KtHx54QkBr383xDR2xK8jWF4FPsDN0wkvFCwXh9V
Bookmark

Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar: Penyesuaian Pembelajaran dan Tantangan Guru

Oleh: Vani Octaviani*

Kurikulum menjadi salah satu bagian penting dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah dasar. Kurikulum tidak hanya menjadi pedoman mengenai materi yang dipelajari siswa, tetapi juga menjadi arah bagi guru dalam merencanakan kegiatan, memilih strategi pembelajaran, dan menilai perkembangan peserta didik. 

Dalam pelaksanaannya, guru perlu memperhatikan bahwa setiap siswa memiliki kemampuan, kesiapan, dan kebutuhan belajar yang berbeda. Karena itu, penerapan kurikulum perlu disertai pemahaman terhadap kondisi siswa dan situasi pembelajaran di kelas.

Memahami Kebutuhan Siswa melalui Asesmen Diagnostik

Untuk mengakomodasi perbedaan kondisi peserta didik tersebut, sekolah tempat observasi ini dilaksanakan telah menerapkan Kurikulum Merdeka. 

Berdasarkan hasil wawancara, pembelajaran diarahkan agar lebih memperhatikan kebutuhan peserta didik. Guru menjelaskan bahwa pembelajaran berdiferensiasi menjadi salah satu pendekatan utama yang digunakan untuk menghadapi perbedaan kemampuan siswa. 

Selain itu, pembelajaran mendalam (deep learning) juga menjadi perhatian dalam kegiatan belajar. Kedua hal tersebut menunjukkan bahwa penerapan kurikulum bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi juga tentang bagaimana guru membantu siswa memahami materi dengan cara dan dukungan yang sesuai.

Salah satu langkah awal yang krusial dilakukan guru adalah melaksanakan asesmen diagnostik pada awal semester atau ketika memulai bab baru. Asesmen ini digunakan untuk mengetahui kesiapan belajar siswa, baik dari aspek kognitif maupun nonkognitif. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan guru dalam menentukan metode, media, serta bentuk pendampingan. 

Langkah ini penting karena kemampuan siswa dalam satu kelas tidak selalu sama. Ada siswa yang cepat memahami penjelasan, ada yang membutuhkan pengulangan, dan ada pula yang memerlukan dukungan lebih khusus.

Hasil asesmen awal tidak seharusnya hanya menjadi catatan, tetapi dapat digunakan sebagai dasar untuk merencanakan pembelajaran. Guru perlu mempertimbangkan tingkat kesiapan siswa ketika memilih kegiatan dan memberi bantuan. Siswa yang sudah memahami materi dapat diberi kesempatan untuk memperluas pemahamannya, sedangkan siswa yang masih mengalami kesulitan dapat memperoleh penjelasan ulang atau bimbingan tambahan. 

Penyesuaian seperti ini membantu pembelajaran lebih dekat dengan kebutuhan peserta didik, tanpa mengabaikan tujuan belajar yang ingin dicapai.

Strategi Pelaksanaan dan Penilaian Pembelajaran

Selain penyesuaian materi, strategi penyampaian di kelas juga memegang peranan penting. Dalam wawancara, guru menjelaskan bahwa keterlibatan siswa dapat dibangun melalui kegiatan pembuka yang menarik, apersepsi, diskusi kelompok, tanya jawab, permainan edukatif, kuis, serta proyek atau percobaan apabila sesuai dengan materi. 

Tidak semua kegiatan harus digunakan dalam satu pertemuan. Guru perlu memilih aktivitas yang mendukung tujuan pembelajaran dan sesuai dengan karakteristik siswa. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berpusat pada penjelasan guru, tetapi memberi kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi dan mengembangkan pemahamannya.

Penerapan kurikulum yang efektif juga berkaitan erat dengan evaluasi. Guru menyampaikan bahwa penilaian formatif dapat dilakukan dengan mengamati keaktifan siswa, kerja sama kelompok, respons ketika tanya jawab, dan hasil kuis. 

Sementara itu, penilaian sumatif dapat dilakukan melalui tes tertulis, praktik, atau proyek yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Penggunaan beberapa bentuk penilaian membantu guru melihat perkembangan siswa dari berbagai sisi. 

Hasil penilaian tersebut juga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan bagian materi yang perlu dijelaskan kembali atau siswa yang memerlukan pendampingan.

Gambaran Praktik Pembelajaran IPAS Berbasis PBL

Penerapan Kurikulum Merdeka secara konkret dapat dilihat dalam kegiatan pembelajaran IPAS kelas VI yang diamati, yaitu materi ciri khas negara dan bentang alam dunia. Dalam kegiatan tersebut, guru menggunakan Papan Interaktif Digital (PID) untuk menyampaikan materi dan memberikan pertanyaan. Siswa secara bergantian maju ke depan untuk mencoba menjawab. 

Kegiatan ini menjadi salah satu contoh penggunaan media untuk mendorong keterlibatan siswa. Namun, pengamatan pada satu kegiatan IPAS tidak mewakili seluruh pelaksanaan kurikulum di sekolah; kegiatan tersebut hanya memberi gambaran tentang salah satu cara guru mengajar.

Jika ditinjau dari perencanaannya, modul ajar yang digunakan untuk pembelajaran tersebut memuat model Problem Based Learning (PBL) dan pendekatan pembelajaran mendalam. 

Dalam rancangan kegiatan, siswa diarahkan untuk mengamati peta atau gambar, berdiskusi dalam kelompok, mencocokkan kartu negara dan bentang alam, mengerjakan lembar kerja peserta didik (LKPD), serta mempresentasikan hasil diskusi. 

Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan bagian dari rancangan pembelajaran dalam modul. Oleh karena itu, kegiatan yang tercantum dalam modul perlu dibedakan dari kegiatan yang benar-benar terlihat selama observasi.

Tantangan Keberagaman Kelas dan Keterbatasan Sarana

Di balik perencanaan dan praktik pembelajaran tersebut, guru juga menghadapi berbagai tantangan nyata di lapangan. Berdasarkan wawancara, kemampuan siswa di kelas cukup beragam dan terdapat seorang siswa yang membutuhkan dukungan khusus. 

Kondisi ini menuntut guru untuk mengatur kegiatan belajar dan memberikan pendampingan yang sesuai. Guru dapat mengulang penjelasan, memberi bantuan secara individual, memberikan motivasi, atau mengatur kerja sama teman sebaya dengan arahan yang jelas. 

Upaya tersebut perlu dilakukan agar siswa tetap merasa nyaman dan memiliki kesempatan untuk belajar.

Tantangan lain yang tak kalah krusial berkaitan dengan fasilitas pendukung. Guru menyampaikan bahwa listrik dan koneksi internet terkadang tidak stabil, sementara beberapa buku yang tersedia sudah lama atau dalam kondisi kurang baik. Keadaan tersebut dapat memengaruhi penggunaan media digital dan sumber belajar. 

Karena itu, guru perlu menyiapkan alternatif, seperti kartu gambar, peta cetak, diskusi, atau media sederhana lain yang tersedia. Dengan adanya alternatif, kegiatan belajar tetap dapat berjalan ketika perangkat digital tidak dapat digunakan.

Untuk mengimbangi berbagai kendala tersebut, guru secara aktif mengikuti pelatihan dan kegiatan komunitas belajar untuk meningkatkan kemampuan mengajar serta menyesuaikan diri dengan perubahan kurikulum. Kegiatan tersebut dapat membantu guru dalam menyusun modul ajar dan memilih strategi yang sesuai dengan kebutuhan siswa. 

Meski demikian, upaya pengembangan kemampuan guru akan lebih optimal apabila didukung fasilitas sekolah yang memadai, buku yang layak, listrik yang stabil, dan akses internet yang dapat diandalkan. Penerapan kurikulum membutuhkan peran guru sekaligus dukungan lingkungan sekolah.

Sinergi Perencanaan, Dukungan, dan Pembelajaran Bermakna

Dari hasil observasi dan wawancara, dapat dipahami bahwa penerapan Kurikulum Merdeka berkaitan erat dengan perencanaan pembelajaran, pemahaman terhadap kebutuhan siswa, pemilihan kegiatan, serta penilaian yang berkelanjutan. 

Asesmen diagnostik membantu guru mengenali kesiapan siswa, sedangkan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran mendalam menjadi bagian dari upaya menyesuaikan proses belajar. 

Contoh pembelajaran IPAS memperlihatkan salah satu penggunaan media dan kegiatan yang melibatkan siswa, sementara wawancara juga menunjukkan adanya tantangan dalam hal perbedaan kemampuan dan fasilitas.

Pada akhirnya, penerapan kurikulum tidak cukup hanya dengan menyiapkan modul ajar atau menggunakan teknologi. Guru perlu memahami kebutuhan peserta didik, merancang kegiatan yang sesuai, memeriksa perkembangan belajar, dan memberikan dukungan ketika siswa mengalami kesulitan. 

Sekolah juga perlu menyediakan sarana serta kesempatan pengembangan kompetensi bagi guru. Jika perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan dukungan sekolah berjalan selaras, Kurikulum Merdeka dapat diterapkan dengan lebih bermakna bagi peserta didik.

Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Pendidikan Dasar dan Matematika, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Siliwangi.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar