KtHx54QkBr383xDR2xK8jWF4FPsDN0wkvFCwXh9V
Bookmark

Lingkungan Rusak, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Tumpukan sampah di pinggir jalan (Antara)
Sampah yang menumpuk di pinggir jalan, memenuhi selokan, hingga mengambang di sungai perlahan menjadi pemandangan yang dianggap biasa. Padahal, di balik tumpukan tersebut terdapat persoalan lingkungan yang tidak sederhana. 
Oleh: Irfa Istifarani Zahirah*

Sampah yang tidak dikelola dapat berakhir di sungai, tanah terbuka, bahkan laut, dan pada akhirnya mengganggu kualitas lingkungan serta kehidupan berbagai organisme. Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup mencatat bahwa hingga akhir 2025 baru sekitar 25 persen sampah nasional yang terkelola, sementara 75 persen lainnya belum tertangani secara memadai dan masih berisiko mencemari lingkungan. 

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan lagi sekadar masalah kebersihan, melainkan persoalan lingkungan yang membutuhkan perhatian bersama.

Masalahnya, sampah sering kali dipandang sebagai sesuatu yang selesai ketika sudah keluar dari rumah. Setelah dibuang ke tempat sampah, persoalan dianggap berpindah menjadi urusan petugas kebersihan atau pemerintah. Padahal, pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan mengangkut dan membuang. 

Sampah yang tidak dipilah dan tidak dikelola dengan baik dapat berakhir di lingkungan, termasuk sungai dan lahan terbuka. Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional bahkan mendefinisikan sampah tidak terkelola sebagai sampah yang tidak masuk ke fasilitas pengolahan atau tempat pemrosesan akhir yang sesuai, termasuk sampah yang dibakar, dibuang ke sungai, atau ditumpuk di lahan terbuka.

Dampak sampah juga tidak berhenti pada lingkungan yang terlihat kotor. Ketika sampah menumpuk di sungai, aliran air dapat terganggu dan ekosistem perairan ikut terdampak. Sampah plastik yang masuk ke lingkungan juga dapat terurai menjadi bagian yang semakin kecil dan berpotensi masuk ke rantai makanan. 

Dalam jangka panjang, persoalan tersebut bukan hanya mengancam keberadaan organisme di dalam ekosistem, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan manusia yang bergantung pada lingkungan yang sehat. Membicarakan sampah berarti membicarakan hubungan manusia dengan lingkungan tempat ia hidup. 

Lingkungan yang rusak pada dasarnya merupakan cerminan dari cara manusia menggunakan, memperlakukan, dan bertanggung jawab terhadap ruang hidupnya.

Pada akhirnya, kerusakan lingkungan tidak seharusnya menjadi alasan untuk terus mencari satu pihak yang dapat disalahkan. Pemerintah memiliki kewajiban untuk memastikan kebijakan dan sistem berjalan, sementara masyarakat memiliki peran melalui perilaku dan partisipasi dalam menjaga lingkungan. 

Persoalan lingkungan dengan demikian bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi juga persoalan kewarganegaraan. Lingkungan merupakan ruang hidup bersama yang keberlangsungannya akan menentukan kehidupan generasi sekarang dan generasi yang akan datang. 

Karena itu, pertanyaan “siapa yang bertanggung jawab?” tidak semestinya berakhir pada penunjukan satu pihak, melainkan pada kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

Penulis adalah Mahasiswa Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar