Pengaruh Ponsel Pintar Terhadap Interaksi Sosial
![]() |
| Ilustrasi penguruh ponsel pintar (jurnalistiwa/gemini) |
Oleh: Syahdan Taufik*
Tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi saat ini berkembang sangat pesat seiring kemajuan zaman dan ilmu pengetahuan. Khususnya ponsel pintar (smartphone), perangkat ini menawarkan berbagai fitur canggih yang memberikan kemudahan bagi penggunanya dalam menjalani kehidupan sehari-hari, seperti komunikasi jarak jauh, transaksi digital, hingga penyebaran informasi secara cepat.
Di kalangan remaja saat ini, mereka yang tidak memilikinya sering kali dianggap asing atau ketinggalan zaman. Bahkan, tidak jarang di antara mereka saling beradu gengsi untuk memiliki smartphone keluaran terbaru, termahal, dan tercanggih. Berdasarkan laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan riset Sensor Tower tahun 2026, sebanyak 84,31% dari 235,26 juta pengguna internet di Indonesia menggunakan smartphone.
Angka ini menempatkan masyarakat Indonesia di peringkat kedua global dalam total durasi penggunaan gawai dengan akumulasi mencapai 414 miliar jam (APJII, 2026; Sensor Tower, 2026).
Sebagai makhluk sosial, manusia menjadikan interaksi sosial sebagai aspek fundamental dalam kehidupan. Interaksi sosial merupakan hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun antar-kelompok, di mana satu pihak dapat memengaruhi pihak lainnya (Retalia dkk., 2022).
Masalahnya, ponsel pintar saat ini hampir selalu menyita waktu harian kita. Survei APJII 2026 mencatat kelompok terbesar pengguna internet di Indonesia, yaitu 43,4% responden, mengakses internet sekitar 4 hingga 6 jam dalam sehari (Bisnis.com, 2026).
Berdasarkan tingginya durasi penggunaan layar
(screen time) tersebut, timbul pertanyaan penting: apakah durasi
penggunaan yang panjang ini secara signifikan memengaruhi interaksi sosial?
Dinamika Realitas Lapangan dan Ambivalensi Hasil Riset
Fenomena penggunaan ponsel pintar di tengah masyarakat menyajikan realitas yang unik ketika disandingkan dengan temuan-temuan ilmiah. Kejadian seperti ini sebenarnya sering kita temui sehari-hari: orang-orang berkumpul di satu tempat, tetapi masing-masing sibuk dengan layarnya sendiri.
Di Panti Asuhan Salib Putih Salatiga, pimpinan yayasan bercerita bahwa anak-anak asuhnya menjadi kurang peka terhadap lingkungan sekitar; bahkan ada yang tidak tahu temannya jatuh karena sibuk dengan ponsel di kamar. Menurut pimpinan yayasan, anak-anak hanya diizinkan memakai ponsel 2 hingga 3 jam sehari, tetapi mereka sendiri mengaku bisa menatap layar 7 hingga 10 jam sehari (Retalia dkk., 2022).
Fenomena serupa ditemukan pada mahasiswa psikologi di
Samarinda. Ada yang menggunakan ponsel sekitar 12 jam per hari, dan ada pula
yang mengaku lebih suka berdiam diri di kamar dengan ponselnya daripada menemui
tamu yang datang (Deslia dkk., 2026).
Berdasarkan fenomena tersebut, publik mungkin langsung menyimpulkan bahwa semakin lama seseorang bermain ponsel, semakin buruk pula interaksi sosialnya. Namun, hasil penelitian empiris ternyata tidak sesederhana itu.
Retalia dkk. (2022) meneliti 42 remaja di Panti Asuhan Salib Putih dan hasilnya tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Nilai signifikansinya sebesar 0,590 dan R-Square-nya hanya 0,007, yang artinya penggunaan ponsel cuma menjelaskan sekitar 0,7% variansi dari interaksi sosial mereka.
Penelitian
pada 168 mahasiswa psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda juga
menemukan hal yang sama: nilai koefisien korelasinya 0,112 dengan signifikansi
0,149, menandakan hubungan yang positif tetapi sangat lemah dan tidak
signifikan secara statistik (Deslia dkk., 2026).
Mengapa hal itu bisa terjadi? Para peneliti memiliki beberapa dugaan. Retalia dkk. (2022) menduga pandemi Covid-19 turut berperan, karena saat itu sekolah dan berbagai kegiatan dialihkan ke sistem daring sehingga ponsel menjadi kebutuhan utama, bukan sekadar pilihan hiburan.
Sementara itu, pada penelitian mahasiswa psikologi di Samarinda, sebagian besar responden berada pada kategori sedang, baik untuk penggunaan ponsel (67,9%) maupun interaksi sosial (66,7%), sehingga variasi datanya kurang beragam.
Selain itu,
ponsel mereka tidak hanya dipakai untuk hiburan, tetapi juga untuk urusan
kuliah, koordinasi kegiatan kampus, serta menjaga komunikasi dengan dosen
maupun teman (Deslia dkk., 2026).
Kendati demikian, hasil ini bukan berarti ponsel pintar pasti aman terhadap interaksi sosial. Ada penelitian lain yang justru menemukan pengaruh nyata. Musdalifah dan Indriani (2017) pada mahasiswa Politeknik Negeri Samarinda menemukan bahwa interaksi sosial dipengaruhi oleh intensitas penggunaan ponsel sebesar 13,3%.
Sementara itu, Muflih dkk. (2017) pada remaja
SMA di Sleman menemukan bahwa tingkat ketergantungan pada ponsel berhubungan
signifikan dengan interaksi sosial. Jadi, hasilnya memang bervariasi bergantung
pada siapa yang diteliti, kapan penelitian dilakukan, dan bagaimana cara mengukurnya.
Kontekstualisasi Peran Gawai: Dari Durasi Layar Menuju
Etika Interaksi
Berbagai temuan statistik tersebut membawa kita pada pemahaman baru mengenai substansi hubungan antara gawai dan pola komunikasi manusia. Berdasarkan beberapa penelitian tadi, tolok ukur utama dampaknya mungkin bukan terletak pada seberapa lama kita memegang ponsel, melainkan untuk apa dan bagaimana kita memakainya.
Peneliti dari Samarinda menyimpulkan bahwa
kuncinya ada pada etika dan cara penggunaan. Ponsel dapat mengganggu hubungan
sosial jika dipakai secara berlebihan saat sedang bersama orang lain (phubbing—perilaku
mengabaikan lawan bicara karena sibuk dengan ponsel), tetapi bisa juga membantu
memperluas jaringan dan memudahkan koordinasi jika dimanfaatkan secara tepat
(Deslia dkk., 2026).
Sebagai mahasiswa ilmu komunikasi, penulis melihat dinamika ini sebagai pengingat bahwa ponsel pada dasarnya hanyalah sebuah alat (medium). Perangkat ini bisa mendekatkan yang jauh, tetapi juga bisa menjauhkan yang dekat jika kita tidak mampu mengendalikan diri.
Tindakan sederhana seperti
menyimpan ponsel ketika berbicara tatap muka sudah cukup menunjukkan bentuk
penghormatan kita kepada lawan bicara. Penelitian empiris memang tidak secara
mutlak memastikan bahwa ponsel merusak interaksi sosial, tetapi hal tersebut
bukan alasan bagi kita untuk bersikap acuh terhadap etika berkomunikasi di
kehidupan nyata.
