KtHx54QkBr383xDR2xK8jWF4FPsDN0wkvFCwXh9V
Bookmark

Ancaman Harimau Sumatera Dimulai dari Hilangnya Hutan: Menjaga Habitat sebagai Tanggung Jawab Bersama

Harimau Sumatera (Net)

Harimau Sumatera tidak perlu kehilangan nyawanya dulu untuk dikatakan terancam. Ketika hutannya mulai hilang, ancamannya sebenarnya sudah dimulai.

Oleh: Allicia Natalie Sandra*

Kutipan di atas bukanlah sekadar kiasan puitis, melainkan realitas pahit yang sedang menggerogoti keanekaragaman hayati kita saat ini. Seringkali, perhatian publik baru tersita ketika ada berita seekor Harimau Sumatera mati terjerat atau berkonflik dengan manusia. Padahal, tragedi sesungguhnya tidak bermula dari jerat baja, melainkan dari deru gergaji mesin dan kepulan asap di habitat asli mereka.

Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) di Jambi, yang selama ini menjadi benteng pertahanan terakhir bagi sang raja hutan, kini tengah dikepung oleh dua ancaman besar yang berjalan beriringan: pembalakan liar (illegal logging) dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Pada September 2026, Kementerian Kehutanan menetapkan dua orang berinisial S dan K sebagai tersangka kasus dugaan pembalakan liar di TNBS. Penemuan pondok, rel kayu, tunggul bekas tebangan, hingga tiga unit chainsaw di dalam kawasan konservasi tersebut bukanlah pelanggaran ringan. Fakta ini membuktikan bahwa perusakan ekosistem dilakukan secara terencana dan sistematis.

Bagi Harimau Sumatera, hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan. Hutan adalah ruang hidup absolut tempat mereka mencari mangsa, berlindung, berkembang biak, dan mempertahankan teritori. Harimau adalah "spesies payung" (umbrella species); ketika kita melindungi wilayah jelajahnya yang luas, kita secara otomatis melindungi ribuan spesies flora dan fauna lain di bawahnya. 

Sebaliknya, ketika hutan ditebang dan terfragmentasi, rantai makanan akan runtuh. Mangsa harimau seperti rusa dan babi hutan akan berkurang, memaksa sang predator keluar dari hutan dan memicu konflik fatal dengan manusia.

Belum usai urusan pembalakan liar, ancaman ekologis di TNBS diperparah oleh Karhutla. Laporan dari Antara pada akhir September 2026 menyebutkan bahwa titik api telah merayap hingga jarak 2–3 kilometer dari habitat inti harimau. 

Meski hutan primer belum terbakar, jarak 3 kilometer dalam sebuah ekosistem yang sedang dikepung kemarau dan angin kencang adalah ancaman yang nyata dan mematikan. Asap pekat dan suhu yang meningkat drastis berpotensi mengganggu orientasi, kesehatan satwa, dan memicu perpindahan satwa secara paksa.

Krisis ganda yang mengepung TNBS ini mengirimkan pesan penting: menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab eksklusif pemerintah, polisi kehutanan, atau pengelola taman nasional. Ini adalah ujian kewarganegaraan kita. Menjaga hutan berarti ikut menjaga ruang hidup bersama dan memastikan bahwa bumi yang kita pijak tetap layak huni.

Di titik kritis inilah, mahasiswa—khususnya dari rumpun ilmu Biologi—harus mengambil peran terdepan. Kita mungkin tidak memiliki kewenangan hukum untuk menangkap para pembalak atau memadamkan api langsung di tengah hutan gambut, tetapi kita memiliki senjata yang tak kalah tajam: sains dan data.

Mahasiswa Biologi harus bertransformasi menjadi katalisator pelestarian. Pertama, kita dapat terjun ke dalam pemantauan keanekaragaman hayati dan mempopulerkan citizen science (sains warga), mengajak masyarakat sipil untuk ikut mengumpulkan data lapangan terkait pergerakan satwa dan perubahan lahan. 

Kedua, kita memikul tanggung jawab moral untuk mengedukasi masyarakat pinggir hutan. Kita harus mampu menerjemahkan bahasa jurnal ilmiah yang rumit menjadi pemahaman praktis bagi warga, agar mitigasi konflik manusia dan satwa liar dapat dilakukan tanpa pertumpahan darah. 

Ketiga, mahasiswa dapat melakukan perlawanan narasi di ruang publik dengan menyebarkan informasi dan kampanye konservasi berbasis fakta ilmiah, guna menekan para pembuat kebijakan agar bertindak lebih tegas.

Upaya konservasi tidak boleh berhenti pada konferensi pers penangkapan tersangka pembalakan liar atau saat api Karhutla berhasil dipadamkan. Itu baru langkah reaktif. Sebagai mahasiswa dan warga negara, pengetahuan kita harus digunakan untuk membangun sistem pertahanan ekologis yang preventif dan berkelanjutan.

Sebab, pada akhirnya, menjaga Harimau Sumatera bukan hanya semata-mata soal memastikan satwa eksotis itu tetap bernapas hari ini. Konservasi sejati adalah memastikan bahwa "rumah" mereka tetap berdiri kokoh untuk generasi harimau berikutnya. Tanpa hutan, harimau hanya akan menjadi mitos di masa depan.

Referensi:

Penulis adalah Mahasiswa Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar