KtHx54QkBr383xDR2xK8jWF4FPsDN0wkvFCwXh9V
Bookmark

Duduk Berkelompok Belum Tentu Berkolaborasi: Potret Pembelajaran Mendalam di Kelas SD

Oleh: Arinda Nasyidatul Hamdah*

Pagi itu, saya melangkah masuk ke sebuah kelas III di Sekolah Dasar Negeri 1 Cipadangmanah. Suasana kelas terasa hangat, dengan dinding berwarna kuning lembut dan cahaya yang masuk dari jendela di sisi kiri ruangan. Meja-meja tidak berjajar menghadap papan tulis seperti kelas pada umumnya, melainkan disusun berkelompok, dengan empat siswa di setiap kelompok. Sebagian siswa menunduk menulis, sebagian berdiskusi kecil, dan seorang anak berdiri berpindah dari satu meja ke meja lain. 

Sekilas, pemandangan itu terasa biasa saja. Namun ternyata, susunan meja itu bukan kebetulan. Gurunya menjelaskan bahwa siswa dikelompokkan sesuai kemampuan mereka. Dari sini muncul pertanyaan yang ingin saya telusuri: apakah mengelompokkan anak berdasarkan kemampuan benar-benar membantu mereka belajar, atau justru berisiko memberi label?

Pertanyaan tersebut penting diajukan karena arah kebijakan pendidikan kita saat ini menempatkan kolaborasi sebagai salah satu kompetensi utama. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menekankan pembelajaran mendalam (deep learning) yang mengutamakan proses berpikir tingkat tinggi, seperti pemecahan masalah, kolaborasi, dan upaya menemukan makna dari apa yang dipelajari. 

Kementerian juga menegaskan bahwa pembaruan yang dilakukan fokus pada penguatan pendekatan pembelajaran, bertumpu pada tiga prinsip utama: berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Konsekuensinya, tuntutan kepada guru tidak lagi sebatas menyampaikan materi, melainkan merancang pengalaman belajar yang melibatkan siswa secara aktif dan bersama-sama.

Potret Pembelajaran di Lapangan

Untuk melihat bagaimana tuntutan tersebut berjalan di lapangan, saya melakukan observasi selama dua jam di kelas III pada hari Kamis, 22 Oktober 2026. Tujuannya adalah mengamati dan memahami praktik langsung pembelajaran yang diampu oleh guru kelas. 

Perlu saya sampaikan secara terbuka bahwa hasil observasi ini sebaiknya dibaca sebagai potret satu kelas, bukan gambaran seluruh sekolah.

Selama pelajaran bahasa Sunda (Lumina) berlangsung, saya mencatat beberapa hal menarik. 

Pertama, meja siswa disusun berkelompok dan posisi duduk siswa tampak telah diatur. 

Kedua, siswa mengerjakan tugas dengan cara berbeda-beda: ada yang berdiskusi dengan teman sekelompok, ada yang mengerjakan sendiri, dan ada yang berpindah tempat. 

Ketiga, materi ditulis tangan di papan tulis dan siswa memanfaatkan buku cetak, sementara layar panel interaktif di depan kelas tidak menyala selama pelajaran berlangsung.

Alasan Pengelompokan dan Alur Kelas

Dalam sesi wawancara, guru menjelaskan bahwa keputusan mengelompokkan tempat duduk berdasarkan kemampuan anak bermula saat beliau menemukan beberapa siswa belum lancar membaca. Kondisi ini tergolong wajar mengingat kelas III merupakan masa peralihan dari kelas II. Dengan duduk berkelompok sesuai kemampuan, guru dapat lebih mudah memetakan tingkat pemahaman tiap anak dan memberikan materi yang sesuai. 

Prinsipnya, anak-anak mempelajari hal yang sama, tetapi dengan tingkat kedalaman yang berbeda. Selain kemampuan akademis, susunan tempat duduk juga mempertimbangkan tingkat keaktifan. Anak yang sangat aktif ditempatkan lebih dekat dengan guru agar mudah dipantau, meskipun di dalam satu kelompok tetap dipadukan berbagai karakter siswa.

Jalannya pembelajaran di kelas terbilang teratur. Guru memulai kegiatan dengan berdoa, melakukan pembiasaan membaca surah-surah pendek beserta artinya, mengabsen siswa, serta mengadakan ice breaking. 

Kegiatan dilanjutkan dengan mengulas pelajaran sebelumnya, menjelaskan materi baru, dan mengecek pemahaman siswa. Pemberian tugas menjadi instrumen penting bagi guru untuk memetakan mana siswa yang sudah paham dan mana yang belum.

Sebelum pelajaran berakhir, siswa diajak merangkum kembali apa yang telah dipelajari. Menurut pengamatan guru, siswa yang aktif umumnya lebih cepat paham dan rajin bertanya, sedangkan siswa yang pendiam cenderung sekadar memperhatikan. Bagi siswa yang pendiam, guru beberapa kali memberikan pertanyaan sederhana agar mereka tetap terlibat. 

Dalam kerja kelompok, guru juga mengamati dinamika interaksi siswa. Tidak jarang anak-anak SD melaporkan secara langsung kepada guru jika ada teman sekelompoknya yang tidak ikut mengerjakan tugas.

Pembelajaran Berdiferensiasi dan Risiko Pelabelan

Temuan di kelas ini memperlihatkan bahwa pengelompokan duduk berdasarkan kemampuan merupakan bentuk sederhana dari pembelajaran berdiferensiasi, yaitu menyesuaikan proses belajar dengan tingkat kesiapan siswa. 

Untuk tingkat kelas III, langkah ini sangat masuk akal. Guru tidak perlu menunggu hasil rapor atau ujian untuk mengetahui siswa yang tertinggal, melainkan mengamatinya setiap hari dan langsung menyesuaikan pendekatan materi.

Meskipun demikian, ada risiko yang patut diwaspadai: anak yang ditempatkan di kelompok yang dianggap "belum bisa" berpotensi merasa dirinya kurang mampu. Dalam praktiknya, guru mengantisipasi risiko tersebut dengan menyusun kelompok kerja secara heterogen atau campuran pada kesempatan lain, sehingga siswa dengan berbagai tingkat kemampuan dapat saling belajar dan membantu. 

Dengan kata lain, pengelompokan tempat duduk memiliki dua fungsi utama: satu untuk memetakan kemampuan, dan satu lagi untuk mempertemukan keberagaman.

Tantangan Guru, Modul Ajar, dan Keterbatasan Sarana

Pendekatan berdiferensiasi ini tentu menuntut usaha lebih dari pihak guru. Menyiapkan dua versi materi dan dua kriteria penilaian jelas menambah beban kerja, terutama di tengah keterbatasan media pembelajaran. Guru juga mengungkapkan tantangannya dalam menyusun diferensiasi pembelajaran agar bisa berjalan optimal. 

Selain itu, meskipun modul ajar dibutuhkan agar pembelajaran terencana dengan baik, kenyataan di kelas sering kali dinamis karena kondisi siswa yang berubah-ubah. Hal ini sejalan dengan berbagai temuan penelitian bahwa sebagian besar guru masih mengalami kesulitan dalam menyusun modul ajar berbasis deep learning. 

Penerapan kurikulum yang kurang tepat juga berisiko berhenti pada kepatuhan prosedural semata tanpa perubahan pedagogis yang bermakna. Oleh karena itu, fleksibilitas guru dalam menyesuaikan rencana dengan kondisi nyata di kelas justru patut dihargai.

Keterbatasan sarana juga memperlihatkan adanya jarak antara tuntutan kurikulum dan kenyataan di lapangan. Pembelajaran mendalam menuntut pengalaman belajar yang bermakna dan interaktif, sementara media teknologi seperti layar panel interaktif jumlahnya terbatas hanya satu unit untuk seluruh sekolah sehingga harus digunakan secara bergiliran. 

Akibatnya, kreativitas guru menjadi penopang utama: papan tulis, buku cetak, ice breaking, dan pertanyaan lisan harus menggantikan peran yang seharusnya bisa ditunjang oleh teknologi.

Di sisi lain, cara guru menangani siswa yang mengganggu proses belajar juga layak dicatat. Penanganannya dilakukan secara bertahap dan tidak dibebankan pada guru seorang diri, melainkan melibatkan rekan sejawat, kepala sekolah, hingga orang tua siswa. 

Pendekatan ini mencerminkan bahwa penanganan perilaku siswa merupakan tanggung jawab bersama yang mengedepankan keterlibatan anak daripada sanksi atau hukuman semata.

Catatan Reflektif Calon Pendidik

Melalui observasi ini, saya belajar bahwa susunan meja yang tampak sederhana ternyata menyimpan pertimbangan yang panjang tentang kebutuhan setiap anak. Di dalam satu meja kelompok, terpaut berbagai karakter siswa yang saling menyeimbangkan suasana belajar. 

Sebagai calon pendidik, saya makin menyadari bahwa kurikulum sebaik apa pun pada akhirnya diwujudkan melalui keputusan-keputusan kecil guru setiap hari seperti menentukan posisi duduk siswa atau melontarkan pertanyaan yang tepat agar anak pendiam ikut terlibat aktif.

Saya juga memahami bahwa modul ajar yang dirancang sedemikian rupa pada akhirnya harus beradaptasi dengan kondisi nyata siswa di kelas. Harapannya, sekolah dapat memperoleh dukungan sarana yang lebih memadai dan para guru mendapatkan pelatihan berkelanjutan. 

Dengan begitu, pembelajaran mendalam benar-benar dapat dirasakan oleh setiap anak dalam proses belajar mereka sehari-hari, bukan sekadar menjadi narasi yang tertulis di dalam dokumen kurikulum.

Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Pendidikan Dasar dan Matematika, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Siliwangi.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar