Kurikulum Merdeka di Ruang Kelas: Melihat Kreativitas Guru dan Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran IPAS di Sekolah Dasar
Oleh: Marwa Firda Yunifa*
Pendidikan di sekolah dasar tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi juga membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir, kreativitas, kerja sama, dan kemandirian.
Dalam mencapai tujuan tersebut, kurikulum menjadi salah satu pedoman penting bagi guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran.
Namun, keberhasilan kurikulum tidak hanya dilihat dari dokumen yang dimiliki sekolah, melainkan juga dari bagaimana penerapannya dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.
Untuk mengetahui bagaimana kurikulum diterapkan secara
langsung, dilakukan kegiatan observasi dan wawancara dengan guru di SD Negeri
Leuwigajah 5, khususnya pada kelas VI-B. Observasi ini berfokus pada penerapan
kurikulum, perencanaan pembelajaran, metode mengajar, penggunaan media
pembelajaran, keterlibatan peserta didik, serta kendala yang dihadapi guru
selama proses pembelajaran.
Kurikulum Merdeka sebagai Pedoman Pembelajaran
Berdasarkan hasil wawancara, SD Negeri Leuwigajah 5
menerapkan Kurikulum Merdeka dalam kegiatan pembelajaran. Kurikulum ini
memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan pembelajaran sesuai
dengan kebutuhan, kemampuan, dan karakteristik peserta didik.
Dalam penerapannya, guru tidak hanya berfokus pada
penyampaian materi, tetapi juga memperhatikan bagaimana peserta didik dapat
memahami dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh. Hal ini terlihat dari
perencanaan pembelajaran IPAS kelas VI-B yang mengangkat materi ciri khas
negara dan bentang alam dunia.
Guru menyusun perencanaan pembelajaran dengan memperhatikan
tujuan yang ingin dicapai, metode yang digunakan, serta media yang dapat
membantu siswa memahami materi. Salah satu hal menarik adalah penggunaan
pendekatan Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning yang menggabungkan tiga
unsur, yaitu Mindful Learning (belajar dengan kesadaran), Meaningful Learning
(belajar secara bermakna), dan Joyful Learning (belajar dengan menyenangkan).
Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya diminta
menghafal nama negara atau bentang alam, tetapi juga diajak memahami hubungan
antara kondisi alam dengan kehidupan masyarakat. Misalnya, mengapa masyarakat
yang tinggal di wilayah gurun memiliki kebiasaan, pakaian, dan bentuk tempat
tinggal yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan atau
hutan hujan.
Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran diarahkan agar siswa mampu memahami materi melalui contoh yang dekat dengan kehidupan dan lingkungan manusia.
Pembelajara IPAS yang Lebih Aktif dan Meyenangkan
Salah satu hal yang menarik dari kegiatan pembelajaran di
kelas VI-B adalah penggunaan metode yang bervariasi. Berdasarkan hasil
pengamatan dan wawancara, guru menggunakan metode Problem Based Learning (PBL),
diskusi kelompok, tanya jawab, serta kegiatan pembelajaran berbasis permainan.
Pada pembelajaran IPAS dengan materi ciri khas negara dan
bentang alam dunia, siswa diarahkan untuk melakukan kegiatan investigasi
sederhana melalui permainan yang disebut Misi Detektif Geografi. Dalam kegiatan
tersebut, siswa diajak mengamati gambar bentang alam, mencocokkan kartu bentang
alam dengan profil negara, kemudian mendiskusikan hubungan antara kondisi alam
dengan kehidupan masyarakat setempat.
Siswa juga diberikan kesempatan untuk bekerja sama dengan
teman sekelompoknya dalam menyelesaikan tugas. Setelah berdiskusi, perwakilan
kelompok menyampaikan hasil pekerjaan di depan kelas. Kegiatan seperti ini
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat, mendengarkan
pendapat teman, dan belajar bekerja sama.
Selain itu, guru juga memanfaatkan kuis dan permainan
edukatif untuk membuat suasana pembelajaran lebih menarik. Menurut saya,
penggunaan metode tersebut cukup baik karena anak-anak sekolah dasar umumnya
membutuhkan kegiatan belajar yang bervariasi agar tidak mudah merasa bosan.
Pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung juga dapat membantu mereka lebih mudah memahami materi. Dengan demikian, siswa tidak hanya menjadi pendengar ketika guru menjelaskan, tetapi juga ikut terlibat dalam proses menemukan pengetahuan.
Media Pembelaaran dan Pemanfaatan Teknologi
Selain metode pembelajaran, penggunaan media juga menjadi
salah satu hal yang diperhatikan dalam kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan
hasil observasi dan dokumen perencanaan pembelajaran, guru menggunakan beberapa
media, seperti buku pelajaran, LKPD, kartu bentang alam, peta dunia, atlas,
serta teknologi digital berupa Interactive Flat Panel (IFP) atau PID.
Penggunaan PID menjadi salah satu media yang menarik karena
dapat menampilkan gambar, peta dunia interaktif, dan tayangan visual mengenai
berbagai bentang alam di dunia. Melalui media tersebut, siswa dapat melihat
gambaran pegunungan, gurun, hutan hujan, dan berbagai kondisi geografis lainnya
dengan lebih jelas.
Guru juga menggunakan kartu bentang alam sebagai media
konkret dalam kegiatan kelompok. Kartu tersebut membantu siswa mencocokkan
gambar kondisi alam dengan informasi mengenai negara tertentu. Dengan
menggabungkan media digital dan media konkret, pembelajaran menjadi lebih
bervariasi dan memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa.
Dari hasil wawancara, penggunaan media teknologi dinilai
dapat membuat pembelajaran lebih menarik. Namun, masih terdapat kendala
berkaitan dengan sarana dan prasarana yang belum sepenuhnya memadai. Kondisi
ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tidak hanya
membutuhkan kemampuan guru, tetapi juga dukungan fasilitas dari sekolah.
Menurut saya, media pembelajaran tidak harus selalu menggunakan teknologi yang mahal atau canggih. Guru tetap dapat menggunakan media sederhana yang sesuai dengan materi. Hal terpenting adalah media tersebut dapat membantu siswa memahami pelajaran dan membuat mereka lebih tertarik mengikuti kegiatan pembelajaran.
Memahami Perbedaan Kemampuan Setiap Peserta Didik
Salah satu tantangan yang dihadapi guru dalam kegiatan
pembelajaran adalah adanya perbedaan kemampuan dan karakteristik peserta didik.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, kelas VI-B memiliki 25 orang siswa dengan
kemampuan belajar yang beragam. Ada siswa yang lebih cepat memahami materi,
tetapi ada juga yang membutuhkan penjelasan dan pendampingan lebih lanjut.
Perbedaan tersebut membuat guru perlu memperhatikan kondisi
setiap siswa ketika melaksanakan pembelajaran. Guru tidak dapat menggunakan
satu cara yang sama untuk seluruh peserta didik karena setiap anak memiliki
kebutuhan belajar yang berbeda.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah menerapkan tutor
sebaya, yaitu kegiatan belajar dengan melibatkan siswa untuk membantu teman
yang mengalami kesulitan memahami materi. Selain itu, guru juga melakukan
pendekatan yang lebih personal kepada siswa agar dapat mengetahui kesulitan
yang mereka hadapi.
Menurut saya, cara tersebut merupakan langkah yang baik
karena dapat membantu menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman. Siswa yang
belum memahami materi bisa mendapatkan bantuan dari teman maupun guru.
Sementara itu, siswa yang membantu temannya juga dapat melatih kemampuan
berkomunikasi dan meningkatkan pemahamannya sendiri.
Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berfokus pada hasil akademik, tetapi juga mengembangkan sikap saling membantu dan kerja sama antarsiswa.
Evaluasi Tantangan dan Tantangan yang Dihadapi Guru
Dalam kegiatan pembelajaran, evaluasi menjadi bagian penting
untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami materi yang telah dipelajari.
Berdasarkan informasi dari guru dan dokumen pembelajaran, evaluasi dilakukan
melalui asesmen formatif selama proses pembelajaran dan asesmen sumatif pada
akhir pembelajaran atau melalui hasil proyek akhir.
Asesmen formatif dilakukan dengan memperhatikan keaktifan
siswa, proses diskusi, kerja sama kelompok, serta hasil pengerjaan LKPD.
Sementara itu, asesmen sumatif digunakan untuk mengetahui pencapaian pemahaman
siswa setelah mengikuti pembelajaran.
Meskipun demikian, pelaksanaan pembelajaran masih memiliki
beberapa tantangan. Salah satunya adalah perbedaan kemampuan siswa yang
mengharuskan guru memberikan perhatian lebih kepada peserta didik tertentu.
Selain itu, keterbatasan sarana dan prasarana juga menjadi hal yang perlu
diperhatikan agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan lebih maksimal.
Guru juga menyampaikan pentingnya meningkatkan kualitas dan
kompetensi tenaga pendidik melalui komunitas belajar serta kegiatan pelatihan,
baik yang dilaksanakan di sekolah maupun di luar sekolah. Menurut saya,
peningkatan kompetensi guru sangat diperlukan karena perkembangan pendidikan
menuntut guru untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan
peserta didik.
Guru tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi, tetapi juga perlu memiliki kreativitas dalam memilih metode, mengembangkan media, dan menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa.
Pembelajaran yang Baik Dimulai dari Memahami Kebutuhan Siswa
Melalui kegiatan observasi dan wawancara di SD Negeri
Leuwigajah 5, saya mendapatkan pengalaman dan pemahaman baru mengenai bagaimana
kurikulum diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah dasar. Penerapan
Kurikulum Merdeka memberikan ruang bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran
yang lebih bervariasi dan memperhatikan kebutuhan peserta didik.
Penggunaan metode PBL, diskusi kelompok, permainan edukatif,
kuis, serta media digital menunjukkan bahwa pembelajaran dapat dikembangkan
menjadi kegiatan yang lebih menarik dan melibatkan siswa secara aktif. Selain
itu, penerapan tutor sebaya dan pendekatan personal juga memperlihatkan bahwa
guru perlu memahami perbedaan kemampuan setiap peserta didik.
Dari kegiatan ini, saya menyadari bahwa menjadi seorang guru
bukan hanya tentang menguasai materi pelajaran, tetapi juga tentang bagaimana
memahami karakteristik siswa, memilih cara mengajar yang tepat, dan menciptakan
suasana belajar yang menyenangkan.
Ke depannya, penerapan kurikulum di sekolah dasar perlu terus dikembangkan melalui peningkatan kemampuan guru, pemanfaatan media pembelajaran yang sesuai, serta dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Sebab, keberhasilan pendidikan bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak materi yang disampaikan, tetapi juga oleh bagaimana siswa dapat memahami, mengalami, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

.jpeg)