KtHx54QkBr383xDR2xK8jWF4FPsDN0wkvFCwXh9V
Bookmark

Di Balik Dokumen Kurikulum: Catatan dari Sebuah Kelas

Oleh: Sarah Fauzi*

Pernahkah kita berpikir mengapa siswa terkadang lebih mudah memahami pelajaran ketika guru memberikan contoh dari kehidupan sehari-hari dibandingkan ketika menjelaskan teori? Pertanyaan tersebut menjadi menarik ketika melihat secara langsung kegiatan pembelajaran di sekolah dasar. 

Di dalam kelas, kurikulum bukan sekadar dokumen yang berisi tujuan dan materi pembelajaran. Kurikulum diterjemahkan melalui cara guru mengajar, aktivitas yang dilakukan siswa, serta pengalaman yang menghubungkan pelajaran dengan kehidupan mereka.

Hal tersebut terlihat dalam kegiatan observasi pembelajaran Pendidikan Pancasila di kelas IV salah satu sekolah dasar yang berada di daerah Soreang. Materi yang dipelajari berkaitan dengan gotong royong, kerja sama di lingkungan sekitar, serta keberagaman suku dan sosial budaya. 

Selama kegiatan berlangsung, guru berusaha menghubungkan materi dengan pengalaman yang sudah dikenal siswa. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang bermakna tidak selalu harus mulai dari penjelasan panjang, tetapi dapat berangkat dari hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kurikulum Tidak Berhenti Pada Dokumen

Berdasarkan hasil wawancara, guru menjelaskan bahwa pelaksanaan kurikulum di sekolah berkaitan dengan Kurikulum Merdeka dan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP), yaitu dokumen kurikulum yang disusun sekolah dengan menyesuaikan kurikulum nasional pada kondisi dan kebutuhan siswanya. 

Dalam pelaksanaanya, guru menyesuaikan materi dan kegiatan belajar dengan keadaan siswa serta ketersediaan sarana dan prasarana. Guru juga berusaha mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari agar siswa lebih mudah memahami konsep yang dipelajari. 

Guru juga membandingkan pengalamannya ketika mengajar menggunakan kurikulum 2013 dengan pembelajaran yang diterapkan saat ini. Menurutnya, materi pembelajaran sekarang terasa lebih terarah dan lebih mudah dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa.

Perubahan tersebut dapat dilihat dari cara guru membahas gotong royong. Siswa tidak hanya diajak mengetahui pengertian gotong royong, tetapi juga menghubungkannya dengan kegiatan yang mereka lakukan, seperti membersihkan kelas bersama-sama. 

Sebelum pembelajaran dimulai, siswa memang memiliki kebiasaan membersihkan kelas terlebih dahulu. Kebiasaan tersebut menjadi contoh nyata bahwa kerja sama dapat ditemukan dalam kehidupan sekolah, bukan hanya dalam buku pelajaran.

Dalam konteks ini, penerapan kurikulum terlihat melalui upaya guru menjembatani materi dengan pengalaman siswa. Nilai gotong royong yang dipelajari dalam Pendidikan Pancasila menjadi lebih dekat ketika siswa dapat mengenali penerapannya di lingkungan mereka sendiri. 

Hal yang sama dilakukan ketika guru menghubungkan materi keberagaman dengan suku, budaya, dan kebiasaan masyarakat di sekitar siswa.

Meskipun demikian, keberhasilan penerapan kurikulum tidak cukup dinilai dari kesesuaian materi dengan dokumen pembelajaran. Hal yang penting juga adalah bagaimana siswa memahami materi dan mampu menghubungkannya dengan kehidupan mereka. 

Oleh karena itu, cara guru menyampaikan pelajaran dan respons siswa selama kegiatan berlangsung menjadi bagian penting untuk diperhatikan.

Pembelajaran yang Melibatkan Pengalaman Siswa

Kegiatan pembelajaran yang diamati diawali dengan kebiasaan siswa membersihkan kelas sebelum pelajaran dimulai. Setelah itu, guru membahas materi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa. 

Selama observasi, guru menggunakan metode diskusi dan tanya jawab dalam menyampaikan materi. Siswa memperoleh kesempatan untuk memberikan jawaban ketika guru mengajukan pertanyaan tentang materi yang sedang dibahas. Pertanyaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan isi pelajaran, tetapi juga mengarahkan siswa untuk mengingat pengalaman mereka sendiri.

Pendekatan ini membuat kegiatan belajar tidak hanya berisi penjelasan dari guru. Pengalaman siswa ikut menjadi bagian dari pembelajaran. Mengenai bentuk keterlibatan lainnya, selama pengamatan, keterlibatan siswa terutama terlihat ketika guru mengajukan pertanyaan dan siswa memberikan jawaban berdasarkan materi maupun pengalaman mereka. 

Catatan observasi tidak secara khusus menunjukkan adanya kegiatan kerja kelompok. Dengan demikian, bentuk keterlibatan yang paling tampak adalah melalui diskusi dan tanya jawab yang dipandu guru.

Dari kegiatan tersebut, terlihat bahwa pengalaman sehari-hari dapat menjadi jembatan untuk memahami konsep yang lebih luas. Siswa memiliki kesempatan untuk menyadari bahwa materi Pendidikan Pancasila bukan hanya sesuatu yang harus dihafalkan, melainkan juga berkaitan dengan perilaku dan kehidupan sosial mereka.

Setelah penjelasan materi, guru mengajukan pertanyaan untuk mengulas kembali materi yang telah dibahas, terutama mengenai perbedaan keberagaman budaya. Siswa diminta menjawab berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan. Guru juga mengajak siswa melakukan refleksi dengan menanyakan kembali isi pembelajaran. 

Dalam catatan observasi, tidak terdapat informasi mengenai pemberian pekerjaan rumah.

Namun, keterlibatan siswa tidak selalu berarti semua siswa telah memahami materi dengan baik. Ketika guru meminta mereka menjelaskan kembali pembelajaran yang sudah disampaikan, terlihat adanya perbedaan kemampuan. 

Beberapa siswa mampu memberikan jawaban, sedangkan siswa lainnya masih kebingungan. Temuan ini memperlihatkan bahwa keaktifan dalam kegiatan kelas dan pemahaman terhadap materi merupakan dua hal yang perlu diperhatikan secara bersamaan.

Guru menyadari bahwa siswa memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam wawancara, guru menjelaskan bahwa dirinya biasanya memeriksa pemahaman siswa melalui pertanyaan atau soal sederhana sebelum melanjutkan materi. 

Apabila siswa belum menguasai materi sebelumnya, guru memilih untuk mengulang pembahasan terlebih dahulu. Cara ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran perlu mengikuti perkembangan pemahaman siswa, bukan semata-mata mengejar penyelesaian materi.

Perencanaan dan Penyesuaian Cara Mengajar

Pembelajaran yang berlangsung di kelas juga berkaitan dengan persiapan guru sebelum mengajar. Berdasarkan wawancara, guru biasanya memeriksa materi yang akan diajarkan pada hari berikutnya. Ia juga mempertimbangkan penguasaan siswa terhadap materi sebelumnya sebelum menentukan apakah pembelajaran dapat dilanjutkan.

Dalam menyiapkan kegiatan belajar, guru terkadang mencari bahan atau lembar kerja peserta didik (LKPD) dari berbagai sumber di internet dan media sosial, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa. Guru tidak langsung menggunakan semua bahan yang ditemukan, tetapi melakukan perubahan agar sesuai dengan keadaan kelas serta sarana dan prasarana yang tersedia.

Guru juga menyampaikan bahwa ia pernah mengikuti kegiatan pengembangan kemampuan, seperti lokakarya, peer teaching, dan evaluasi atau observasi bersama pengawas. Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk menambah wawasan mengenai pelaksanaan pembelajaran.

Dalam praktiknya, guru tidak selalu menggunakan satu metode untuk semua materi. Selain diskusi dan tanya jawab yang diamati secara langsung, guru menjelaskan bahwa ia juga menerapkan pembelajaran berbasis proyek atau Project-Based Learning (PJBL) dan pembelajaran berbasis masalah atau Problem-Based Learning (PBL), bergantung pada materi serta kemampuan siswa. 

Informasi ini berasal dari wawancara, sehingga tidak berarti kedua metode tersebut digunakan dalam pembelajaran yang diamati saat kunjungan.

Menurut saya, penyesuaian tersebut merupakan bagian penting dari pekerjaan guru. Rencana pembelajaran memang dibutuhkan sebagai pedoman, tetapi pelaksanaannya perlu mempertimbangkan kondisi nyata di kelas. Ketika siswa belum memahami materi atau sarana yang direncanakan tidak tersedia, guru perlu menentukan alternatif agar tujuan pembelajaran tetap dapat diupayakan.

Media Pembelajaran dan Tantangan di Sekolah

Selama kegiatan observasi, media yang terlihat digunakan secara langsung meliputi buku paket dan papan tulis. Guru juga memanfaatkan gambar pahlawan sebagai bahan pendukung pembelajaran. Gambar tersebut tampak digunakan untuk melengkapi penyampaian materi, meskipun catatan observasi tidak menjelaskan secara khusus hubungan gambar dengan submateri gotong royong atau keberagaman. 

Media tersebut membantu penyampaian materi, sementara diskusi dan tanya jawab memberi kesempatan kepada siswa untuk merespons penjelasan guru.

Dalam wawancara, guru menjelaskan bahwa dirinya juga menggunakan papan interaktif digital (PID). Akan tetapi, perangkat tersebut hanya tersedia satu untuk digunakan bersama oleh beberapa kelas. Ketika PID sedang digunakan oleh kelas lain, guru harus mencari cara lain untuk melaksanakan pembelajaran. 

Salah satu upayanya adalah mencari referensi atau aktivitas alternatif melalui internet dan berdiskusi dengan rekan guru yang lebih berpengalaman.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pemanfaatan teknologi pembelajaran tidak hanya bergantung pada kreativitas guru. Ketersediaan fasilitas juga menentukan apakah media tertentu dapat digunakan sesuai rencana. Teknologi digital memang dapat memperkaya kegiatan belajar, tetapi pembelajaran tetap dapat berlangsung melalui media sederhana apabila penggunaannya direncanakan dengan baik.

Selain keterbatasan sarana, guru menyampaikan bahwa konsentrasi siswa masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Guru merasa perhatian sebagian siswa terkadang teralihkan oleh pembicaraan mengenai program makan bergizi gratis (MBG). Ketika siswa mulai terlihat bosan atau mengantuk, guru melakukan peregangan atau kegiatan ice breaking untuk membantu mengembalikan perhatian mereka.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan pembelajaran tidak hanya berasal dari materi yang sulit atau terbatasnya media. Menjaga perhatian siswa juga menjadi bagian dari upaya guru dalam menciptakan pembelajaran yang berjalan dengan baik. Karena itu, guru perlu memadukan penyampaian materi, interaksi, dan kegiatan yang sesuai dengan kondisi siswa.

Apa yang Bisa Diperbaiki?

Dari hasil observasi dan wawancara, terdapat beberapa hal yang dapat menjadi perhatian untuk pengembangan pembelajaran. 

Pertama, guru dapat terus menghubungkan materi dengan pengalaman siswa, karena cara tersebut terlihat dalam pembelajaran yang diamati. 

Kedua, perbedaan pemahaman siswa perlu ditindaklanjuti dengan pertanyaan, pengulangan penjelasan, atau kegiatan tambahan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. 

Ketiga, sekolah perlu memperhatikan ketersediaan sarana agar penggunaan media pembelajaran dapat direncanakan dengan lebih baik.

Keterlibatan siswa juga perlu dilihat lebih jauh daripada sekadar kesediaan menjawab pertanyaan. Guru dapat memberikan kesempatan kepada lebih banyak siswa untuk menyampaikan pendapat, menjelaskan kembali materi dengan kata-kata sendiri, atau bekerja sama dalam kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. 

Dengan begitu, guru memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai pemahaman siswa, termasuk mereka yang belum berani atau belum mampu memberikan jawaban.

Tentu saja, upaya tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab guru. Dukungan sekolah, ketersediaan fasilitas, dan kerja sama antarguru dapat membantu pelaksanaan pembelajaran. Guru sendiri berharap sekolah dapat memenuhi kebutuhan siswa. Harapan tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan kualitas Pendidikan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Belajar dari Apa yang Terjadi di Kelas

Observasi ini memberikan pemahaman bahwa penerapan kurikulum disekolah dasar dapat dilihat melalui berbagai kegiatan sederhana. Siswa membersihkan kelas, guru mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari, diskusi berlangsung, dan pertanyaan diajukan untuk memeriksa pemahaman. 

Dari kegiatan tersebut, terlihat bahwa kurikulum menjadi nyata ketika diterapkan dalam interaksi antara guru, siswa, materi, dan lingkungan belajar.

Pengalaman ini juga mengingatkan bahwa setiap kelas memiliki kondisi yang berbeda. Guru perlu menyesuaikan rencana dengan kemampuan siswa, memilih media yang tersedia, serta mencari alternatif ketika menghadapi kendala. 

Pada saat yang sama, pemahaman siswa perlu diperhatikan agar pembelajaran tidak hanya selesai disampaikan, tetapi juga benar-benar dipahami.

Pada akhirnya, pembelajaran yang baik bukan semata-mata ditentukan oleh banyaknya teknologi atau metode yang digunakan. Hal yang lebih mendasar adalah bagimana guru membantu siswa memahami materi dan menemukan hubungannya dengan kehidupan nyata. 

Kurikulum mungkin tertulis dalam dokumen, tetapi maknanya dapat terlihat ketika siswa mulai memahami nilai gotong royong, menghargai keberagaman, dan menerapkan pengetahuan yang dipelajari dalam keseharian mereka. 

Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Pendidikan Dasar dan Matematika, IKIP Siliwangi.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar