KtHx54QkBr383xDR2xK8jWF4FPsDN0wkvFCwXh9V
Bookmark

Bukan Sekadar Menghafal Kosakata: Cara Guru Menghidupkan Pembelajaran Bahasa Inggris di Kelas IV SD

Bukan Sekadar Menghafal Kosakata: Cara Guru Menghidupkan Pembelajaran Bahasa Inggris di Kelas IV SD

Oleh: Nova Nur Indah*

Belajar Bahasa Inggris di sekolah dasar tidak harus selalu dilakukan dengan menghafal daftar kata dari buku. Anak-anak juga perlu melihat, mendengar, mencoba, dan menggunakan kata-kata itu dalam situasi sederhana. 

Hal ini saya temukan saat mengamati pembelajaran Bahasa Inggris di kelas IV SD yang menerapkan Kurikulum Merdeka. Guru menggunakan kartu kosakata bergambar, mengajak peserta didik berlatih dialog, dan mengadakan permainan kartu. 

Dari kegiatan tersebut, saya melihat bahwa cara guru menyampaikan materi turut menentukan bagaimana anak terlibat dalam pembelajaran

Kartu Kosakata Membuat Belajar Lebih Konkret

Pada awal pembelajaran, guru menggunakan kartu yang berisi gambar serta kata dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Kartu itu membantu peserta didik menghubungkan gambar dengan makna dan tulisan. 

Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga melihat dan mencocokkan informasi yang dipelajari.

Selama kegiatan berlangsung, peserta didik terlihat antusias. Media yang digunakan memang sederhana, tetapi membantu pembelajaran terasa lebih hidup. 

Menurut saya, hal terpenting bukanlah seberapa canggih atau mahal media yang dipakai, melainkan apakah media tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran dan membantu anak memahami materi.

Dari Kosakata ke Dialog

Setelah mengenalkan kosakata, guru mengajak peserta didik melafalkan kata-kata Bahasa Inggris melalui dialog sederhana yang telah disiapkan. Dengan begitu, kegiatan belajar tidak berhenti pada mengingat arti kata. Peserta didik juga mendapat kesempatan untuk mengucapkannya dan berlatih merespons lawan bicara.

Guru kemudian menggunakan permainan kartu yang berbeda. Dalam permainan ini, peserta didik mencocokkan kartu bergambar dengan huruf atau kosakata Bahasa Inggris. 

Salah satu contohnya adalah gambar lebah yang dipasangkan dengan kata “bee”. Peserta didik yang berhasil menyelesaikan permainan mendapat kesempatan memilih seorang teman untuk melakukan dialog di depan kelas.

Bagi saya, bagian ini menarik karena permainan tidak sekadar menjadi selingan. Kegiatan mencocokkan kartu tetap berkaitan dengan tujuan pembelajaran, yaitu mengenali kosakata dan menggunakannya dalam dialog sederhana. 

Meski begitu, guru perlu memastikan setiap anak mendapat kesempatan ikut serta, bukan hanya peserta didik yang paling cepat atau paling percaya diri.

Kurikulum Merdeka dalam Kegiatan Kelas

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari pihak sekolah, sekolah tersebut menerapkan Kurikulum Merdeka. Dalam pembelajaran yang saya amati, penggunaan kartu, permainan, dan dialog memberi ruang bagi peserta didik untuk terlibat secara aktif. 

Namun, satu kegiatan saja belum cukup untuk menilai penerapan kurikulum secara menyeluruh. 

Hal itu juga perlu dilihat dari tujuan pembelajaran, perencanaan, asesmen, dan tindak lanjut hasil belajar. 

Karena itu, tulisan ini menggambarkan praktik yang saya temukan di kelas, bukan penilaian menyeluruh terhadap pelaksanaan kurikulum di sekolah tersebut.

Peran Guru dan Pentingnya Evaluasi

Hal yang paling berkesan bagi saya adalah cara guru berinteraksi dengan peserta didik. Guru tidak hanya menjelaskan materi dari depan kelas, tetapi juga mendekati mereka dan memperhatikan keterlibatan selama kegiatan. 

Ketika ada peserta didik yang kurang aktif, guru berusaha mengajaknya ikut serta.

Dalam belajar Bahasa Inggris, anak bisa merasa ragu saat harus melafalkan kata yang belum dikuasai. Kepercayaan diri setiap peserta didik berbeda, sehingga ada yang langsung berani mencoba dan ada pula yang membutuhkan dorongan. 

Perhatian guru kepada peserta didik yang kurang aktif memberi mereka kesempatan untuk ikut berlatih.

Meski suasana kelas tampak antusias, hal itu belum tentu berarti semua peserta didik telah memahami materi. Guru tetap perlu memeriksa pemahaman, misalnya dengan meminta anak mencocokkan gambar dan kata secara mandiri, melafalkan kosakata, atau melakukan dialog singkat. 

Umpan balik yang diberikan secara bertahap dapat membantu mereka memperbaiki pengucapan tanpa merasa malu. Guru juga dapat mengatur giliran agar setiap anak mendapat kesempatan berpartisipasi.

Pelajaran dari Kelas Sederhana

Dari observasi ini, saya memahami bahwa pengalaman belajar yang bermakna dapat dibangun melalui media sederhana, permainan, dialog, dan interaksi positif antara guru dan peserta didik. 

Kartu membantu anak mengenali kosakata, permainan membuat mereka terlibat, sedangkan dialog memberi kesempatan untuk menggunakan kata dalam komunikasi.

Pada akhirnya, pembelajaran yang baik bukan hanya pembelajaran yang membuat anak senang. Anak juga perlu memahami materi, mempraktikkan keterampilan, dan memperoleh umpan balik. 

Bagi saya, menghidupkan pembelajaran berarti menghubungkan kegiatan dengan tujuan yang jelas sekaligus memberi setiap peserta didik kesempatan untuk mencoba dan berkembang.

Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Pendidikan Dasar dan Matematika (FPDM), IKIP Siliwangi.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar