Yayasan Akar Semesta Setara Hadir untuk Mewujudkan Ruang yang Setara bagi Disabilitas dan Lingkungan
“Kesetaraan bukanlah sebuah hadiah yang ditunggu, melainkan hak yang harus ditumbuhkan dari akar hingga akhirnya mampu menaungi semesta.”
Oleh: Siti Zahraini*
Bagi saya, rasa peduli adalah sebuah benih. Namun, benih itu hanya akan tertidur di dalam tanah jika kita tidak pernah menyiraminya dengan aksi nyata. Kegelisahan itulah yang selama ini menumpuk di benak saya dan beberapa kawan perempuan muda lainnya.
Kami sering
mengamati, mendengar, dan berinteraksi langsung dengan realitas sosial di
sekitar kami, dan menyadari satu hal yang mengganjal: dunia ini belum
sepenuhnya menjadi tempat yang ramah bagi semua orang.
Benih
Kepedulian dan Tembok Tak Kasat Mata
Ada
tembok-tembok tak kasat mata yang masih membatasi teman-teman penyandang
disabilitas. Hambatan yang mereka hadapi bukan sekadar urusan jalan yang tidak
ramah kursi roda. Lebih jauh dari itu, mereka masih harus berjuang keras untuk
mendapatkan hak-hak dasar—mulai dari sulitnya akses pendidikan, terbatasnya
informasi, minimnya perlindungan dari kekerasan, hingga sempitnya ruang
partisipasi untuk sekadar terlibat dan berdaya di tengah masyarakat.
Berangkat dari
rentetan pengalaman dan pengamatan itulah, pada tanggal 26 Januari 2026, saya
dan kawan-kawan memutuskan untuk mengambil langkah berani. Kami mendirikan
Yayasan Akar Semesta Setara. Kami tidak ingin yayasan ini hanya menjadi sekadar
lembaga pemberi bantuan amal (charity).
Lebih dari
itu, kami ingin Akar Semesta Setara menjadi ruang yang aman, inklusif, dan
memberdayakan. Sebuah panggung di mana teman-teman disabilitas bisa mendapatkan
akses, menyuarakan hak dan kebutuhannya, serta mengembangkan potensi luar biasa
yang mereka miliki.
Melalui
berbagai kegiatan edukasi, advokasi, dan pemberdayaan, kami ingin membongkar
stigma yang terlanjur mengakar di masyarakat. Kami berusaha mengubah narasi
belas kasihan menjadi narasi kemandirian.
Ketika teman-teman disabilitas diberikan akses informasi yang tepat dan ruang partisipasi tanpa hambatan, mereka terbukti mampu berkarya dan berkontribusi sama hebatnya dengan yang lain.
Yayasan ini hadir untuk memastikan bahwa suara
mereka tidak lagi diabaikan, melainkan menjadi bagian penting dari laju
kehidupan sosial kita.
Di saat yang
sama, kami juga menyadari bahwa kehidupan yang berkelanjutan tidak akan pernah
utuh tanpa lingkungan yang sehat. Mungkin ada yang bertanya, mengapa
menggabungkan isu disabilitas dengan pelestarian lingkungan?
Bagi kami, keduanya memiliki irisan yang sangat erat. Dalam setiap krisis ekologi atau kerusakan alam, kelompok penyandang disabilitas sering kali menjadi pihak yang paling rentan dan terdampak paling keras.
Oleh karena itu, merawat alam
sejatinya adalah bagian dari upaya melindungi mereka yang rentan. Kami percaya
bahwa bumi yang lestari adalah syarat mutlak untuk menciptakan ruang hidup yang
benar-benar aman bagi semua.
Banyak yang
bertanya kepada saya, mengapa memilih nama “Akar Semesta Setara” (ARTARA)?
Bagi saya, nama itu adalah sebuah doa sekaligus komitmen. Kata “Akar” merefleksikan prinsip kami bahwa setiap upaya perubahan harus dimulai dari akar persoalannya, bukan sekadar mengobati gejala di permukaan.
“Semesta” menggambarkan ruang kehidupan kita yang begitu luas, kaya, dan beragam.
Sementara “Setara” adalah
nilai absolut yang kami perjuangkan—bahwa setiap manusia, tanpa terkecuali,
memiliki martabat, hak, dan kesempatan yang harus dihormati.
Namun, saya sadar betul bahwa mimpi sebesar ini tidak mungkin bisa dipanggul sendirian. Mengubah stigma dan membangun sistem yang inklusif membutuhkan ekosistem yang kuat.
Kami membutuhkan kolaborasi. Mulai dari penyandang disabilitas itu
sendiri, keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, pemerintah, organisasi
masyarakat, dunia usaha, hingga masyarakat luas.
Yayasan Akar
Semesta Setara hadir bukan hanya sebagai lembaga yang menjalankan program. Kami
ingin tumbuh sebagai ruang bersama untuk belajar, bergerak, dan menciptakan
perubahan nyata.
Kami mengundang Anda semua untuk ikut serta dalam perjalanan ini. Karena saya percaya, di ruang bersama ini, setiap orang memiliki kesempatan untuk berkontribusi tanpa pernah lagi dibatasi oleh kondisi fisik, sosial, maupun latar belakangnya.
Mari bersama-sama kita rawat bumi ini, dan kita wujudkan semesta yang setara bagi semua.


