KtHx54QkBr383xDR2xK8jWF4FPsDN0wkvFCwXh9V
Bookmark

Belajar dari Ruang Kelas: Perjuangan Guru Menemani Setiap Perkembangan Murid

Oleh: Rika Nur Fadilah*

Tidak semua murid datang ke sekolah dengan kesiapan belajar yang sama. Di dalam satu kelas, ada anak yang mampu memahami bacaan dengan cepat, tetapi ada pula yang masih mengeja kata demi kata. Sebagian dapat menyelesaikan tugas secara mandiri, sementara yang lain membutuhkan arahan dan pendampingan lebih lama. 

Perbedaan ini menjadi bagian dari kehidupan sekolah yang sering kali tidak terlihat ketika pembelajaran hanya dinilai dari ketuntasan materi.

Bagi seorang guru, menghadapi keberagaman kemampuan tersebut bukan perkara sederhana. Guru harus mampu membagi perhatian, menentukan strategi, sekaligus memastikan kegiatan belajar tetap berjalan. 

Di tengah tuntutan administrasi dan perubahan kurikulum, kebutuhan murid tetap menjadi hal yang tidak boleh terabaikan. Dari sinilah makna pembelajaran sebenarnya dapat dilihat, yaitu ketika guru mampu mengenali bahwa setiap anak memiliki perjalanan belajar yang berbeda.

Gambaran tersebut saya temukan melalui kegiatan observasi dan wawancara bersama Ibu Nadia, guru kelas III di SDN Melong Asih 5. Sejak mulai mengajar pada tahun 2020, ia telah memiliki pengalaman mengajar di kelas rendah maupun kelas tinggi. 

Perjalanan tersebut membuatnya berhadapan dengan berbagai karakteristik dan kemampuan murid. Dari pengalamannya, saya memperoleh gambaran bahwa mengajar tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana yang telah disiapkan sebelumnya.

Realitas Keberagaman Murid dan Adaptasi Kurikulum

Tantangan nyata dari keberagaman tersebut terlihat jelas saat dinamika sekolah diuji oleh perubahan kondisi zaman dan penyesuaian kurikulum. Pengalaman mengajar pada masa pandemi Covid-19 menjadi salah satu cerita yang memperlihatkan tantangan tersebut. 

Saat itu, pembelajaran masih menggunakan Kurikulum 2013 dan sebagian besar kegiatan dilakukan melalui pemberian tugas melalui aplikasi WhatsApp. Ibu Nadia menjelaskan bahwa tidak semua murid memiliki telepon genggam untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh. 

Bahkan, beberapa keluarga mengalami kesulitan dalam menerima informasi dan mendampingi anak mengerjakan tugas. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kesempatan belajar juga dipengaruhi oleh keadaan keluarga dan ketersediaan fasilitas pendukung.

Pengalaman selama pandemi memberikan pelajaran bahwa proses pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kondisi kehidupan murid. Pembelajaran yang dirancang dengan baik belum tentu berjalan optimal apabila fasilitas dan pendampingan di rumah belum memadai. 

Guru pun perlu memikirkan cara agar materi tetap dapat diterima meskipun keadaan tidak selalu mendukung. Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan metode yang digunakan, tetapi juga kemampuan menyesuaikan diri terhadap situasi.

Perubahan juga dirasakan ketika sekolah mulai menerapkan Kurikulum Merdeka. Menurut Ibu Nadia, modul ajar yang digunakan memiliki bentuk lebih ringkas dibandingkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada kurikulum sebelumnya. 

Penyajian perangkat yang lebih sederhana dirasakan membantu guru dalam mempersiapkan kegiatan pembelajaran. Meskipun demikian, ia mengungkapkan bahwa materi dalam buku terkadang saling berkaitan sehingga perlu diolah kembali agar lebih mudah disampaikan kepada murid.

Hal tersebut menunjukkan bahwa perubahan kurikulum tidak berhenti pada penyusunan dokumen baru. Ada tanggung jawab guru untuk menerjemahkan isi perangkat ajar menjadi kegiatan yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi kelas.

 Guru perlu mempertimbangkan materi, metode, media, serta cara mengetahui sejauh mana murid memahami pelajaran. Perangkat ajar dapat menjadi pedoman, tetapi pelaksanaannya tetap membutuhkan pertimbangan berdasarkan situasi yang dihadapi setiap hari.

Pendampingan Literasi Dasar dan Evaluasi Berorientasi Perkembangan

Di samping adaptasi perangkat ajar, sentuhan personal guru dalam membangun kemampuan mendasar murid menjadi fondasi yang sangat krusial. Salah satu persoalan yang cukup menarik perhatian saya dari pengalaman Ibu Nadia adalah kemampuan membaca murid. 

Ia menceritakan bahwa pada awal tahun ajaran terdapat sekitar enam hingga tujuh murid yang belum lancar membaca. Kondisi tersebut membuatnya mengambil langkah pendampingan tambahan dengan mengajak murid berlatih di perpustakaan setelah kegiatan pembelajaran. Waktu yang digunakan kurang lebih 30 menit, disertai komunikasi dengan orang tua agar anak tetap mendapatkan latihan membaca di rumah.

Upaya tersebut tidak dilakukan dalam waktu singkat. Menurut penuturan Ibu Nadia, setelah kurang lebih tiga bulan mendapatkan pendampingan, kemampuan membaca murid-murid tersebut mulai menunjukkan perkembangan. 

Cerita ini memperlihatkan bahwa kemajuan belajar terkadang membutuhkan perhatian yang lebih personal daripada kegiatan pembelajaran bersama di kelas. Apa yang mungkin terlihat sederhana, seperti membaca beberapa kalimat setiap hari, dapat menjadi langkah penting bagi anak yang sedang berusaha mengenali kemampuan dasarnya.

Kemampuan membaca memang memiliki peran penting dalam kehidupan belajar di sekolah. Ketika murid belum mampu membaca dengan lancar, mereka dapat mengalami kesulitan memahami instruksi, menemukan informasi, maupun mengerjakan soal tertulis. 

Hambatan tersebut tidak hanya berdampak pada pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi juga dapat memengaruhi pemahaman terhadap materi pelajaran lainnya. Karena itu, kemampuan membaca perlu mendapatkan perhatian sebagai salah satu dasar yang mendukung keberhasilan belajar.

Selain membaca, Ibu Nadia juga menyampaikan bahwa kemampuan menulis melalui kegiatan dikte masih menjadi tantangan bagi sebagian murid. Keadaan ini menunjukkan bahwa perkembangan kemampuan dasar tidak selalu berlangsung secara bersamaan. 

Ada anak yang sudah mulai lancar membaca, tetapi masih memerlukan latihan dalam menulis. Guru perlu melihat perkembangan tersebut secara menyeluruh agar pendampingan yang diberikan tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada kemampuan yang masih perlu dibangun.

Dari sini, saya melihat bahwa penilaian dalam pembelajaran seharusnya tidak hanya menjadi kegiatan untuk menentukan benar atau salahnya jawaban murid. Penilaian juga dapat membantu guru memahami bagian mana yang sudah dikuasai dan bagian mana yang masih membutuhkan perhatian.

Ketika seorang anak belum berhasil menyelesaikan tugas, guru perlu mencari tahu kesulitan yang mendasarinya. Dengan begitu, evaluasi bukan sekadar mengukur pencapaian, melainkan menjadi bahan pertimbangan untuk memperbaiki proses pembelajaran.

Inovasi Media Pembelajaran dan Refleksi Peran Utama Guru

Selain bimbingan secara langsung, efektivitas proses belajar-mengajar juga diperkuat oleh pemilihan media yang tepat serta pemahaman mendalam atas esensi profesi guru. Di samping pendampingan secara langsung, pemanfaatan media juga menjadi bagian dari kegiatan belajar di kelas Ibu Nadia. Berdasarkan hasil wawancara, ia menggunakan berbagai fasilitas dan sumber belajar, seperti laptop, akun belajar.id, Canva, video pembelajaran, lembar kerja peserta didik (LKPD), presentasi, serta proyektor. 

Kehadiran media tersebut memberikan variasi dalam penyampaian materi sehingga kegiatan belajar tidak hanya mengandalkan penjelasan secara lisan. Guru memiliki kesempatan untuk menghadirkan informasi melalui gambar, tayangan, maupun bentuk penyajian lainnya.

Menurut Ibu Nadia, media pembelajaran yang lebih modern dapat membantu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan memudahkan murid mengikuti materi. Akan tetapi, pemanfaatannya masih menyesuaikan ketersediaan fasilitas. 

Layar interaktif belum dapat digunakan setiap hari karena harus dipakai secara bergantian, sedangkan proyektor digunakan sesuai kebutuhan pembelajaran. Hal ini memperlihatkan bahwa pemanfaatan teknologi di sekolah tidak dapat dipisahkan dari kondisi sarana dan prasarana yang tersedia.

Kehadiran teknologi memang membuka lebih banyak kemungkinan dalam kegiatan belajar, tetapi penggunaannya tetap membutuhkan tujuan yang jelas. Video yang menarik belum tentu membuat murid memahami materi apabila tidak disertai penjelasan dan kegiatan yang mendukung. 

Begitu pula dengan presentasi dan kuis digital yang perlu dirancang sesuai kemampuan murid. Media seharusnya menjadi alat untuk membantu proses memahami, bukan sekadar pelengkap agar pembelajaran terlihat lebih menarik.

Pada kondisi tertentu, sumber belajar sederhana justru tetap memiliki peran yang besar. Buku, gambar cetak, diskusi, dan kegiatan praktik dapat menjadi pilihan ketika fasilitas digital tidak dapat digunakan. Hal yang terpenting bukan seberapa canggih media yang tersedia, melainkan bagaimana guru memilih dan menggunakannya sesuai tujuan pembelajaran. 

Sebab, kegiatan belajar yang baik tidak selalu membutuhkan perangkat mahal, tetapi membutuhkan perencanaan dan pemahaman terhadap apa yang benar-benar diperlukan murid.

Berbagai pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa tugas guru memiliki ruang yang jauh lebih luas daripada sekadar menyampaikan materi. Ada proses mengamati kemampuan anak, mengenali kesulitan, menentukan pendekatan, hingga membangun komunikasi dengan keluarga. 

Semua itu membutuhkan kesabaran dan kesediaan untuk terus menyesuaikan pembelajaran. Kurikulum memberikan arah, tetapi guru yang berhadapan langsung dengan murid memiliki tanggung jawab untuk memastikan arah tersebut dapat dijalankan dalam kehidupan kelas.

Sebagai mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kemampuan mengajar tidak cukup dibangun melalui penguasaan teori dan penyusunan perangkat pembelajaran. Calon guru juga perlu mengembangkan kepekaan dalam memahami karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan belajar anak. 

Pengalaman Ibu Nadia menunjukkan bahwa terkadang perkembangan murid tidak datang melalui perubahan besar, melainkan dari pendampingan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Hal tersebut menjadi pelajaran bahwa setiap usaha guru dapat memiliki arti dalam perjalanan pendidikan seorang anak.

Pada akhirnya, ruang kelas bukan hanya tempat berlangsungnya kegiatan menyampaikan dan menerima materi. Di dalamnya terdapat berbagai proses, tantangan, dan perkembangan yang tidak selalu dapat diukur melalui angka. Seorang murid mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk membaca, sementara murid lainnya memerlukan cara berbeda untuk memahami pelajaran. Keduanya tetap memiliki kesempatan untuk berkembang apabila mendapatkan perhatian dan pendampingan yang sesuai.

Pendidikan yang bermakna tidak selalu ditandai oleh lengkapnya perangkat ajar atau banyaknya teknologi yang digunakan. Maknanya justru terlihat ketika guru mampu memahami keadaan murid dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkembang sesuai kemampuannya. 

Perubahan kurikulum boleh terus berlangsung, tetapi perhatian terhadap kebutuhan belajar anak harus tetap menjadi bagian utama dari pendidikan. Sebab, di balik setiap proses belajar, ada seorang anak yang sedang berusaha tumbuh dan seorang guru yang memiliki peran untuk menemani perjalanannya.

Penulis merupakan Mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Pendidikan Dasar dan Matematika, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Siliwangi.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar