Cuaca Ekstrem di Seluruh Dunia Picu Peluang Penurunan Hasil Pertanian hingga Perubahan Hasil Kelautan - OPINI
![]() |
| Cuaca ekstrem efek El Nino (Ilustrasi) |
Cuaca ekstrem kini sudah dirasakan di seluruh dunia dan diperkirakan masih akan berlanjut hingga November 2026. Tanaman serta hewan turut merasakan efek cuaca ekstrem yang terjadi, hal ini dapat memicu penurunan hasil pertanian hingga kelautan.
JURNALISTIWA.com - Cuaca ekstrem yang terjadi saat ini merupakan
efek dari El Nino. Dilansir dari World Meteorologic Organization (WMO)
berjudul WMO: Prepare for El Nino (2026) menyebutkan
bahwa El Nino diperkirakan akan mencapai dominasi
suhu diatas normal diseluruh dunia pada
Juni-Agustus. El Nino adalah fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudra
Pasifik bagian tengah hingga timur. Di Indonesia secara umum El Nino
mengakibatkan kondisi kering dan rendahnya curah hujan. Di
Indonesia ancaman kekeringan dan kondisi cuaca ekstrem ini bukan
hanya efek dari El Nino tapi juga efek kemarau yang akan
terjadi.
Dilansir dari Badan Meteorologi, Klimatologi,
dan Geofisika (BMKG) pada kamis (5/6), Ketua BMKG Teuku Faisal
Fathani menegaskan bahwa El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomena
yang berbeda, namun keduanya dapat mempengaruhi kondisi
curah hujan di Indonesia.
Pengaruh Terhadap Pertanian Di Indonesia
kondisi kering dan kekurangan air karena
curah hujan yang rendah dapat mengganggu pertumbuhan
tanaman, serta mudah terjangkit penyakit tanaman dan meningkatnya
hama tanaman, hal ini akan mengakibatkan penurunan produksi dan ketidakstabilan harga.
Sebagai komoditas pangan nomor satu di
Indonesia, padi tentu menjadi perhatian masyarakat, terlebih jika
berkaitan dengan ketidakstabilan harga. Beberapa varietas tanaman
padi memiliki toleransi yang baik terhadap lahan kering, namun
beberapa varietas memiliki toleransi yang buruk terhadap lahan
kekeringan seperti varietas IR64, Menthik Wangi
dan Rokan. Hal ini berpengaruh terhadap jumlah anakan
produktif, presentase pembungaan dan bobot gabah per rumpun.
Saat kondisi cuaca ekstrem terjadi
penting untuk menentukan varietas yang sesuai dengan lahan dan keadaan
yang ada. Karena bukan hanya beras yang memiliki varietas dan
berbeda toleransinya terhadap cuaca ekstrem. Beberapa komoditas lain yang
dapat terpengaruh oleh kekeringan seperti, berkurangnya
pengisian tongkol dan biji pada jagung, gagalnya
pembungaan pada kopi, mati muda karna kekeringan untuk
tanaman cabai. Maka selain dari pemilihan varietas yang sesuai,
perlulah juga teknologi yang memadai agar lahan selalu dalam keadaan
optimal.
Respon Kementerian Pertanian
Terhadap El Nino Di Indonesia
Menanggapi himbauan (BMKG) mengenai ancaman El
Nino 2026 yang akan menimbulkan kekeringan. Kementerian Pertanian
melakukan beberapa upaya untuk meminimalisir dampak yang dapat
terjadi. Dilansir dari media sosial Instagram kementerian pertanian,
menteri pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan lima strategi
percepatan mitigasi kekeringan melingkupi: pemetaan wilayah rawan
kekeringan, penguatan sistem peringatan dini, percepatan tanam di daerah
potensial juga pemanfaatan lahan rawa & program cetak sawah, serta
optimalisasi pengelolaan air (irigasi & pompanisasi) yang berada di
berbagai daerah.
Daerah yang belum memiliki irigasi pompa maupun
sumur dapat mengajukan secara online secepatnya untuk percepatan
pembuatan irigasi pompa agar semua daerah di Indonesia
memiliki kesiapan saat El Nino terjadi.
“Yang masih butuh, seluruh
Indonesia silahkan mengusulkan dari sekarang. Irigasi pompa, sumur
dalam atau sumur dangkal diusulkan secara online dan cepat dalam satu
sampai dua minggu, karna kita harus cepat untuk mengatur anggaran prioritas dan
merealisasikannya.” Tegas Mentan Amran.
Dampak El Nino Terhadap Kelautan Indonesia
Bukan hanya di darat, efek cuaca ekstrem
juga berdampak langsung maupun secara tidak langsung pada sektor kelautan
dan perikanan, jika dalam sektor pertanian diperkirakan akan banyak
dampak negatif dibandingkan dampak positif, namun sektor kelautan dan
perikanan justru sebaliknya. Karena dalam sektor kelautan dan perikanan
dampak positif lebih dominan terasa dibandingkan dengan dampak yang
diperkirakan.
Meski dampak positif lebih dominan
namun resiko dampak negatif harus diwaspadai
seperti resiko coral bleaching (pemutihan karang) di
wilayah tertentu akibat perubahan kondisi laut. Karena itu, pemantauan wilayah
laut begitu penting, karena bukan hanya untuk
memahami resiko yang dapat terjadi, tapi
juga untuk mengoptimalkan segala peluang pemanfaatan sumber daya
laut dengan baik dan berkelanjutan.
Peningkatan Perikanan di
Sejumlah Perairan Indonesia
Dilansir dari Badan Riset dan Inovasi Nasional
(BRIN) berjudul: Potensi El
Nino Tingkatkan Produktivitas Perikanan di Sejumlah
Perairan Indonesia. Pada Rabu
(3/6), Profesor University of Maryland, R. Dwi
Susanto, memaparkan bahwa ketika El Nino terjadi, suhu laut
di beberapa perairan Indonesia cenderung menurun
karena perpindahan massa air hangat ke bagian timur Samudra Pasifik.
“Pada saat El Niño, produktivitas perairan di
selatan Jawa dan Sumatra meningkat karena konsentrasi klorofil menjadi lebih
tinggi. Kondisi ini mendukung ketersediaan pakan alami dan berpotensi
meningkatkan kelimpahan ikan,” paparnya dalam forum yang
diselenggarakan Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN
bersama University of Maryland, Selasa (2/6).
Diamati dari fenomena El
Nino sebelumnya, wilayah-wilayah di perairan selatan Jawa, Bali,
dan Sumatra menunjukkan peningkatan produktivitas biologis yang ditandai
oleh tingginya konsentrasi klorofil di permukaan laut, lanjut Dwi.
Nelayan Mudah Mendapatkan Tuna
El Nino bukan
hanya mempengaruhi produktivitas perairan, tapi juga dapat
mengubah distribusi ikan pelagis
besar, seperti tuna. Walaupun beberapa populasi
tuna mengikuti pergerakan massa air hangat ke arah timur Pasifik,
perubahan struktur kolom air dan kedalaman termoklin yang lebih
dangkal di beberapa wilayah perairan Indonesia justru dapat
memberikan keuntungan bagi aktivitas penangkapan ikan tuna.
“Pada beberapa wilayah, tuna menjadi lebih
dekat ke permukaan sehingga lebih mudah ditangkap. Karena itu, dampak El Nino
terhadap sektor perikanan tidak selalu negatif,” ujarnya.
Pertanian, Perikanan dan Kelautan
Indonesia
Fenomena El Nino menunjukkan bahwa satu perubahan
iklim dapat membawa dampak yang berbeda bagi setiap sektor dan keberlangsungan
ekonomi petani serta nelayan. Di bidang pertanian, kondisi cuaca yang
lebih kering dan suhu yang meningkat menyebabkan tanaman rentan terserang hama,
mengalami gangguan pertumbuhan, gagalnya pembungaan, hingga mati muda
sehingga mengurangi hasil panen petani.
Namun di sisi lain, sektor perikanan dan kelautan
di beberapa wilayah justru memperoleh keuntungan melalui meningkatnya
ketersediaan pakan alami di perairan yang mendukung keberadaan
ikan dalam jumlah lebih banyak, dan tuna yang lebih
dekat kepermukaan sehingga memudahkan nelayan memperoleh hasil
tangkapan.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa adaptasi dan
pengelolaan sumber daya yang tepat sangat diperlukan untuk menghadapi dampak
El Nino. Dengan strategi yang sesuai, kerugian pada sektor
yang terdampak dapat diminimalkan, sementara peluang pada sektor yang
diuntungkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan demi menjaga ketahanan
pangan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani dan nelayan
yang merasakan dampaknya secara langsung. (lk)
*Mahasiswa program studi Agribisnis fakultas Sains dan teknologi
UIN Syatif Hidayatullah Jakarta
