Pencemaran Sungai Akibat Sampah di Yogyakarta, Peran Mahasiswa Biologi Dalam Menghadapinya
![]() |
| Sampah di Sungai Code Yogyakarta (kompas.com) |
Permasalahan sampah yang dibuang sembarangan masih menjadi salah satu masalah sosial dan lingkungan di Kota Yogyakarta.
Oleh: Azriel Fahlevi Abdulah*
Yogyakarta sering kali diromantisasi sebagai kota budaya, pendidikan, dan pariwisata. Namun, di balik keindahan tata kota dan keramahan warganya, terdapat realitas ekologis yang kian mengkhawatirkan: sungai-sungai yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan kini perlahan berubah menjadi tempat pembuangan sampah raksasa.
Laporan Kompas.com pada 4 Juli 2024 lalu menjadi tamparan keras bagi kita semua. Diberitakan bahwa kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan telah berkorelasi langsung dengan peningkatan drastis pencemaran sungai di Kota Yogyakarta.
Permasalahan ini jelas tidak bisa lagi dipandang sebelah mata hanya sebagai isu kebersihan atau estetika tata kota. Lebih dari itu, ini adalah ancaman langsung terhadap keseimbangan ekosistem perairan yang sangat vital.
Bagi saya dan rekan-rekan sesama mahasiswa Biologi, krisis ini adalah alarm tanda bahaya. Ketika berton-ton sampah domestik—baik organik maupun anorganik—memasuki badan sungai, yang terjadi bukanlah sekadar air yang berubah warna atau berbau busuk, melainkan sebuah keruntuhan rantai makanan (jaring-jaring makanan) secara perlahan.
Sampah plastik, misalnya, akan terdegradasi menjadi mikroplastik yang kemudian termakan oleh ikan dan organisme air lainnya, yang pada akhirnya bisa berakhir di meja makan manusia. Sementara itu, tumpukan sampah organik akan memicu penurunan drastis kadar Oksigen Terlarut dalam air, mencekik kehidupan biota sungai, dan menurunkan kualitas lingkungan perairan secara permanen.
Menghadapi kondisi kritis ini, mahasiswa Biologi tidak boleh hanya diam dan menghafal teori di dalam ruang kelas. Ilmu hayat yang kita pelajari menuntut manifestasi nyata di lapangan. Ada beberapa peran strategis yang harus kita ambil untuk merespons krisis ekologis ini.
Pertama, menjadi pionir dalam riset dan biomonitoring sungai. Mahasiswa Biologi dapat turun langsung melakukan pengamatan dan penelitian kualitas air menggunakan indikator biologis, seperti keberadaan makrobentos atau keragaman plankton.
Data dari pengamatan ini jauh lebih berbicara daripada sekadar asumsi. Hasil analisis kita mengenai tingkat pencemaran, jenis polutan, dan laju kerusakan ekosistem dapat dijadikan landasan ilmiah bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengelolaan sungai yang lebih ketat dan tepat sasaran.
Kedua, mengubah paradigma melalui literasi ekologis. Penanganan pencemaran sungai tidak akan pernah selesai jika kita hanya berfokus pada aksi "bersih-bersih sampah" yang sudah telanjur masuk ke air. Selama mindset masyarakat tidak berubah, sampah akan terus datang. Di sinilah mahasiswa Biologi harus turun tangan sebagai edukator lingkungan.
Kita memiliki
kapasitas untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat antara perilaku membuang
sampah, matinya ekosistem sungai, dan dampaknya terhadap kesehatan manusia. Edukasi
ini harus dikemas dengan bahasa yang membumi dan mudah dipahami, baik melalui
penyuluhan langsung ke warga bantaran sungai maupun melalui kampanye digital di
media sosial.
Ketiga, memelopori gaya hidup minim sampah. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil di tingkat individu. Sebagai agen perubahan, mahasiswa Biologi harus menjadi role model (teladan) dalam mengurangi produksi sampah harian, menolak penggunaan plastik sekali pakai, dan memilah sampah dari sumbernya. Kita tidak bisa mengajak masyarakat peduli lingkungan jika kita sendiri masih abai.
Pada akhirnya, memulihkan sungai-sungai di Yogyakarta dari jeratan polusi adalah proyek peradaban yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Ini adalah tanggung jawab kolektif antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan generasi muda.
Sebagai mahasiswa Biologi Universitas Negeri Yogyakarta, saya meyakini bahwa kontribusi kita sangatlah bernilai. Laboratorium terbesar kita bukanlah ruangan berdinding beton dengan mikroskop di atas meja, melainkan alam semesta beserta sungai-sungai yang mengalir di dalamnya.
Mari ubah kepedulian menjadi aksi nyata, agar urat nadi ekologi kota ini kembali berdenyut, sungai kembali jernih, dan ekosistem perairan tetap lestari untuk menghidupi generasi yang akan datang.
