KtHx54QkBr383xDR2xK8jWF4FPsDN0wkvFCwXh9V
Bookmark

Ketika Sampah Menjadi Cermin Kelalaian Kita

Sampah di Pelabuhan Muara Baru.(Foto: KOMPAS.com)

Ketika mendengar kabar bahwa ratusan ribu ton sampah plastik masuk ke laut Indonesia, hal pertama yang muncul adalah pertanyaan ‘siapa yang harus disalahkan’, dan pertanyaan tersebut justru perlu dimulai dari diri sendiri. Sebab, sebelum sampah sampai ke laut, ada tangan manusia yang menggunakannya, membuangnya, atau membiarkannya begitu saja.

Oleh: Sania Salmawardani*

Persoalan sampah sering kali dianggap sebagai masalah yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Kita membuang satu bungkus makanan ke tempat yang salah dan merasa bahwa dampaknya tidak akan berarti. 

Padahal, jika kebiasaan tersebut dilakukan oleh jutaan orang, sampah yang awalnya terlihat kecil dapat berubah menjadi persoalan lingkungan yang besar. Dari sini saya melihat bahwa masalah sampah bukan hanya persoalan kurangnya tempat pembuangan, tetapi juga persoalan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat.

Menanggapi persoalan tersebut, masyarakat tidak bisa hanya menuntut pemerintah untuk membersihkan lingkungan jika dalam kehidupan sehari-hari kita sendiri masih terbiasa menggunakan plastik sekali pakai, tidak memilah sampah, atau membuang sampah sembarangan. 

Pemerintah memang memiliki tanggung jawab dalam menyediakan sistem pengelolaan sampah yang baik. Namun, masyarakat juga mempunyai kewajiban untuk mengurangi sampah dan mengelolanya dengan benar. 

Lingkungan yang bersih bukan sesuatu yang muncul dengan sendirinya setelah petugas kebersihan bekerja, tetapi merupakan hasil dari kebiasaan banyak orang.

Peran Mahasiswa Biologi dalam Pencemaran Sampah Laut

Sebagai mahasiswa Biologi, melihat persoalan ini dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Sampah plastik bukan hanya benda yang mengotori lingkungan. Ketika masuk ke sungai dan laut, sampah tersebut dapat berinteraksi dengan berbagai organisme dan ekosistem. 

Hewan laut dapat terlilit atau menelan plastik karena mengiranya sebagai makanan. Plastik yang terfragmentasi juga dapat berubah menjadi mikroplastik yang kemudian masuk ke dalam tubuh organisme.

Ilmu Biologi membuat persoalan sampah menjadi lebih dekat dengan kehidupan kita. Dalam suatu ekosistem, setiap organisme saling berhubungan. Ketika satu bagian ekosistem terganggu, organisme lain juga dapat terkena dampaknya. 

Sampah yang awalnya kita anggap sebagai benda mati dan tidak berguna ternyata dapat mengganggu kehidupan organisme, merusak habitat, bahkan berpotensi masuk ke dalam rantai makanan.

Dengan ini, membuang sampah sebenarnya bukan sekadar persoalan "membuang barang yang sudah tidak kita perlukan". Kita sedang memindahkan masalah dari tempat kita ke lingkungan yang lebih luas. 

Apa yang kita buang hari ini mungkin tidak terlihat lagi besok, tetapi bukan berarti masalah tersebut hilang. Bisa jadi sampah tersebut berpindah ke sungai, laut, tanah, atau bahkan kembali kepada manusia melalui lingkungan dan rantai makanan.

Karena itu, perubahan dalam persoalan sampah tidak harus selalu dimulai dari tindakan besar. Memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa botol minum sendiri, menggunakan kembali barang yang masih layak, dan tidak membuang sampah ke sungai merupakan tindakan sederhana. Namun, jika dilakukan secara konsisten dan bersama-sama, kebiasaan kecil tersebut dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar.

Pada akhirnya, sampah dapat dilihat sebagai cermin dari hubungan manusia dengan lingkungannya. Kita sering merasa memiliki hak untuk menikmati lingkungan yang bersih dan sehat, tetapi terkadang lupa bahwa ada tanggung jawab yang harus dilakukan untuk mempertahankannya. 

Laut yang tercemar bukan hanya akibat sampah yang terlihat mengambang di permukaannya, tetapi juga merupakan akumulasi dari kebiasaan manusia yang dilakukan terus-menerus.

Refrensi:

  • JAKARTA, KOMPAS.com – Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Muhammad Reza Cordova, mengungkapkan 350.000 ton sampah plastik masuk ke laut Indonesia selama 2024.

Penulis adalah Mahasiswa Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar