KtHx54QkBr383xDR2xK8jWF4FPsDN0wkvFCwXh9V
Bookmark

Dosen IPB University Petakan Lahan KWT Ciharashas untuk Pengembangan Sistem Pertanian Terpadu

Foto: TIM PKM IPB Saat Melakukan Sosialisasi dan Pemetaan Lahan di KWT/Istimewa

Bogor, jurnalistiwa.comTim Pengabdian kepada Masyarakat IPB University mengawali program pemberdayaan berbasis kemitraan masyarakat melalui sosialisasi dan pemetaan lahan untuk penerapan Integrated Farming System (IFS) di Kelompok Wanita Tani (KWT) Ciharashas, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Selasa (16/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung di sekretariat dan lahan KWT Ciharashas, RT 06/RW 01, Kampung Ciharashas, tersebut menjadi tahap awal pengembangan sistem pertanian terpadu yang mengintegrasikan subsektor tanaman, perikanan, dan peternakan.

Tim pelaksana dipimpin Dr. Doni Sahat Tua Manalu, S.E., M.Si., dari Program Studi Manajemen Agribisnis IPB University. Ia didampingi Dr.Eng. Henry Kasmanhadi Saputra, S.Pi., M.Si., IPU., serta Agief Julio Pratama, S.P., M.Si., dari Program Studi Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Lurah Mulyaharja Muslim Yuliantono, S.Sos., Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) Kelurahan Mulyaharja Agus Faisal, serta Ketua KWT Ciharashas, Umi, bersama para anggota kelompok.

Dalam pemaparannya, Doni mengatakan program tersebut diarahkan untuk menekan biaya produksi sekaligus memperkuat kemandirian pangan rumah tangga melalui penerapan sistem pertanian terpadu yang memanfaatkan keterkaitan antara tanaman, perikanan, dan peternakan.

“Tujuan dari program ini adalah menekan biaya produksi dan memperkuat kedaulatan pangan rumah tangga berbasis sistem pertanian terpadu nirlimbah,” kata Doni.

Menurut dia, penerapan IFS diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan anggota KWT sekaligus mendorong pengelolaan usaha pertanian yang berkelanjutan.

Sementara itu, Henry menjelaskan salah satu inovasi yang akan diterapkan adalah teknologi nanobubble. Teknologi tersebut akan digunakan untuk mendukung peningkatan produktivitas pada sektor perikanan dan budidaya hidroponik, sekaligus membantu mengurangi aroma yang ditimbulkan dari kegiatan perikanan.

“Kami akan menerapkan sistem baru dengan menggunakan mesin nanobubble yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas di bidang perikanan dan pertanian secara hidroponik serta meminimalkan aroma ke lingkungan,” ujarnya.

Selain itu, Agief menyampaikan bahwa pengelolaan limbah organik menjadi salah satu komponen penting dalam sistem pertanian terpadu yang dirancang. Tim akan memperkenalkan metode bin composter serta memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik.

Setelah sosialisasi dan sesi perkenalan, tim bersama pemerintah kelurahan, penyuluh pertanian, pengurus, dan anggota KWT melakukan peninjauan langsung terhadap lahan produktif seluas sekitar 800 meter persegi.

Pemetaan lahan dilakukan untuk menentukan zonasi pembangunan demplot percontohan IFS. Rencana tersebut mencakup area bedengan tanaman hortikultura, instalasi hidroponik, kolam pemeliharaan ikan, kandang unggas, serta unit pengolahan limbah organik menjadi pupuk padat dan pupuk organik cair.

Lurah Mulyaharja Muslim Yuliantono mengapresiasi pendampingan yang dilakukan IPB University. Menurutnya, penerapan sistem pertanian terpadu dapat menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kemandirian pangan masyarakat sekaligus meningkatkan kesejahteraan anggota KWT.

“Kami berharap penerapan program ini dapat mendukung kemandirian pangan lokal secara berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan anggota KWT melalui diversifikasi produk hortikultura, perikanan, dan peternakan,” kata Muslim.

Harapan serupa disampaikan PPL Kelurahan Mulyaharja Agus Faisal. Ia berharap demplot pertanian terpadu yang dikembangkan tidak hanya berjalan sebagai proyek percontohan, tetapi dapat dikelola secara mandiri dan direplikasi oleh kelompok tani lainnya.

“Saya berharap model percontohan pertanian terpadu ini dapat terus berjalan secara mandiri dan dapat diduplikasi ke kelompok-kelompok tani lainnya,” ujar Agus.

Ketua KWT Ciharashas, Umi, menyatakan kesiapan anggotanya untuk terlibat dalam seluruh rangkaian program, mulai dari pelatihan, penerapan budidaya terpadu, hingga pengelolaan manajemen usaha.

“Kami sangat berterima kasih karena tim dosen IPB University memberikan kepercayaan kepada KWT Ciharashas sebagai mitra dalam program pengabdian masyarakat BIMA tahun 2026,” kata Umi.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan survei lapangan bersama untuk menentukan lokasi demplot IFS. Pemetaan tersebut menjadi dasar bagi tahapan berikutnya, yakni pembangunan dan penerapan model pertanian terpadu yang mengintegrasikan produksi pangan, pemanfaatan limbah, dan pengelolaan usaha KWT secara berkelanjutan. (YA)

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar