Bukan Sekadar Menghafal Kosakata: Cara Guru Menghidupkan Pembelajaran Bahasa Inggris di Kelas IV SD
Oleh: Nova Nur Indah*
Belajar Bahasa Inggris di sekolah dasar tidak harus selalu dilakukan dengan menghafal daftar kata dari buku. Anak-anak juga perlu melihat, mendengar, mencoba, dan menggunakan kata-kata itu dalam situasi sederhana.
Hal ini saya temukan saat mengamati pembelajaran Bahasa Inggris di kelas IV SD yang menerapkan Kurikulum Merdeka. Guru menggunakan kartu kosakata bergambar, mengajak peserta didik berlatih dialog, dan mengadakan permainan kartu.
Dari kegiatan tersebut, saya
melihat bahwa cara guru menyampaikan materi turut menentukan bagaimana anak
terlibat dalam pembelajaran
Kartu Kosakata
Membuat Belajar Lebih Konkret
Pada awal pembelajaran, guru menggunakan kartu yang berisi gambar serta kata dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Kartu itu membantu peserta didik menghubungkan gambar dengan makna dan tulisan.
Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan
guru, tetapi juga melihat dan mencocokkan informasi yang dipelajari.
Selama kegiatan berlangsung, peserta didik terlihat antusias. Media yang digunakan memang sederhana, tetapi membantu pembelajaran terasa lebih hidup.
Menurut saya, hal
terpenting bukanlah seberapa canggih atau mahal media yang dipakai, melainkan
apakah media tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran dan membantu anak
memahami materi.
Dari Kosakata ke
Dialog
Setelah
mengenalkan kosakata, guru mengajak peserta didik melafalkan kata-kata Bahasa
Inggris melalui dialog sederhana yang telah disiapkan. Dengan begitu, kegiatan
belajar tidak berhenti pada mengingat arti kata. Peserta didik juga mendapat
kesempatan untuk mengucapkannya dan berlatih merespons lawan bicara.
Guru kemudian menggunakan permainan kartu yang berbeda. Dalam permainan ini, peserta didik mencocokkan kartu bergambar dengan huruf atau kosakata Bahasa Inggris.
Salah
satu contohnya adalah gambar lebah yang dipasangkan dengan kata “bee”. Peserta
didik yang berhasil menyelesaikan permainan mendapat kesempatan memilih seorang
teman untuk melakukan dialog di depan kelas.
Bagi saya, bagian ini menarik karena permainan tidak sekadar menjadi selingan. Kegiatan mencocokkan kartu tetap berkaitan dengan tujuan pembelajaran, yaitu mengenali kosakata dan menggunakannya dalam dialog sederhana.
Meski begitu, guru perlu
memastikan setiap anak mendapat kesempatan ikut serta, bukan hanya peserta
didik yang paling cepat atau paling percaya diri.
Kurikulum Merdeka
dalam Kegiatan Kelas
Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari pihak sekolah, sekolah tersebut menerapkan Kurikulum Merdeka. Dalam pembelajaran yang saya amati, penggunaan kartu, permainan, dan dialog memberi ruang bagi peserta didik untuk terlibat secara aktif.
Namun, satu kegiatan saja belum cukup untuk menilai penerapan kurikulum secara menyeluruh.
Hal itu juga perlu dilihat dari tujuan pembelajaran, perencanaan, asesmen, dan tindak lanjut hasil belajar.
Karena itu, tulisan ini
menggambarkan praktik yang saya temukan di kelas, bukan penilaian menyeluruh
terhadap pelaksanaan kurikulum di sekolah tersebut.
Peran Guru dan
Pentingnya Evaluasi
Hal yang paling berkesan bagi saya adalah cara guru berinteraksi dengan peserta didik. Guru tidak hanya menjelaskan materi dari depan kelas, tetapi juga mendekati mereka dan memperhatikan keterlibatan selama kegiatan.
Ketika ada peserta didik yang
kurang aktif, guru berusaha mengajaknya ikut serta.
Dalam belajar Bahasa Inggris, anak bisa merasa ragu saat harus melafalkan kata yang belum dikuasai. Kepercayaan diri setiap peserta didik berbeda, sehingga ada yang langsung berani mencoba dan ada pula yang membutuhkan dorongan.
Perhatian guru
kepada peserta didik yang kurang aktif memberi mereka kesempatan untuk ikut
berlatih.
Meski suasana kelas tampak antusias, hal itu belum tentu berarti semua peserta didik telah memahami materi. Guru tetap perlu memeriksa pemahaman, misalnya dengan meminta anak mencocokkan gambar dan kata secara mandiri, melafalkan kosakata, atau melakukan dialog singkat.
Umpan balik yang diberikan secara bertahap dapat
membantu mereka memperbaiki pengucapan tanpa merasa malu. Guru juga dapat
mengatur giliran agar setiap anak mendapat kesempatan berpartisipasi.
Pelajaran dari
Kelas Sederhana
Dari observasi ini, saya memahami bahwa pengalaman belajar yang bermakna dapat dibangun melalui media sederhana, permainan, dialog, dan interaksi positif antara guru dan peserta didik.
Kartu membantu anak mengenali kosakata, permainan membuat
mereka terlibat, sedangkan dialog memberi kesempatan untuk menggunakan kata
dalam komunikasi.
Pada akhirnya, pembelajaran yang baik bukan hanya pembelajaran yang membuat anak senang. Anak juga perlu memahami materi, mempraktikkan keterampilan, dan memperoleh umpan balik.
Bagi saya, menghidupkan pembelajaran berarti menghubungkan kegiatan
dengan tujuan yang jelas sekaligus memberi setiap peserta didik kesempatan
untuk mencoba dan berkembang.
.jpeg)