KtHx54QkBr383xDR2xK8jWF4FPsDN0wkvFCwXh9V
Bookmark

Kurikulum Merdeka di Ruang Kelas: Melihat Kreativitas Guru dan Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran IPAS di Sekolah Dasar

Oleh: Marwa Firda Yunifa*

Pendidikan di sekolah dasar tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi juga membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir, kreativitas, kerja sama, dan kemandirian. 

Dalam mencapai tujuan tersebut, kurikulum menjadi salah satu pedoman penting bagi guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. 

Namun, keberhasilan kurikulum tidak hanya dilihat dari dokumen yang dimiliki sekolah, melainkan juga dari bagaimana penerapannya dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.

Untuk mengetahui bagaimana kurikulum diterapkan secara langsung, dilakukan kegiatan observasi dan wawancara dengan guru di SD Negeri Leuwigajah 5, khususnya pada kelas VI-B. Observasi ini berfokus pada penerapan kurikulum, perencanaan pembelajaran, metode mengajar, penggunaan media pembelajaran, keterlibatan peserta didik, serta kendala yang dihadapi guru selama proses pembelajaran.

Kurikulum Merdeka sebagai Pedoman Pembelajaran

Berdasarkan hasil wawancara, SD Negeri Leuwigajah 5 menerapkan Kurikulum Merdeka dalam kegiatan pembelajaran. Kurikulum ini memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan karakteristik peserta didik.

Dalam penerapannya, guru tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga memperhatikan bagaimana peserta didik dapat memahami dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh. Hal ini terlihat dari perencanaan pembelajaran IPAS kelas VI-B yang mengangkat materi ciri khas negara dan bentang alam dunia.

Guru menyusun perencanaan pembelajaran dengan memperhatikan tujuan yang ingin dicapai, metode yang digunakan, serta media yang dapat membantu siswa memahami materi. Salah satu hal menarik adalah penggunaan pendekatan Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning yang menggabungkan tiga unsur, yaitu Mindful Learning (belajar dengan kesadaran), Meaningful Learning (belajar secara bermakna), dan Joyful Learning (belajar dengan menyenangkan).

Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya diminta menghafal nama negara atau bentang alam, tetapi juga diajak memahami hubungan antara kondisi alam dengan kehidupan masyarakat. Misalnya, mengapa masyarakat yang tinggal di wilayah gurun memiliki kebiasaan, pakaian, dan bentuk tempat tinggal yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan atau hutan hujan.

Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran diarahkan agar siswa mampu memahami materi melalui contoh yang dekat dengan kehidupan dan lingkungan manusia.

Pembelajara IPAS yang Lebih Aktif dan Meyenangkan

Salah satu hal yang menarik dari kegiatan pembelajaran di kelas VI-B adalah penggunaan metode yang bervariasi. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara, guru menggunakan metode Problem Based Learning (PBL), diskusi kelompok, tanya jawab, serta kegiatan pembelajaran berbasis permainan.

Pada pembelajaran IPAS dengan materi ciri khas negara dan bentang alam dunia, siswa diarahkan untuk melakukan kegiatan investigasi sederhana melalui permainan yang disebut Misi Detektif Geografi. Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak mengamati gambar bentang alam, mencocokkan kartu bentang alam dengan profil negara, kemudian mendiskusikan hubungan antara kondisi alam dengan kehidupan masyarakat setempat.

Siswa juga diberikan kesempatan untuk bekerja sama dengan teman sekelompoknya dalam menyelesaikan tugas. Setelah berdiskusi, perwakilan kelompok menyampaikan hasil pekerjaan di depan kelas. Kegiatan seperti ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat, mendengarkan pendapat teman, dan belajar bekerja sama.

Selain itu, guru juga memanfaatkan kuis dan permainan edukatif untuk membuat suasana pembelajaran lebih menarik. Menurut saya, penggunaan metode tersebut cukup baik karena anak-anak sekolah dasar umumnya membutuhkan kegiatan belajar yang bervariasi agar tidak mudah merasa bosan.

Pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung juga dapat membantu mereka lebih mudah memahami materi. Dengan demikian, siswa tidak hanya menjadi pendengar ketika guru menjelaskan, tetapi juga ikut terlibat dalam proses menemukan pengetahuan.

Media Pembelaaran dan Pemanfaatan Teknologi

Selain metode pembelajaran, penggunaan media juga menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan hasil observasi dan dokumen perencanaan pembelajaran, guru menggunakan beberapa media, seperti buku pelajaran, LKPD, kartu bentang alam, peta dunia, atlas, serta teknologi digital berupa Interactive Flat Panel (IFP) atau PID.

Penggunaan PID menjadi salah satu media yang menarik karena dapat menampilkan gambar, peta dunia interaktif, dan tayangan visual mengenai berbagai bentang alam di dunia. Melalui media tersebut, siswa dapat melihat gambaran pegunungan, gurun, hutan hujan, dan berbagai kondisi geografis lainnya dengan lebih jelas.

Guru juga menggunakan kartu bentang alam sebagai media konkret dalam kegiatan kelompok. Kartu tersebut membantu siswa mencocokkan gambar kondisi alam dengan informasi mengenai negara tertentu. Dengan menggabungkan media digital dan media konkret, pembelajaran menjadi lebih bervariasi dan memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa.

Dari hasil wawancara, penggunaan media teknologi dinilai dapat membuat pembelajaran lebih menarik. Namun, masih terdapat kendala berkaitan dengan sarana dan prasarana yang belum sepenuhnya memadai. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tidak hanya membutuhkan kemampuan guru, tetapi juga dukungan fasilitas dari sekolah.

Menurut saya, media pembelajaran tidak harus selalu menggunakan teknologi yang mahal atau canggih. Guru tetap dapat menggunakan media sederhana yang sesuai dengan materi. Hal terpenting adalah media tersebut dapat membantu siswa memahami pelajaran dan membuat mereka lebih tertarik mengikuti kegiatan pembelajaran.

Memahami Perbedaan Kemampuan Setiap Peserta Didik

Salah satu tantangan yang dihadapi guru dalam kegiatan pembelajaran adalah adanya perbedaan kemampuan dan karakteristik peserta didik. Berdasarkan informasi yang diperoleh, kelas VI-B memiliki 25 orang siswa dengan kemampuan belajar yang beragam. Ada siswa yang lebih cepat memahami materi, tetapi ada juga yang membutuhkan penjelasan dan pendampingan lebih lanjut.

Perbedaan tersebut membuat guru perlu memperhatikan kondisi setiap siswa ketika melaksanakan pembelajaran. Guru tidak dapat menggunakan satu cara yang sama untuk seluruh peserta didik karena setiap anak memiliki kebutuhan belajar yang berbeda.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menerapkan tutor sebaya, yaitu kegiatan belajar dengan melibatkan siswa untuk membantu teman yang mengalami kesulitan memahami materi. Selain itu, guru juga melakukan pendekatan yang lebih personal kepada siswa agar dapat mengetahui kesulitan yang mereka hadapi.

Menurut saya, cara tersebut merupakan langkah yang baik karena dapat membantu menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman. Siswa yang belum memahami materi bisa mendapatkan bantuan dari teman maupun guru. Sementara itu, siswa yang membantu temannya juga dapat melatih kemampuan berkomunikasi dan meningkatkan pemahamannya sendiri.

Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berfokus pada hasil akademik, tetapi juga mengembangkan sikap saling membantu dan kerja sama antarsiswa.

Evaluasi Tantangan dan Tantangan yang Dihadapi Guru

Dalam kegiatan pembelajaran, evaluasi menjadi bagian penting untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami materi yang telah dipelajari. Berdasarkan informasi dari guru dan dokumen pembelajaran, evaluasi dilakukan melalui asesmen formatif selama proses pembelajaran dan asesmen sumatif pada akhir pembelajaran atau melalui hasil proyek akhir.

Asesmen formatif dilakukan dengan memperhatikan keaktifan siswa, proses diskusi, kerja sama kelompok, serta hasil pengerjaan LKPD. Sementara itu, asesmen sumatif digunakan untuk mengetahui pencapaian pemahaman siswa setelah mengikuti pembelajaran.

Meskipun demikian, pelaksanaan pembelajaran masih memiliki beberapa tantangan. Salah satunya adalah perbedaan kemampuan siswa yang mengharuskan guru memberikan perhatian lebih kepada peserta didik tertentu. Selain itu, keterbatasan sarana dan prasarana juga menjadi hal yang perlu diperhatikan agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan lebih maksimal.

Guru juga menyampaikan pentingnya meningkatkan kualitas dan kompetensi tenaga pendidik melalui komunitas belajar serta kegiatan pelatihan, baik yang dilaksanakan di sekolah maupun di luar sekolah. Menurut saya, peningkatan kompetensi guru sangat diperlukan karena perkembangan pendidikan menuntut guru untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan peserta didik.

Guru tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi, tetapi juga perlu memiliki kreativitas dalam memilih metode, mengembangkan media, dan menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa.

Pembelajaran yang Baik Dimulai dari Memahami Kebutuhan Siswa

Melalui kegiatan observasi dan wawancara di SD Negeri Leuwigajah 5, saya mendapatkan pengalaman dan pemahaman baru mengenai bagaimana kurikulum diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah dasar. Penerapan Kurikulum Merdeka memberikan ruang bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih bervariasi dan memperhatikan kebutuhan peserta didik.

Penggunaan metode PBL, diskusi kelompok, permainan edukatif, kuis, serta media digital menunjukkan bahwa pembelajaran dapat dikembangkan menjadi kegiatan yang lebih menarik dan melibatkan siswa secara aktif. Selain itu, penerapan tutor sebaya dan pendekatan personal juga memperlihatkan bahwa guru perlu memahami perbedaan kemampuan setiap peserta didik.

Dari kegiatan ini, saya menyadari bahwa menjadi seorang guru bukan hanya tentang menguasai materi pelajaran, tetapi juga tentang bagaimana memahami karakteristik siswa, memilih cara mengajar yang tepat, dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Ke depannya, penerapan kurikulum di sekolah dasar perlu terus dikembangkan melalui peningkatan kemampuan guru, pemanfaatan media pembelajaran yang sesuai, serta dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Sebab, keberhasilan pendidikan bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak materi yang disampaikan, tetapi juga oleh bagaimana siswa dapat memahami, mengalami, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Ilmu Pendidikan, IKIP Siliwangi.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar