Senioritas Kampus: Tradisi yang Perlu Dipertanyakan
Oleh: Ratu Balqist Az Zahra*
Masuk perguruan tinggi seharusnya menjadi awal yang
menyenangkan bagi mahasiswa baru. Mereka datang dengan harapan mendapat teman,
belajar banyak hal, dan mulai menata masa depan. Karena itu, kegiatan
pengenalan kampus semestinya membantu mereka merasa diterima. Sayangnya, tujuan
tersebut bisa hilang ketika kegiatan justru diisi perlakuan yang membuat
peserta takut atau malu.
Bayangkan seorang mahasiswa baru melakukan kesalahan kecil,
lalu dijadikan bahan ejekan di depan peserta lain. Ketika ia terlihat
keberatan, muncul jawaban, “Begitu saja kok tersinggung.” Dalam keadaan seperti
ini, masalahnya bukan sekadar perbedaan selera humor. Ada orang yang merasa
direndahkan, tetapi tidak memiliki cukup ruang untuk menyampaikan keberatannya.
Menurut saya, kebiasaan membenarkan perlakuan semacam itulah
yang perlu dihentikan. Kampus memang perlu mengajarkan kedisiplinan dan
tanggung jawab. Namun, keduanya dapat dibangun melalui aturan yang masuk akal
dan contoh yang baik. Tidak ada alasan untuk menjadikan penghinaan sebagai
syarat agar mahasiswa dianggap kuat atau layak diterima dalam pergaulan.
Karena itu, tradisi senioritas di kampus perlu dipertanyakan
kembali, terutama ketika kebiasaan yang diwariskan justru mengabaikan rasa
hormat dan martabat mahasiswa baru. Tradisi yang telah berlangsung lama tidak
otomatis menjadi tradisi yang baik. Ukurannya seharusnya terletak pada manfaat
yang diberikan dan dampaknya bagi mahasiswa yang mengikutinya.
Ketika Senioritas
Kehilangan Makna Membimbing
Hubungan antara senior dan mahasiswa baru sebenarnya bisa
memberi banyak manfaat. Senior dapat membantu menjelaskan cara mengikuti
perkuliahan, mengenalkan organisasi, atau berbagi pengalaman menghadapi tugas.
Bagi mahasiswa yang merantau, kehadiran mereka bahkan bisa menjadi tempat
bertanya ketika belum mengenal lingkungan kampus.
Hubungan itu menjadi persoalan saat pengalaman dan perbedaan
angkatan dipakai untuk menuntut kepatuhan tanpa batas. Mahasiswa baru seolah
harus selalu menurut karena takut dianggap melawan. Padahal, menghormati senior
tidak berarti menyerahkan hak untuk menolak perlakuan yang merendahkan. Rasa
hormat juga perlu ditunjukkan senior kepada mahasiswa yang dibimbingnya.
Tentu tidak semua teguran dapat disebut perundungan. Panitia
tetap boleh mengingatkan peserta yang terlambat atau tidak menjalankan tugas.
Perbedaannya terletak pada cara dan tujuan teguran diberikan. Menjelaskan
kesalahan akan membantu peserta memperbaiki diri. Sebaliknya, mengejek keadaan
fisik atau mempermalukan seseorang secara berulang hanya membuatnya merasa
tidak dihargai.
Alasan “dari dulu juga begitu” pun tidak cukup untuk
mempertahankan sebuah kebiasaan. Mahasiswa yang pernah menerima perlakuan buruk
justru mempunyai kesempatan untuk menghentikannya. Pengalaman tersebut
seharusnya membantu mereka memahami perasaan junior, bukan menjadi pembenaran
untuk melakukan hal serupa. Tradisi perlu dinilai dari manfaatnya bagi peserta,
bukan semata-mata dari lamanya tradisi tersebut berlangsung.
Penelitian Najwa Shabrina Dinanty, Amanda Juliani Putri, dan
Gazali Rahman (2023) mengenai budaya senioritas dan perundungan oleh mahasiswa
di lingkungan kampus dapat menjadi bahan untuk memahami persoalan ini. Kajian
tersebut membahas hubungan budaya senioritas dengan tindakan yang merugikan
mahasiswa. Hal ini memperlihatkan pentingnya melihat senioritas bukan hanya
sebagai hubungan antara mahasiswa dari angkatan berbeda, tetapi juga dari cara
hubungan tersebut dijalankan.
Menurut saya, persoalan senioritas juga berkaitan dengan
ketimpangan posisi antara senior dan mahasiswa baru. Senior biasanya lebih
mengenal lingkungan kampus, memiliki pengalaman organisasi, dan memahami aturan
kegiatan. Sebaliknya, mahasiswa baru masih berusaha menyesuaikan diri.
Perbedaan ini sebenarnya dapat menjadi kesempatan bagi senior untuk membimbing.
Namun, ketika posisi tersebut digunakan untuk menuntut kepatuhan tanpa memberi
ruang untuk bertanya atau menolak, hubungan yang seharusnya mendidik justru
berubah menjadi tekanan.
Keadaan ini dapat membuat perundungan terus berulang.
Mahasiswa baru mungkin memilih diam karena khawatir dianggap tidak menghormati
senior, dijauhi teman, atau mengalami kesulitan ketika mengikuti kegiatan
berikutnya. Ketika tidak ada yang berani menyampaikan keberatan, pelaku dapat
menganggap tindakannya sebagai sesuatu yang dapat diterima. Sementara itu,
mahasiswa lain yang menyaksikan kejadian tersebut mungkin ikut diam karena
tidak ingin terlibat. Akibatnya, kebiasaan yang merugikan dapat bertahan bukan
hanya karena tindakan pelaku, tetapi juga karena lingkungan membiarkannya.
Di sinilah pentingnya membedakan tradisi yang bermanfaat
dengan kebiasaan yang sekadar diwariskan. Tradisi yang baik membantu mahasiswa
belajar bekerja sama, bertanggung jawab, dan menghargai perbedaan. Sebaliknya,
tradisi yang mengandalkan rasa takut tidak otomatis membentuk kedisiplinan.
Kampus perlu berani mengevaluasi kegiatan yang selama ini dianggap biasa, bukan
hanya karena kegiatan tersebut sudah berlangsung lama, melainkan berdasarkan
manfaat dan dampaknya bagi mahasiswa.
Hal ini membuat saya berpandangan bahwa kegiatan mahasiswa
juga perlu mencerminkan nilai yang dipelajari di ruang kuliah. Membahas sikap
saling menghargai akan terasa janggal apabila ejekan terus dibiarkan dalam
kegiatan organisasi. Mahasiswa membutuhkan contoh yang dekat dengan keseharian,
termasuk dari senior dan dosen yang mendampingi mereka. Pendidikan tentang
etika dan kemanusiaan seharusnya tidak berhenti pada materi perkuliahan, tetapi
terlihat dalam perilaku sehari-hari.
Membangun Kampus yang Berani Mendengar
Perubahan dapat dimulai dengan memperjelas tujuan kegiatan
pengenalan kampus. Peserta seharusnya pulang dengan memahami layanan akademik,
mengenal lingkungan belajar, dan memiliki teman baru. Jika sebuah tugas tidak
membantu tujuan tersebut dan hanya membuat peserta malu, panitia perlu
mempertimbangkan kembali alasan tugas itu diberikan.
Kampus juga perlu memastikan bahwa batas perilaku dipahami
sebelum kegiatan dimulai. Panitia harus mengetahui cara menegur yang pantas,
sementara peserta perlu diberi kesempatan bertanya atau menyampaikan keberatan.
Bertanya bukan berarti tidak disiplin. Penjelasan yang terbuka justru membantu
mahasiswa memahami tanggung jawabnya tanpa harus merasa ditekan.
Selain pencegahan, harus ada tempat mengadu yang dapat
dipercaya. Mahasiswa perlu mengetahui siapa yang bisa dihubungi ketika
mengalami perlakuan tidak pantas. Jika masalah melibatkan panitia, pengaduan
tidak semestinya hanya ditangani panitia tersebut. Pihak kampus perlu
menyediakan jalur lain agar mahasiswa tidak merasa bergantung kepada orang yang
dikeluhkan.
Setiap laporan perlu diperiksa dengan mendengarkan pihak
terkait dan memperhatikan bukti yang tersedia. Identitas pelapor harus dijaga,
begitu pula keamanannya setelah melapor. Jangan sampai mahasiswa diminta berani
berbicara, tetapi kemudian dibiarkan menghadapi ancaman atau pengucilan.
Kepercayaan terhadap saluran pengaduan tumbuh dari penanganan yang nyata, adil,
dan tidak memihak.
Rekan mahasiswa pun dapat membantu melalui tindakan
sederhana. Tidak ikut menertawakan ejekan, menemani teman mencari bantuan, atau
menjelaskan kejadian yang disaksikan dapat menjadi dukungan berarti. Namun,
tanggung jawab penyelesaian tetap perlu dijalankan pihak kampus. Korban dan
teman-temannya tidak seharusnya dibebani untuk membereskan persoalan ini
sendiri.
Pada akhirnya, mengubah budaya senioritas tidak cukup dengan
mengganti beberapa aturan atau menyampaikan imbauan sebelum kegiatan dimulai.
Kampus juga perlu mengevaluasi kebiasaan yang berlangsung, mendengarkan
pengalaman mahasiswa, dan memastikan bahwa pelanggaran ditangani secara adil.
Tanpa langkah nyata, larangan perundungan hanya akan menjadi aturan tertulis
yang tidak tercermin dalam kehidupan kampus.
Bagi saya, kampus yang mendidik adalah kampus yang memberi kesempatan untuk belajar tanpa kehilangan harga diri. Kedisiplinan tetap diperlukan, tetapi harus disampaikan dengan penghormatan. Sudah waktunya senioritas digunakan untuk membimbing dan tradisi diperiksa kembali manfaatnya. Mahasiswa baru datang untuk menempuh pendidikan, bukan untuk membuktikan seberapa banyak penghinaan yang sanggup mereka tahan.(r/lk)
