan diri sendiri dan rutinitas sehari-hari, misalnya melalui kepedulian terhadap sesama, pelestarian alam, apresiasi terhadap seni, pengembangan ilmu pengetahuan, dan pengabdian sosial.

Pengalaman tersebut memungkinkan manusia merasakan bahwa kehidupannya memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar pencapaian material, status sosial, atau kepuasan pribadi. 

Dengan demikian, melemahnya afiliasi keagamaan tidak selalu berarti hilangnya kebutuhan spiritual, melainkan dapat menunjukkan adanya perubahan cara manusia mencari, mengalami, dan mengekspresikan makna transenden dalam kehidupan modern.

Perspektif Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam The Social Construction of Reality (1966) memberikan kerangka teoritis untuk memahami perubahan tersebut. Menurut keduanya, realitas sosial terbentuk melalui proses dialektis antara eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. 

Melalui eksternalisasi, manusia menciptakan makna dan membangun dunia sosial melalui tindakan serta interaksi sehari-hari. Makna yang berulang kemudian mengalami objektivasi, yaitu ketika hasil konstruksi manusia tampak sebagai kenyataan yang berdiri sendiri, memiliki aturan, dan dianggap wajar oleh masyarakat. 

Selanjutnya, melalui internalisasi, individu menyerap realitas tersebut menjadi bagian dari kesadaran dan cara pandangnya terhadap kehidupan. Berdasarkan kerangka ini, makna transenden tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan sosial, sebab pemahaman manusia mengenai tujuan hidup, moralitas, harapan, dan keterhubungan turut dibentuk oleh bahasa, kebiasaan, institusi, komunitas, serta pengalaman bersama. 

Apabila agama selama ini menjadi salah satu sumber utama pembentukan makna dan legitimasi moral, perubahan struktur sosial modern memungkinkan munculnya sumber-sumber makna alternatif yang berkembang di luar institusi keagamaan formal.

Dalam masyarakat modern yang semakin terdigitalisasi, proses konstruksi makna tersebut berlangsung melalui ruang sosial yang semakin beragam. Media digital, komunitas berbasis minat, gerakan kemanusiaan, kepedulian terhadap lingkungan, dan praktik pengembangan diri dapat menjadi ruang bagi individu untuk membangun identitas, menemukan solidaritas, serta merumuskan nilai-nilai yang dianggap penting.

Seseorang mungkin tidak menjalankan ritual keagamaan atau mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari agama tertentu, tetapi tetap merasakan tanggung jawab moral terhadap sesama, kekaguman terhadap alam semesta, dan keyakinan bahwa hidup harus dijalani dengan tujuan yang bermakna. 

Dalam perspektif Berger dan Luckmann, fenomena ini dapat dibaca sebagai proses pembentukan dan pelembagaan realitas sosial baru, ketika makna yang sebelumnya banyak disandarkan pada tradisi keagamaan dinegosiasikan kembali melalui pengalaman dan interaksi sosial. 

Namun, persoalan pentingnya bukan sekadar apakah masyarakat modern dapat menemukan makna tanpa agama, melainkan bagaimana makna tersebut memperoleh legitimasi, diwariskan, dan dipertahankan di tengah perubahan sosial yang cepat. 

Dengan demikian, konstruksi sosial atas makna transenden menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana manusia modern membangun orientasi hidup, komitmen moral, dan rasa keterhubungan ketika otoritas agama tidak lagi menjadi satu-satunya rujukan dalam menafsirkan realitas.

Dari Realitas Sosial ke Makna Transenden

Berger dan Luckmann memaparkan hubungan dialektis antara eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Melalui eksternalisasi, manusia menuangkan nilai dan pemahamannya ke dalam tindakan. Dalam masyarakat modern, seseorang dapat mengekspresikan kepedulian terhadap sesama melalui kegiatan sukarela, memperjuangkan keadilan, merawat lingkungan, atau membangun komunitas yang saling mendukung. 

Tindakan tersebut menghadirkan makna yang melampaui keuntungan pribadi, sekalipun pelakunya tidak mendasarkan tindakan itu pada ajaran agama.

Melalui objektivasi, tindakan dan gagasan yang berulang dapat berkembang menjadi norma bersama. Solidaritas, penghormatan terhadap martabat manusia, kepedulian ekologis, dan tanggung jawab antargenerasi dapat diterima sebagai nilai yang penting bagi komunitas. 

Nilai itu terasa seolah-olah sudah ada di luar individu, padahal ia dipelihara melalui praktik sosial, institusi, pendidikan, dan percakapan publik. Makna transenden kemudian tidak hanya menjadi pengalaman pribadi, tetapi juga bagian dari dunia sosial yang dibagi bersama.

Selanjutnya, internalisasi terjadi ketika individu menyerap nilai-nilai tersebut melalui keluarga, sekolah, pertemanan, media, dan pengalaman hidup. Seseorang dapat membangun orientasi hidup yang berpusat pada kemanusiaan, pencarian pengetahuan, atau perlindungan alam. 

Nilai-nilai itu dapat memberinya arah dan rasa keterhubungan. Proses ini menunjukkan bahwa sumber makna tidak selalu tunggal dan tidak selalu identik dengan keanggotaan formal dalam lembaga agama.

makna transenden dalam masyarakat modern dapat dipahami sebagai sesuatu yang dibentuk, dipertukarkan, dan dipelihara dalam kehidupan bersama. Masyarakat tanpa afiliasi agama tidak serta-merta menjadi masyarakat tanpa nilai atau tujuan; makna dapat tumbuh melalui solidaritas, etika kemanusiaan, pencarian ilmu, seni, dan kepedulian terhadap bumi. 

Namun, pendekatan ini tidak menyatakan bahwa semua bentuk transendensi sama atau bahwa agama tidak lagi penting. Ia membantu menjelaskan bagaimana manusia membangun pemahaman yang dianggap bermakna dalam konteks sosial tertentu. 

Tantangan masyarakat modern bukan sekadar mempertahankan atau meninggalkan agama, melainkan memastikan bahwa sumber makna apa pun mendorong tanggung jawab, kepedulian, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Masyarakat Modern: Sekularisasi atau Perubahan Bentuk Makna?

Menguatnya cara berpikir ilmiah dan berkembangnya pilihan hidup individual sering dibaca sebagai tanda bahwa masyarakat semakin sekuler. Namun, berkurangnya partisipasi dalam institusi agama tidak otomatis berarti hilangnya seluruh pengalaman spiritual atau pencarian makna. 

Sebagian orang memisahkan keyakinan pribadi dari organisasi keagamaan; sebagian lain menemukan rasa kagum dan tujuan melalui alam, musik, hubungan antarmanusia, atau kerja sosial. 

Karena itu, masyarakat modern lebih tepat dipahami sebagai ruang dengan beragam sumber makna, bukan sebagai masyarakat yang seluruhnya kehilangan dimensi transenden.

Meski demikian, makna nonreligius juga menghadapi tantangan. Budaya konsumsi dapat mendorong manusia mengukur keberhasilan melalui harta, status, dan pengakuan digital. Hubungan yang serba cepat berpotensi melemahkan solidaritas, sementara arus informasi yang terfragmentasi membuat masyarakat sulit menyepakati nilai bersama. 

Dalam keadaan demikian, pencarian makna dapat berubah menjadi proyek individual yang rapuh apabila tidak disertai komunitas, tanggung jawab sosial, dan refleksi kritis.

Penulis adalah Mahasiswa S3 Program Studi Islam Pascasarjana IAIN Pontianak
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar