KtHx54QkBr383xDR2xK8jWF4FPsDN0wkvFCwXh9V
Bookmark

Edible Packaging Berbasis Pati Singkong sebagai Kemasan Alternatif Plastik Pangan

Edible Packaging Berbasis Pati Singkong (ilustrasi/AI)

Oleh: Miflah Suci Ramadhani*

Plastik merupakan salah satu benda yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari hari termasuk dalam industri pangan. Hampir semua makanan dan minuman menggunakan plastik untuk kemasannya, baik dari makanan dan minuman ringan hingga berat.

Kemasan dalam produk pangan digunakan untuk melindungi produk dari kerusakan fisik maupun kimia, proses penyimpanan dan distribusi. Plastik banyak digunakan sebagai kemasan karena memiliki keungggulan yaitu praktis, cukup kuat, dan harga terjangkau.

Namun, dari penggunaan kemasan plastik yang berlebih muncul masalah yaitu apabila setelah dipakai tidak dapat digunakan ulang sehingga akan menjadi sampah yang sulit untuk diuraikan. Menurut Arwini (2022), sampah plastik biasanya dibuang langsung ke alam tanpa melalui proses pemilahan, sehingga memerlukan waktu 100 hingga 500 tahun apabila hanya mengandalkan degradasi secaara alami.

Sampah plastik yang dibuang langsung tidak hanya mencemari lingkungan tetapi plastik juga berpotensi berdampak pada kesehatan manusia apabila plastik yang terpapar oleh matari, panas, dan proses pelapukan dapat terpecah menjadi partikel-partikel kecil, yaitu mikroplastik dan non plastik. Partikel tersebut berpotensi masuk ke dalam tubuh manusia melalui udara yang terhirup maupun makanan dan minuman.

Selain itu, dalam kondisi terterntu kandungan kimia yang terdapat pada plastik akan mengkontaminasi makanan dan minuman apabila terjadi kontak langsung, yaitu pada keadaan makanan dan minuman berada dalam konsidi panas. Oleh karena itu, sangat diperlukan alternatif kemasan pangan ramah lingkungan dan aman digunakan untuk produk pangan.

Menjawab urgensi akan kebutuhan kemasan yang ramah lingkungan tersebut, inovasi berbahan dasar nabati mulai gencar dikembangkan.

Mengenal Edible Packaging dari Pati Singkong

Salah satu alternatif kemasan pangan yang dapat dikembangkan yaitu edible packaging atau kemasan tipis yang melapisi makanan dan dapat dikonsumsi. Kemasan tersebut dibuat menggunakan bahan yang aman untuk dikonsumsi dan memang dirancang untuk melindungi produk pangan, sehingga dapat digunakan untuk alternatif pengganti plastik pada produk pangan tertentu.

Menurut Wahyu et al (2025) komponen penyusun edible packaging dibagi menjadi tiga macam yaitu hidrokoloid, lipida dan komposit. Hidrokoloid yaitu bahan yang berasal dari polisakarida seperti pati. Salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan edible packaging yaitu pati singkong.

Singkong merupakan tumbuhan yang mudah ditemukan di Indonesia dan dapat diolah menjadi pati, serta kadar pati dalam singkong tergolong sangat tinggi. Pati singkong dapat digunakan sebagai bahan dasar edible film karena memiliki kandungan milosa dan amilopektin yang dapat membentuk struktur lapisan setelah diproses pada pengolahan tertentu.

Dalam pembuatan edible packaging, pati dicampurkan dengan air dan dipanaskan hingga mengalami gelatinisasi. Larutan tersebut kemudian dicetak dengan tingkat ketipisan yang sama lalu dikeringkan hingga menghasilkan lapisan tipis.

Kelebihan menggunakan pati singkong sebagai bahan dasar pembuatan edible packaging yaitu mudah diperoleh dan proses pengolahannya yang sederhana. Selain itu, pati singkong dapat terurai secara biologis sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan karena berbahan dasar dari nabati dan edible packaging pati singkong dapat dikonsumsi tanpa menimbulkan dampak buruk pada kesehatan manusia.

Oleh karena itu, edible packaging berbasis pati singkong dapat dijadikan salah satu alternatif kemasan pangan untuk mengurangi penggunaan plastik terutama pada produk pangan yang sesuai dengan karakteristik kemasannya.

Walaupun menawarkan berbagai keunggulan yang menjanjikan, pengembangan kemasan organik ini tidak lepas dari berbagai kendala teknis yang harus diselesaikan.

Tantangan dan Upaya Peningkatan Kualitas Kemasan

Meskipun memiliki potensi, edible packaging berbasis pati singkong masih memiliki keterbatasan yaitu cenderung sensitif terhadap air dan kelembapan sehingga dapat mengalami perubahan sifat selama penyimpanan. Selain itu, kekuatan mekanis dan fleksibilitasnya perlu diperhatikan agar kemasan tidak mudah robek ketika digunakan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pati singkong belum tentu dapat menggantikan seluruh fungsi plastik, terutama pada produk yang membutuhkan perlindungan tinggi terhadap air, oksigen, atau tekanan selama distribusi.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengombinasikan pati singkong dengan bahan tambahan yang sesuai, seperti gliserol sebagai pemlastis untuk meningkatkan fleksibilitas film. Bahan lain, seperti kitosan atau komponen lipid, juga dapat dikaji untuk memperbaiki karakteristik tertentu dari kemasan (Rusmawati & Annazhifah., 2026).

Namun, setiap formulasi diperlukan pengujian karena penambahan bahan tertentu dapat meningkatkan satu sifat, tetapi juga dapat menurunkan sifat lainnya. Oleh sebab itu, diperlukan pengujian terhadap fleksibelitas, pemanjangan, ketebalan, kelarutan, dan kemampuan menghambat perpindahan uap air untuk mengetahui kualitas film kemasan yang dihasilkan.

Penerapan kemasan ini juga harus disesuaikan dengan jenis produk pangan. Misalnya produk kering tertentu, sehingga edible packaging menjadi inovasi kemasan apabila karakteristik film dapat menjaga kualitas dan mutu produk selama penyimpanan.

Edible packaging sebelum diterapkan, juga diperlukan pengujian kemasan dari segi keamanan pangan, daya tahan, dan kemampuan melindungi produk. Selain itu, biaya produksi dan dampak lingkungan dari limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan hingga pembuangan juga perlu dipertimbangkan agar penggunaannya benar-benar memberikan manfaat.

Berbagai tantangan tersebut pada akhirnya membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut agar inovasi ini bisa diimplementasikan secara luas dan berkelanjutan.

Prospek dan Fokus Pengembangan di Masa Depan

Pati singkong berpotensi dikembangkan sebagai bahan dasar edible packaging karena banyak ditemukann di Indonesia, mudah diperoleh, dan mampu membentuk lapisan tipis seperti plastik.

Penggunaan bahan pati singkong dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik pada produk pangan tertentu. Namun, sifatnya yang sensitif terhadap air dan kekuatan fleksibilitasnya masih menjadi tantangan untuk penerapannya.

Pengembangan selanjutnya perlu difokuskan pada perbaikan formulasi, pengujian karakteristik fisik dan mekanis, serta evaluasi keamanan dan kemampuan kemasan untuk mempertahankan mutu dan kualitas pangan.

Penelitian mengenai biaya produksi dan dampak lingkungan juga diperlukan sebelum kemasan diterapkan secara luas. Dengan pengembangan yang tepat, edible packaging berbasis pati singkong menjadi peluang salah satu inovasi kemasan pangan yang aman dan ramah lingkungan dalam berkelanjutan.

Referensi

  • Putu, N., Arwini, D., Studi, P., Industri, T., Teknik, F., Bali, U. M., & Utara, P. D. (2022). Sampah plastik dan upaya pengurangan timbulan sampah plastik. 5(1), 72–82.
  • Rusmawati, D. A., & Annazhifah, N. (2026). KARAKTERISTIK MEKANIK DAN FISIK EDIBLE FILM PATI UMBI DENGAN DENGAN BERBAGAI KONSENTRASI GLISEROL. Jurnal Sains dan Teknologi Pangan, 11(3).
  • Wahyu, E., Nasution, H., & Harahap, H. (2025). Jurnal Teknik Kimia USU Sintesis dan Karakterisasi Edible Film Berbahan Dasar Limbah Kulit Kopi dengan Penambahan Gliserol dan Sorbitol sebagai Plasticizer Synthesis and Characterization of Edible Film Based on Coffee Peel Waste with the Addition of Glycerol and Sorbitol as Plasticizers. 14(1), 27–35.

Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Raden Mas Said Surakarta.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar