KtHx54QkBr383xDR2xK8jWF4FPsDN0wkvFCwXh9V
Bookmark

Menguji Kepemimpinan Prabowo dalam Mengatasi Gelombang Aksi di Tengah Krisis Kepercayaan Publik

Foto: Bambang Sudarmono/Pribadi
Oleh: Bambang Sudarmono*

Kepemimpinan seorang presiden selalu diuji pada momen-momen kritis ketika suara rakyat bersuara lantang melalui jalanan. Gelombang aksi massa, yang biasanya dipicu oleh krisis kepercayaan publik, menjadi tantangan serius bagi siapa pun yang duduk di kursi kekuasaan. Bagi Prabowo Subianto, ujian ini bisa menjadi penentu apakah ia mampu menjadi pemimpin yang hanya kuat secara retorika, atau benar-benar negarawan yang piawai mengelola gejolak sosial-politik di tengah krisis.

Krisis Kepercayaan sebagai Akar Masalah

Krisis kepercayaan publik tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari akumulasi kekecewaan terhadap kebijakan yang dianggap tidak adil, janji politik yang tak ditepati, hingga kesenjangan antara kebutuhan rakyat dengan langkah pemerintah. Ketika kepercayaan publik melemah, ruang untuk kesalahpahaman semakin besar, dan setiap kebijakan pemerintah rentan dipersepsikan negatif. Dalam konteks ini, kepemimpinan Prabowo akan diuji: apakah ia mampu mengembalikan kepercayaan dengan langkah nyata, atau justru semakin memperdalam jurang ketidakpercayaan.

Antara Ketegasan dan Kearifan

Prabowo dikenal sebagai figur yang tegas, dengan latar belakang militer yang kental. Ketegasan tentu penting dalam menjaga stabilitas, namun menghadapi gelombang aksi membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan. Rakyat yang turun ke jalan bukanlah musuh negara, melainkan suara yang menuntut perhatian. Karena itu, pendekatan represif yang berlebihan hanya akan memperburuk keadaan. Di sinilah kearifan seorang pemimpin diuji: mampu menjaga ketertiban tanpa mengekang demokrasi, mampu menunjukkan wibawa tanpa kehilangan empati.

Dialog dan Transparansi sebagai Kunci

Dalam era keterbukaan informasi, legitimasi pemimpin ditentukan oleh sejauh mana ia mampu berkomunikasi jujur dengan rakyatnya. Gelombang aksi bisa mereda jika pemerintah membuka ruang dialog, menjelaskan alasan di balik kebijakan, serta menunjukkan kesediaan untuk mengoreksi langkah yang keliru. Kepemimpinan Prabowo akan benar-benar diuji: apakah ia berani menghadapi kritik secara terbuka, atau memilih bersembunyi di balik retorika nasionalisme tanpa solusi konkret.

Restorasi Kepercayaan sebagai Jalan Keluar

Mengatasi krisis kepercayaan bukanlah tugas sesaat, melainkan proses panjang membangun kembali jembatan antara rakyat dan pemerintah. Prabowo perlu menegaskan bahwa pemerintahannya berdiri di atas kepentingan rakyat, bukan kelompok tertentu. Keberanian mengambil kebijakan pro-rakyat, meski berisiko mengganggu kepentingan elit, akan menjadi bukti nyata bahwa ia mengutamakan legitimasi moral di atas kepentingan politik sempit.

*Pemerhati kebijakan Publik
Posting Komentar

Posting Komentar