KtHx54QkBr383xDR2xK8jWF4FPsDN0wkvFCwXh9V
Bookmark

Literasi Budaya dalam Pendidikan Multiliterasi: Memahami Keberagaman di Tengah Perubahan Zaman

Foto: Wikimedia Commons

Bukan sekadar menghafal ragam tradisi di ruang kelas, literasi budaya adalah kunci utama yang membekali generasi muda dengan empati dan kecakapan hidup untuk merayakan keberagaman di tengah derasnya arus globalisasi.

Oleh: Miftahul Jannah*

Literasi pada masa sekarang tidak lagi hanya dipahami sebagai kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Perkembangan teknologi, globalisasi, serta semakin beragamnya kehidupan sosial membuat kemampuan literasi berkembang menjadi lebih luas. Seseorang tidak hanya dituntut mampu memahami informasi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk memahami lingkungan sosial, budaya, teknologi, media, serta keberagaman yang ada di sekitarnya.

Dalam konteks tersebut, pendidikan multiliterasi menjadi penting karena memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan berbagai kemampuan literasi sesuai dengan kebutuhan kehidupan modern. Salah satu bagian penting di dalamnya adalah literasi budaya. 

Literasi budaya berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk memahami, menghargai, dan berinteraksi dengan keberagaman budaya serta berbagai perspektif yang ada dalam kehidupan masyarakat. Angelianawati dkk. (2025) menjelaskan bahwa literasi budaya mencakup pemahaman terhadap nilai, norma, adat istiadat, bahasa, dan tradisi, sekaligus kemampuan untuk berinteraksi dengan masyarakat yang memiliki latar belakang budaya berbeda.

Pembahasan mengenai literasi budaya dapat dilihat dalam dua buku yang menjadi dasar tulisan ini, yaitu Pendidikan Berbasis Multiliterasi: Menyiapkan Generasi Baru karya Angelianawati dkk. (2025) dan Pendidikan Multiliterasi karya Sudirman dan Irwan (2023). 

Kedua buku sama-sama menempatkan literasi budaya sebagai bagian penting dalam pendidikan multiliterasi, tetapi memiliki penekanan yang berbeda. Perbedaan penekanan tersebut justru menunjukkan bahwa literasi budaya perlu dipahami secara luas, baik dari sisi pemahaman maupun penerapannya dalam kehidupan.

Literasi Budaya sebagai Bagian dari Pendidikan Multiliterasi

Angelianawati dkk. (2025) melalui pembahasan tentang literasi budaya menekankan bahwa keberagaman budaya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Literasi budaya tidak hanya berarti mengetahui berbagai jenis budaya, tetapi juga mencakup kemampuan memahami perbedaan, membangun empati, berkomunikasi dengan orang dari latar belakang berbeda, serta memiliki keterbukaan terhadap perspektif lain.

Dalam kehidupan masyarakat yang semakin terhubung, kemampuan tersebut menjadi penting. Peserta didik dapat berhadapan dengan berbagai informasi dan budaya, baik yang berasal dari lingkungan sekitar maupun dari berbagai wilayah di dunia. Oleh karena itu, pendidikan perlu membantu peserta didik agar tidak hanya mengenal budayanya sendiri, tetapi juga mampu menghargai budaya lain.

Literasi budaya juga memiliki manfaat dalam membangun toleransi dan keharmonisan sosial, memperkuat identitas budaya, serta membantu seseorang beradaptasi dalam lingkungan yang multikultural. Dengan demikian, literasi budaya tidak seharusnya dipandang sebagai pengetahuan tambahan, tetapi sebagai kemampuan yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, perkembangan globalisasi juga menghadirkan tantangan. Etnosentrisme, stereotip, prasangka, keterbatasan interaksi antarbudaya, serta kurangnya pendidikan yang memberikan pengalaman tentang keberagaman dapat menghambat perkembangan literasi budaya. 

Karena itu, Angelianawati dkk. (2025) menekankan pentingnya pendidikan multikultural, interaksi dengan berbagai budaya, pembelajaran bahasa, penggunaan sumber budaya yang beragam, serta kesadaran terhadap bias dan stereotip.

Literasi Budaya Tidak Hanya Tentang Mengenal Budaya

Pembahasan mengenai literasi budaya dalam buku Pendidikan Multiliterasi karya Sudirman dan Irwan (2023) juga menunjukkan bahwa literasi budaya memiliki cakupan yang luas. Pada Bab 7, buku tersebut membahas konsep literasi budaya melalui beberapa aspek, seperti kesenian sebagai produk budaya, kewargaan multikultural dan partisipatif, nasionalisme, inklusivitas, serta pengalaman langsung.

Hal tersebut menunjukkan bahwa literasi budaya tidak berhenti pada kegiatan mengenal berbagai kebudayaan. Peserta didik juga perlu memperoleh pengalaman yang membuat mereka berhubungan secara langsung dengan budaya dan kehidupan masyarakat. Literasi budaya menjadi lebih bermakna apabila peserta didik dapat melihat, mengalami, dan memahami kebudayaan dalam kehidupan nyata.

Buku tersebut juga membahas gerakan literasi budaya dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Hal ini memperlihatkan bahwa pembentukan literasi budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Keluarga dan masyarakat juga mempunyai peran dalam memberikan pengalaman budaya kepada anak.

Menurut penulis, pembagian tersebut sangat relevan dengan kondisi pendidikan saat ini. Sekolah memang menjadi tempat penting untuk memberikan pengetahuan tentang budaya, tetapi pengalaman anak sehari-hari juga sangat menentukan bagaimana ia memandang keberagaman. Anak yang terbiasa melihat keberagaman sebagai sesuatu yang wajar akan lebih mudah belajar menghargai perbedaan.

Persamaan dan Perbedaan Kedua Buku

Kedua buku memiliki kesamaan dalam melihat literasi budaya sebagai bagian penting dari pendidikan multiliterasi. Keduanya menempatkan keberagaman budaya sebagai sesuatu yang perlu dipahami dan dihargai oleh peserta didik.

Namun, terdapat perbedaan penekanan. Angelianawati dkk. (2025) lebih banyak memberikan gambaran mengenai pemahaman keberagaman budaya dan perspektif global. Literasi budaya dijelaskan melalui kemampuan memahami budaya, membangun empati, berkomunikasi lintas budaya, terbuka terhadap perbedaan, serta memahami latar belakang sosial dan sejarah suatu budaya.

Sementara itu, Sudirman dan Irwan (2023) memberikan penekanan pada aspek yang lebih dekat dengan penerapan, seperti kesenian, kewargaan multikultural, nasionalisme, inklusivitas, pengalaman langsung, serta gerakan literasi budaya dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Perbedaan tersebut sebenarnya bukan merupakan pertentangan. Justru, kedua pendekatan tersebut dapat saling melengkapi. Pemahaman tentang keberagaman perlu diikuti dengan pengalaman dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik tidak cukup hanya mengetahui bahwa Indonesia memiliki banyak budaya, tetapi juga perlu belajar bagaimana bersikap ketika berhadapan dengan perbedaan tersebut.


Menurut Penulis, Literasi Budaya Harus Dipraktikkan

Menurut penulis, salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam pendidikan literasi budaya adalah bahwa literasi budaya tidak cukup hanya dipelajari melalui teori. Peserta didik dapat menghafal nama-nama suku, rumah adat, pakaian tradisional, tarian, makanan daerah, atau bahasa daerah. Namun, pengetahuan tersebut belum tentu membuat mereka mampu menghargai orang yang memiliki budaya berbeda.

Literasi budaya seharusnya memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk berinteraksi dengan keberagaman. Misalnya, sekolah dapat membuat kegiatan proyek mengenai budaya lokal, wawancara dengan masyarakat, pengenalan permainan tradisional, pembuatan dokumentasi makanan daerah, pertunjukan kesenian, atau pengumpulan cerita rakyat dari lingkungan sekitar.

Pendekatan seperti ini memiliki dukungan dari penelitian Firti dan Ahsani (2025). Penelitian mereka terhadap 25 siswa kelas IV SDN 05 Teluk Wetan Jepara menunjukkan bahwa penerapan literasi budaya melalui pembelajaran berbasis proyek membuat siswa lebih memahami aspek kebudayaan, menghargai pendapat, dan lebih interaktif selama pembelajaran. Pengalaman tersebut membantu siswa memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang menarik dan bukan sebagai penghalang atau pembeda.

Dengan demikian, kegiatan literasi budaya sebaiknya tidak hanya berupa pemberian materi di dalam kelas. Pembelajaran dapat dikembangkan menjadi kegiatan yang memungkinkan peserta didik mencari informasi, berdiskusi, melakukan observasi, berinteraksi dengan masyarakat, kemudian menghasilkan suatu karya.

Peran Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat

Literasi budaya juga membutuhkan keterlibatan berbagai lingkungan pendidikan. Sekolah memiliki peran dalam menyediakan pembelajaran yang mengenalkan keberagaman secara terbuka dan inklusif. Guru dapat menggunakan berbagai sumber belajar, seperti cerita rakyat, karya sastra daerah, kesenian, sejarah lokal, dan pengalaman masyarakat.

Pendekatan pembelajaran yang mengangkat keberagaman budaya juga dapat dilakukan melalui berbagai media. Sariasih dan Jendriadi (2025), misalnya, menunjukkan bahwa pendekatan multikultural dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan mengintegrasikan karya sastra daerah, menggunakan media yang beragam, serta menerapkan pembelajaran kolaboratif dan interaktif. Pendekatan tersebut diarahkan untuk menumbuhkan toleransi, inklusivitas, penghargaan terhadap keberagaman, dan penguatan identitas nasional.

Keluarga juga mempunyai peran yang tidak kalah penting. Anak pertama kali mengenal nilai, kebiasaan, bahasa, dan tradisi melalui lingkungan keluarga. Karena itu, orang tua dapat mengenalkan budaya lokal melalui kegiatan sederhana, seperti menggunakan bahasa daerah dalam situasi tertentu, mengenalkan makanan tradisional, menceritakan sejarah keluarga atau daerah, serta mengajarkan sikap menghargai orang yang berbeda.

Sementara itu, masyarakat dapat menjadi ruang bagi anak untuk mendapatkan pengalaman budaya secara langsung. Kegiatan masyarakat, kesenian daerah, kegiatan adat, dan interaksi dengan berbagai kelompok dapat menjadi sumber pembelajaran yang tidak selalu diperoleh melalui buku pelajaran.

Tantangan Literasi Budaya di Era Globalisasi

Perkembangan teknologi memberikan banyak peluang bagi pendidikan literasi budaya, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan. Peserta didik dapat dengan mudah memperoleh informasi mengenai berbagai budaya melalui internet dan media sosial. Namun, tidak semua informasi tersebut memberikan pemahaman budaya yang tepat.

Globalisasi juga dapat menyebabkan budaya lokal semakin jarang dikenalkan apabila generasi muda lebih banyak mengonsumsi budaya yang berasal dari luar lingkungan mereka. Selain itu, stereotip dan prasangka dapat muncul apabila seseorang mengenal budaya lain hanya melalui informasi yang terbatas.

Angelianawati dkk. (2025) mengidentifikasi beberapa tantangan literasi budaya, antara lain etnosentrisme, kurangnya pendidikan antarbudaya, pengaruh globalisasi, hambatan bahasa, serta stereotip dan prasangka.

Karena itu, literasi budaya pada era digital seharusnya tidak hanya mengajarkan peserta didik untuk mengenal budaya, tetapi juga mengembangkan kemampuan untuk menilai informasi secara kritis. Peserta didik perlu memahami bahwa informasi mengenai suatu budaya belum tentu menggambarkan keseluruhan kehidupan masyarakat yang memiliki budaya tersebut.

Penutup

Literasi budaya merupakan bagian penting dalam pendidikan multiliterasi karena membantu peserta didik memahami keberagaman, menghargai perbedaan, dan membangun hubungan yang lebih baik dengan lingkungan sosialnya. Berdasarkan pembahasan kedua buku, dapat dilihat bahwa literasi budaya memiliki dua sisi yang saling melengkapi.

Angelianawati dkk. (2025) memberikan penekanan pada kemampuan memahami keberagaman budaya, membangun empati, berkomunikasi lintas budaya, dan melihat budaya dari perspektif yang lebih luas. Sementara itu, Sudirman dan Irwan (2023) membahas literasi budaya melalui aspek kesenian, kewargaan multikultural, nasionalisme, inklusivitas, pengalaman langsung, serta gerakan literasi budaya dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Menurut penulis, kedua pendekatan tersebut menunjukkan bahwa literasi budaya seharusnya tidak berhenti pada pengetahuan tentang kebudayaan. Literasi budaya perlu diwujudkan melalui pengalaman, interaksi, dan sikap dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan memiliki peran penting untuk menciptakan ruang bagi peserta didik agar dapat mengenal budaya sendiri sekaligus menghargai budaya orang lain.

Pada akhirnya, tujuan literasi budaya bukan sekadar membuat peserta didik mengetahui bahwa masyarakat Indonesia memiliki banyak budaya. Lebih dari itu, literasi budaya diharapkan dapat membantu peserta didik hidup di tengah keberagaman dengan sikap terbuka, menghargai perbedaan, memiliki identitas budaya, dan mampu berinteraksi secara positif dengan masyarakat di sekitarnya.(s/lk)

Referensi

  • Angelianawati, D., Tasnimah, T. M., Hidayah, A., Lestari, F. D., Mashuri, Cahyaningrum, I. O., Ningrum, S. T., Nurhidayati, Islam, R. F., & Adika, D. (2025). Pendidikan berbasis multiliterasi: Menyiapkan generasi baru. PT Akselerasi Karya Mandiri.
  • Firti, N. L., & Ahsani, E. L. F. (2025). Pembentukan sikap multikultural: Penerapan literasi budaya melalui pembelajaran berbasis proyek siswa di SDN 05 Teluk Wetan Jepara. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 10(1), 139–148. https://doi.org/10.29303/jipp.v10i1.3169.
  • Sariasih, Y., & Jendriadi. (2025). Peran pendekatan multikultural dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk memperkuat keberagaman budaya. Literasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, 15(2), 324–332. https://doi.org/10.23969/literasi.v15i2.24107.
  • Sudirman, & Irwan, M. (2023). Pendidikan multiliterasi. Kencana. 

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Masyarakat, Kelas Penmas Bilingual, Universitas Negeri Medan.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar