Maulid: Merayakan Cinta, Menghidupkan Sunnah
Jurnalistiwa
... menit baca
Oleh: Makmur, M.Th.I*
Setiap fajar
Rabiul Awal menyingsing, umat Islam kembali menyambut dan merayakan Maulid Nabi Muhammad saw. dengan sepenuh
suka dan cita. Selawat kerinduan dilantunkan, sirah
sang kekasih dituturkan dan syair-syair pujian mengalun dari corong-corong
Masjid
dan majelis. Di berbagai penjuru negeri, kecintaan kepada Nabi
Saw, bahkan menemukan bentuknya dalam tradisi lokal yang diwariskan dari
generasi ke generasi. Maulid pun menjadi ruang perjumpaan antara ingatan kepada
Nabi, kecintaan kepada beliau, dan kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat.
Di tengah semarak itu, Maulid selalu hadir bersama perdebatan. Sebagian mempertanyakannya karena bentuk perayaannya tidak ditemukan pada masa Nabi saw, dan para sahabat, sementara sebagian lainnya memandang Maulid sebagai sarana untuk mengenang Nabi, memperbanyak selawat, mempelajari sirah, dan menumbuhkan kecintaan kepada beliau. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari dinamika khazanah keislaman. Namun, ada pertanyaan yang barangkali lebih penting untuk direnungkan: setelah Maulid dirayakan, apakah cinta kita kepada Nabi benar-benar bertambah dan sunnahnya semakin hidup dalam kehidupan kita?
Pertanyaan tersebut berangkat dari perspektif bahwa cinta yang sejati tidak hanya membuat seseorang ingin dekat dengan yang dicintainya, tetapi juga menumbuhkan dorongan untuk mengikuti jejaknya. Demikian pula cinta kepada Rasulullah saw.; ia bukan sekadar rasa yang bersemayam di hati, melainkan cinta yang menemukan arah dalam keteladanan. Karena itu, bagaimana Nabi menempatkan kecintaan kepada beliau dalam kehidupan seorang mukmin menjadi penting untuk direnungkan. Rasulullah saw. bersabda:
Di tengah semarak itu, Maulid selalu hadir bersama perdebatan. Sebagian mempertanyakannya karena bentuk perayaannya tidak ditemukan pada masa Nabi saw, dan para sahabat, sementara sebagian lainnya memandang Maulid sebagai sarana untuk mengenang Nabi, memperbanyak selawat, mempelajari sirah, dan menumbuhkan kecintaan kepada beliau. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari dinamika khazanah keislaman. Namun, ada pertanyaan yang barangkali lebih penting untuk direnungkan: setelah Maulid dirayakan, apakah cinta kita kepada Nabi benar-benar bertambah dan sunnahnya semakin hidup dalam kehidupan kita?
Pertanyaan tersebut berangkat dari perspektif bahwa cinta yang sejati tidak hanya membuat seseorang ingin dekat dengan yang dicintainya, tetapi juga menumbuhkan dorongan untuk mengikuti jejaknya. Demikian pula cinta kepada Rasulullah saw.; ia bukan sekadar rasa yang bersemayam di hati, melainkan cinta yang menemukan arah dalam keteladanan. Karena itu, bagaimana Nabi menempatkan kecintaan kepada beliau dalam kehidupan seorang mukmin menjadi penting untuk direnungkan. Rasulullah saw. bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ
أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Dari Anas ibn Malik ia berkata Rasulullah saw, bersabda, “tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Muslim).
Ibn Rajab, dalam kitab fath al-Bari, menjelaskan bahwa seorang mukmin belum sempurna imannya hingga ia lebih mencintai Rasulullah saw. daripada yang lain. Menurutnya, mencintai Rasulullah saw. berarti mengikuti apa yang diperintahkannya dan mencintai apa yang dicintainya. Sebab, cinta yang hakiki adalah mengikuti dan mencintai apa yang dicintai oleh orang yang dicintai.
Pandangan Ibn Rajab memperlihatkan bahwa cinta kepada Nabi memiliki konsekuensi berupa keteladanan. Mencintai Nabi tidak cukup dengan merasa haru ketika namanya disebut, menangis ketika kisah perjuangannya dibacakan, atau bergembira ketika selawat dilantunkan. Semua itu dapat menjadi ekspresi cinta, tetapi cinta kepada Nabi saw semestinya menggerakkan perubahan dalam cara kita berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan. Al-Qur’an pun menegaskan hubungan antara cinta dan mengikuti. Allah swt. berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي
يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai k alian.” (QS Ali Imran : 31.)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa cinta dalam Islam bukan sekadar pengakuan di bibir. Cinta memiliki konsekuensi berupa ittiba‘, yakni mengikuti dan meneladani. Namun, ittiba‘ juga menuntut pemahaman yang cerdas terhadap sunnah Nabi saw. Tidak setiap tindakan Nabi saw, harus dipahami dalam bentuk yang sama sebagai tuntunan bagi seluruh umat. Sebagian berkaitan dengan kedudukan beliau sebagai Rasul, sebagian merupakan pilihan pribadi, dan sebagian lainnya terkait kondisi sosial dan budaya pada zamannya. Karena itu, meneladani Nabi bukan sekadar meniru bentuk lahiriah, melainkan memahami nilai, tujuan, dan konteks keteladanan beliau.
Dalam konteks tersebut, Maulid menemukan relevansinya. Jika Maulid dipahami sebagai ekspresi mahabbah (cinta) kepada Nabi Muhammad saw, maka cinta itu semestinya tidak berhenti di dalam majelis. Ia harus ikut pulang bersama kita. Selawat yang dilantunkan semestinya mengajarkan kelembutan lisan. Sirah yang dibacakan semestinya menumbuhkan kesabaran. Kisah kejujuran Nabi semestinya membuat kita malu untuk berdusta, sementara kisah kasih sayang beliau semestinya mendorong kita untuk lebih peduli kepada sesama.
Dengan demikian, Maulid bukan hanya tentang bagaimana kita merayakan Nabi, tetapi juga bagaimana kita meneladani Nabi. Jangan sampai masjid penuh dengan selawat, tetapi kejujuran kosong dalam transaksi. Jangan sampai kisah kelembutan Rasulullah terus dibacakan, tetapi lisan kita masih mudah melukai orang lain. Jangan sampai kita menangis mendengar perjuangan beliau, tetapi hati kita tetap kering terhadap penderitaan sesama.
Jika setelah Maulid kita menjadi lebih jujur, lebih sabar, lebih penyayang, lebih adil, lebih santun, dan lebih peduli kepada sesama, maka Maulid telah meninggalkan jejak yang berarti. Sebaliknya, jika seluruh kemeriahan berakhir tanpa perubahan dalam laku kehidupan, barangkali kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apa sebenarnya yang telah kita rayakan?
Pada akhirnya, Maulid bukan sekadar mengenang kelahiran Nabi, tetapi momentum untuk menumbuhkan mahabbah (cinta) yang menggerakkan kita mengenal sunnahnya, mengikuti jejak, dan meneladani akhlaknya. Sebab, cinta kepada Nabi saw, tidak cukup dirayakan dalam kemeriahan Maulid; ia harus menemukan jalan dalam kehidupan.
Semoga bara cinta kepada Nabi Muhammad saw. yang kita nyalakan melalui Maulid, baik di rumah maupun di masjid, tidak padam ketika majelis berakhir, tetapi terus menyala sebagai kerinduan untuk menghidupkan sunnahnya dalam setiap ruang kehidupan, hingga kelak cinta itu menjadi jalan yang mempertemukan kita dengan beliau di akhirat. Dalam riwayat Imam al-Bukhari, terekam sabda Rasulullah saw. yang menjadi harapan terindah bagi setiap pecinta:
عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ
أَحَبَّ
Dari Abdullah, dari Nabi saw, bahwa beliau bersabda: “seseorang akan dikumpulkan Bersama dengan orang yang dicintainya”.
*Dosen STAIN Majene Sulawesi Barat
Sebelumnya
...
